23965.jpg
http://www.jendelasastra.com
Puisi · 1 menit baca

Syair Kenangan Perempuan Desa

Surau Hitam

Senja, kala itu

Kini hadirmu dalam bisu

Menyaksikan

Surau kami tiada lagi

Jerit-tawa dahulu

Hanyalah sementara

Serpihan-serpihan asa

Hanya seikat cita, menantimu

Surau hitam kami.


Ibu

Legam hitam, saksi kehidupan

Merajut dan meminang asa

Tangan, kaki, tubuh

Hingga tak kuasa

Rambut memutih, kulit mengkerut

Perjuangan tak pernah sirna

Sampai maut, menjemput

Kau tetap ada

Di hati, Ibu


Gubug Tua

Auramu sungguh menggoda

Lekukan tubuhmu, nuansa keindahan

Di kala mereka ada,

Meramaikanmu, merawatmu,

Dengan penuh cinta.

Dan kini,

Hilang….. hilang…. Hilang

Pergi tak berjejak

Kepekaan menjadi tanpa,

Kau ini apa?

Kau ini milik siapa?

Menjadi hilang aura indahmu

Kekosonganmu, diamu, di sudut sana

Tak berdaya, tak bernyawa

inilah dirimu,

Gubug Tua

Tak berpenghuni, tak bersua


Hijab Tak Bersayap (1)

Hijabku…….

Sucimu menjagaku

Lilitan lembut sentuhanmu mengikat leher,

Menjaga hitamnya mahkotaku

Memberikan kecantikan menawan,

Pada paras ini…

Hijabku…..

Auraumu semangatku

Menjadi perempuan tangguh

Hadapi nista-nista dunia

Fitnah, syirik, ghadab

Hijabku…

Aku tetap padamu

Menjagamu, merawatmu, dari kejamnya dunia

Meski dunia menolak,

Restu langit dalam genggaman

Meniti asa dibalik kejamnya dunia


Hijab Tak Bersayap (2)

Perempuan….

Per___empu___an,  tumpuan beban

Hilang paruhmu, hilang sayapmu

Dulu, kini, dan nanti

Stereotype mengajar tubuhmu,

Memintamu ini dan itu,

Hingga duniamu, hanyalah boneka

Boneka tak berkaki, tak bertangan

Perempuan….

Islam, dan cantikmu satu

Langkah, titianmu berpola indah

Gamis panjang, hijab menawan

Menjagamu

Perempuan,…….

Taring dunia menjegal hijabmu

Budak kehidupan mengaturmu

Semoga iman menjagamu,

Hijab tak bersayap


Semarang, 2017