29945.jpg
google
Budaya · 2 menit baca

Tantangan Para Kartini Di Era Digital

Raden Ajeng Kartini atau dikenal sebagai R.A Kartini, beliau dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang dikenal gigih memperjuangkan emansipasi wanita. Tanpa perjuangannya wanita di Indonesia tidak akan bisa menikmati pendidikan dan kesetaraan hak dengan kaum pria. Beliau dikenal sebagai wanita yang cerdas di zamanya, ketertarikannya dalam membaca membuat beliau memiliki pengetahuan yang cukup luas soal ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Hal ini lah yang membuat R.A Kartini  memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita dengan melihat perbandingan antara wanita Eropa dengan wanita pribumi. Selain itu ia juga menaruh perhatian pada masalah sosial, menurutnya seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum.

Setiap tanggal 21 April di Indonesia diperingatilah hari lahir R.A Kartini, untuk mengenang jasa-jasa beliau terutama kepada wanita di Indonesia, sebab karena beliaulah wanita Indonesia bisa memperoleh permsamaan hak hingga detik ini. Lalu akankah wanita pada era digita ini dapat mengikuti jejak beliau dan memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara ini ?.

Pada era digital ini informasi sangat mudah di akses, bahkan cendrung tidak bisa dibendung, semua orang pada era ini bebas dalam mengekspresikan diri mereka. Serta pengaruh paham dan budaya asing terus masuk ke Indonesia akibat kecanggihan teknologi. Tentunya hal tersebut merupakan tantangan para Kartini pada saat ini, lalu apakah emansipasi dan persamaan hak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Kartini di era digital ini, khususnya para pemuda-pemudi.

Untuk menjawab hal diatas kita perlu melihat keadaan kehidupan sosial sekarang ini, akhir-akhir ini kita melihat fenomena di media sosial (youtube) seorang remaja putri dengan bangganya memamerkan busana dan gaya hidup western (budaya barat). Celakanya video-video tersebut banyak di tonton oleh remaja-remaja di Indonesia yang menganut budaya dan norma sopan santun (adat ketimuran), bahkan banyak diantara remaja-remaja ini yang mengganggap hal tersebut sebagai panutan mereka dalam kehidupan sehari-hari. 

Apabila hal ini terjadi makan akan rusak generasi bangsa. Apakah kita mau penerus bangsa kita tidak memiliki norma dalam kehidupannya ?, lalu bagaimana nasib R.A Kartini yang sudah bersusah payah dalam mencetuskan emansipasi untuk kalangan wanita ?.

Oleh sebab itu untuk menghindari peristiwa tersebut terjadi pada penerus bangsa kita maka, diperlukan peran dari berbagai golongan pihak mulai dari pemerintah dan berbagai elemen masyarakat khususnya peran orang tua dalam mendidik anak. Kita seharusnya tidak hanya memaknai tanggal 21 April ini sebagai selebrasi atau perayaan emansipasi wanita saja, tetapi harus terus melakukan proteksi dan peningkatan daya kritis pada generasi penerus bangsa ini supaya tidak terkontaminasi hal-hal yang bisa mengancam generasi penerus bangsa.Dan hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara Indonesia.