Ketik untuk memulai pencarian

Umpan Rezeki di Era Teknologi dan Informasi

Umpan Rezeki di Era Teknologi dan Informasi

Foto: commons.wikimedia.org

Siapa yang tak kenal media sosial seperti Facebook, Youtube dan Twitter. Bahkan penulis yakin pembaca tulisan ini sebagian besar sangat mengenal atau familiar dengan media sosial. Kehadiran media sosial menjadi sebuah ruang publik tersendiri bagi perkembangan sosial di era global.

Di ruang publik media sosial para pengguna dapat melakukan aktivitas layaknya bersosialisasi di dunia nyata. Namun seperti halnya teknologi yang lain, sistem selalu memiliki sebuah kelemahan. Sistem dengan menggunakan teknologi sebagai media membuat norma-norma sosial yang ada di publik sebagian besar hilang ketika masuk ranah ruang sosial media sosial. Sehingga salah satu dampaknya adalah tidak adanya filter dalam melakukan pertukaran informasi.

Pertukaran informasi di media sosial secara pasti tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaran sepenuhnya, karena keafsahan dari informasi dapat diberikan tanpa adanya konfirmasi dari objek yang bersangkutan. Hal ini dapat dimanfaatkan seperti halnya pisau bermata dua dimana informasi dapat dengan mudah dibuat dengan cepat, sehingga penyebaran informasi bisa lebih mudah dan cepat.

Namun di sisi lain kemudahan ini menjadi sebuah senjata bagi mereka yang ingin menyebar informasi yang tidak tepat. Dengan mudah memberikan sebuah informasi baik maupun buruk dan informasi yang luar biasa tentu akan dengan mudah menyebar. Dengan Konsekuensi dari adanya kemudahan akses dan pertukaran informasi akan berdampak pada psikologis dan sosiologis masyarakat.

Follow Qureta Now!

Menyadari bahwa media sosial dapat mempengaruhi psikologis dan sosiologis, ada sebagian pihak yang memanfaatkan situasi ini dengan membuat informasi-informasi yang dapat menguntungkan salah satu pihak.

Dengan kehadiran sosial media, seperti Facebook dan Twitter, partisipasi politik masyarakat khususnya kaum muda dalam mengakkses informasi melalui internet meningkat pesat. Sebagian ahli sampai pada kesimpulan bahwa media baru membawa dampak yang siginifikan terhadap perkembangan demokrasi di Indonesia.

Terdapat sebuah konsep dengan istilah Cyberdemokrasi yang merupakan sebuah konsep yang melihat Internet sebagai teknologi yang memiliki pengaruh sosial transformatif dan memperluas partisipasi demokrasi. Menurut John Hartley, Cyberdemokrasi adalah sebuah konsep optimis yang muncul sejak awal-awal kehadiran internet. Asal mula konsep ini berkaitan dengan konsep awal dari “electronic democracy”.

Dengan adanya tujuan lain di media sosial atau dapat dikategorikan sebagai iklan karena iklan secara harfiah kata iklan berasal dari bahasa Yunani, yang artinya adalah upaya menggiring orang pada gagasan. Adapun pengertian secara komprehensif (luas) iklan adalah semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang ataupun jasa secara nonpersonal melalui media yang dibayar oleh sponsor tertentu.

Iklan ditujukan untuk memengaruhi perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap, pendapat, pemikiran dan citra konsumen yang berkaitan dengan suatu produk atau merek.

Karena pengaruhnya yang cukup besar, iklan menjadi sebuah ladang bisnis yang cukup besar. Sebuah raksasa teknologi di dunia, Google .inc menawarkan sebuah program dengan nama adsense dimana siapa saja pelaku internet yang mau menyimpan iklan-iklan yang disimpan di perusahaan Google. Jumlah bayaran yang cukup fantastis menjadi banyak yang tertarik dengan adanya sistem pembayaran itu.

Kelemahan dari sistem adsense adalah diharuskan membuat website dengan jumlah pengunjung yang cukup banyak. Sehingga untuk para pemula cukup sulit untuk membuat sebuah website yang mampu memiliki jumlah pengunjung yang banyak. Banyak yang mengambil jalan pintas dengan memuat informasi-informasi yang sedang marak dibaca oleh masyarakat luas.

Salah satunya adalah informasi politik atau kampanye politik. Kampanye politik tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh media massa, baik media cetak maupun elektronik. Sehingga dimanfaatkan oleh para praktisi internet untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Tak jarang seorang yang memiliki keilmuan lebih di bidang internet marketing diminta untuk membuatkan sebuah website dengan memuat informasi berita-berita yang menguntungkan salah satu pihak atau kadang menjelekkan pihak lain. Orang tersebut dapat bayaran dari peminta atau pihak politisi dan dapat bayaran dari iklan Google.

Dengan diketahui bahwa informasi di media sosial adalah tidak dapat dipercayai 100% karena masih banyak informasi yang tidak difilter, maka diharapkan para pembaca bijak dalam melakukan pencarian informasi di media sosial.

ifaz fachrul hindami

Mahasiswa Teknik Telekomunikasi

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016