17374.jpg
https://goo.gl/mEspv6
Cerpen · 3 menit baca

Tuhan, Kucing dan Aku


Ramainya suara serangga sedikt pun tidak menenggelamkan sepi, malah membuatku semakin tenggelam dalam lamunanku tentang apa yang terjadi padamu saat ini. selain sawah sejauh mata memandang, aku melihat kucing belang hitam putih mendekatiku dengan terseok-seok. Mungkin sedang terluka. Aku menghampirinya, mencoba memeriksa kaki-kaki yang terlihat sudah tidak kokoh lagi. Sepertinya dia baru disiksa majikannya, gara-gara mencuri atau apa, pikirku. Nasibku dan kucing ini tidak jauh beda, sama-sama terluka akibat majikannya, sama-sama terluka akibat mencuri apa yang tidak kami ketahui.

Terasa baru kemarin saja aku berpisah dengan pacarku. Kini dia sudah menikah. Sebenarnya bukan kehendak kami untuk mengahiri hubungan. Masalah benar-benar runyam saat itu. Pasangan hidup yang kukira dapat ku pilih sendiri sebagai hak individu, kini sudah tidak lagi, pasangan hidup ditentukan oleh penilaian masyarakat. Bagi mereka tidak ada ruang bagi pasangan yang berbeda agama, begitu menurutku.Meski terlalu berlebihan sikap mereka seolah  menganggap lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan golongan di luar mereka.

Sekarang sudah jelas, aku dan kucing ini tidak ada bedanya. Dia mencuri ikan yang menurut insting hewaniyahnya adalah makanan yang disediakan tuannya, dan aku mencuri hati seorang wanita yang mencintaiku dari Tuhannya. Aku sempat berpikir begitu: “semanusiakah itu Engkau, Tuhan?”. Sungguh, bukan aku yang memulai membangun mindset seperti ini. Aku kira akan lucu jika benar seperti itu. Tuhan akan resah disetiap malamnya hanya karena makhluknya saling mencintai.

Apakah engkau akan menyiksaku layaknya kucing itu disiksa tuannya?

Apakah tidak ada lagi semesta yang mau menampung cinta seperti ini

Atau Engkau ketakutan hanya karena Hambamu saling mencintai

Jika cintaku ini terlarang kenapa Kau bangun megah rasa ini dalam sukmaku

Aku tengadah dibawah tiang listrik yang seolah mencabik langit. Ahh.. Tuhan kasihanilah aku dan kucing ini karena gerak hati yang engkau beri. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti yang disangkakan orang banyak kepadaku, aku hanya mengikuti naluriku, naluri sebagai makhluk yang memiliki rasa cinta. Bahkan dalam mencintainya aku mengkiuti aturan-aturanMu, menggandengnya saja belum pernah apalagi menciumnya. Aku cukup bahagia meski sekedar melihat matanya saja.

***

Saat kembali kuperiksa kaki-kaki kucing malang itu, ternyata benar dugaanku, satu kaki depannya patah dan mungkin tidak bisa berfungsi normal kembali. Dia sangat kesakitan saat kupegangi. Seperti tidak ada semangat hidup lagi. Terlihat dari sorot matanya yang lemah, sayu. Bagi kucing untuk apa hidup jika kakinya sudah tidak sempurna lagi. Untuk apa hidup jika tidak mampu mengejar tikus kembali, begitu kira-kira. Sepertinya aku ingin membantunya untuk mati dengan tenang tanpa kesakitan dan siksaan. Tidak. Kucing itu mungkin akan hidup lebih baik suatu saat atau menemukan majikan yang akan menyayanginya apapun yang ia lakukan. Separah apapun luka, mereka masih punya hak untuk nasib-nasib selanjutnya. Ku pikir begitu lebih baik.

Langit sudah kemuning, matahari dan hujan mulai mengering. Entah siapa yang salah, semua terjadi begitu saja, tanpa jeda, hilang dan lenyap tanpa sisa. Waktunya pulang dan berhenti berburuk sangka kepada Tuhan. Mungkin saja Tuhan menciptakan pagar-pagar  karena sudah dipersiapkan pintu yang boleh kapan saja dilalui. Ya, tugas pagar hanya sekerdar membuat pintu merasa ada. Bukan memberi sekat yang tidak mungkin dilewati. Tapi apakah itu berlaku pada kucing yang mencuri makanan?. Iya. dengan begitu kucing mengetahui mana yang benar-benar makanannya. Tidak adil.

Paradoks memang, di satu sisi aku menerima dalam posisiku sebagai umat beragama disuatu kelompok masyarakat.  Disisi lain ada yang memberontak karena posisinya sebagai individu yang merdeka. Apalagi persoalan mencintai, bukankah hal satu ini tidak bisa direka-reka.

“lalu harus bagaimana lagi Tuhan, apakah  kehendakMu ditentukan oleh kesepakatan sosial”, aku hanya bersoliloquy dan berharap Tuhan sendiri yang akan menjawabnya.

Aku bukanlah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa seperti yang dinyanyikan Frau. Tidak terlalu mampu untuk melakukan ituAku hanya ingin mereka yang telah meninggalkan semesta asalnya untuk pulang kembali dan mendirikan bendera-bendera tentang kemerdekaan bercinta.

Sekarang sudah kututup surat terakhir darimu, sepertinya kau kini sudah menerima dan hidup bahagia. Tapi belum bagiku. Aku masih sering membuka lembar-lembar lama lalu meratapinya untuk sekedar menyesali, menangisi atau menggerutu pada takdir Tuhan. Kau memang dari dulu punya bakat melitpat, seperti melipat surat ini menjadi bentuk hati, juga melipat hatiku menjadi bentuk surat yang tidak pernah siap untuk dikirimkan. Dikirim kemana?, entah, aku juga mulai kehilangan alamatnya. Sebelum kusimpan surat ini, aku pejamkan mata dan berharap kulihat dirimu kembali saat aku terjaga nanti. Cukup sekali saja. Sebelum selamanya.

Aku akan membalas suratmu minggu depan, dihari ulang tahunmu. Masih seperti dulu suratku akan kuberi gambar teratai, bunga yang sering kita lihat bersama dahulu, bunga yang tidak jelas milik samudera atau udara.