36897Freeport 3.JPG.jpg
Dokumentasi IPFest 2016 dari Filantropi Indonesia
Politik · 4 menit baca

Stereotip Etnis Adalah Akar Konflik bagi Papua
Menggali faktor penghambat interaksi sosial antara masyarakat Papua dengan etnis lainnya

Pada era yang dianggap modern ini karena perkembangan teknologi yang jauh lebih maju, nyatanya tidak sejalan dengan perubahan pola pikir manusianya. Nampak dari masih dipertahankannya sikap diskriminasi terhadap etnis tertentu.

Beberapa abad yang lalu, bahkan hingga kini, stereotip bahwa bangsa kulit putih lebih superior dari bangsa kulit hitam masih menjadi panutan. Sesuatu yang wajar bahwa jika kulit hitam menjadi budak kulit putih. Pada masa lampau, Amerika Serikat juga menerapkan pardigma ini di mana masyarakat kulit hitam, yaitu negro sebagai warga negara mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan masyarakat kulit putih.

Bahkan pada 1856, di negara tersebut berdiri Ku Klux Khan, sebuah organisasi ekstremis yang bertujuan untuk memusnahkan bangsa kulit hitam di negara tersebut. Tidak jarang tindakan mereka sadis dan berani untuk membunuh. Organisasi ini mulai turun pamor mulai tahun 1960 ketika pemerintah setempat mulai menyamakan hak-hak sipil orang negro dengan warga negara lainnya. Kini dikabarkan organisasi ini mulai bangkit kembali.

Hampir serupa dengan yang terjadi di Amerika, nyatanya hingga sekarang, di Indonesia diskriminasi yang mengarah pada penghinaan etnis tertentu masih saja sering terjadi. Bahkan penghinaan tersebut telah mengarah pada stereotip yang didasarkan hanya dari penampilan fisik.

Sebagai negara yang selalu bangga berslogan menjunjung tinggi kebinekaan, Indonesia masih dikatakan belum bisa menerima perbedaan warna kulit orang Papua.

Biasanya hal yang terekam dalam memori banyak orang ketika membicarakan Papua untuk pertama kalinya adalah kulit hitam dan rambut kriting yang diartikan sebagai sesuatu yang jelek. Stereotip yang telah dibentuk sedemikian rupa yang mengakibatkan frekuensi interaksi sosial yang rendah antara masyarakat papua dengan etnis lainnya.

Hal ini juga diperparah dengan ketertinggalan pembangunan di tanah Papua yang semakin mempertajam opini adanya diskriminasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses integrasi wilayah Papua ke dalam tubuh NKRI berbeda dengan wilayah lainnya. Semenjak peristiwa referendrum papua tahun 1969 hingga sekarang masih saja mengemuka isu keabsahan integrasi Papua. Beberapa negara bahkan secara terang – terangan menyatakan bahwa terdapat pemaksaan penyatuan wilayah Papua ke dalam NKRI. Indonesia dinilai melakukan penjajahan serta eksploitasi di tanah Papua.

Tanah Papua terkenal akan sumber daya alamnya yang bernilai sangat mahal, baik yang berada di permukaan maupun yang berada di dalam tanah. Berdirinya PT. Freport semakin mengukuhkan pentingnya Papua dalam dunia bisnis.

Menjadi sebuah pertanyaan, dengan kondisi masyarakat Papua yang masih jauh dari kata kemajuan dan seandainya tanah Papua tidak kaya akan sumber daya alam, apakah pemerintah dan masyarakat Indonesia masih tetap bersikeras ingin mempertahankan Papua ke dalam bagian keintergalan bangsa Indonesia.

Mengkritisi cara pemerintah era Orde Baru yang menggunakan pendekatan militer terhadap masyarakat Papua, cara ini tidak berhasil, hanya menimbulkan ketakutan bagi masyarakat setempat. Mengapa harus menaruh begitu banyak pasukan militer di Papua. Apakah tanah Papua adalah area perang atau orang Papua adalah pejahat.

Jika alasannya adalah untuk menumpas atau meminimalkan gerakan separatis, maka harus disadari bahwa nasionalisme atau kecintaan terhadap bangsa timbul bukan karena paksaan. Dengan demikian maka terlebih dahulu harus membangkitkan kesadaran keindonesian di dalam hati orang Papua.

Memang sebagai warga negara Indonesia, adalah hal wajar jika bersikap kekeuh untuk mempertahankan Papua sebagai bagian keintegralan. Tapi, ada konsekuensi yang harus dilakukan.

Dari segi birokrasi dan pemerintahan, mereka harus mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dengan penduduk di wilayah lainnya. Sementara, juga harus diubah sikap serta pandangan etnis lainnya terhadap orang Papua.

Pradigma bahwa tradisi hidup orang Papua dianggap kuno, tertingggal, tidak sesuai norma yang berlaku, menyeramkan, sering kali membuat mereka dikasiani bahkan tidak jarang dihina. Mencintai Papua berarti harus dapat menerima seutuhnya seluruh budaya, manusia, dan alam Papua.

Apabila ingin Papua bermatabat, maka berikan fasilitas dan akses pendidikan, kesehatan, dan trasnportasi yang layak, bukannya malah menjadikan kekurangan yang mereka miliki menjadi sebuah intermezo.

Memang permasalahan di Papua belum menjadi konflik kemanusian. Meskipun demikian, bisa saja hal tersebut terjadi pada masa depan. Berawal dari rasa terabaikan, iri, cemburu dan merasa direndahkan akan dapat menimbulkan rasa kemarahan dalam diri masyarakat Papua yang akan memupuk akar agar semakin kuat melakukan perlawanan dalam kapasitas besar.

Di sisi lain, pemerintah yang berupaya mempertahankan keintergalan dapat saja melakukan tindakan militer lebih keras di sana yang mungkin saja akan melanggar HAM.

Kembali belajar dari pengalaman di Amerika Serikat, meskipun masyarakatnya masih belum dapat sepenuhnya berbaur, tetapi dalam segi pemerintahan orang kulit hitam telah dapat diterima. Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya seorang keturunan kulit hitam menjadi presiden, memimpin selama dua periode.

Sedangkan di Indonesia, hal tersebut masih belum dapat terjadi. Hanya mereka yang berasal dari etnis Melayu yang diberikan kesempatan besar untuk dapat menjadi pemimpin.

Untuk mencegah timbulnya konflik di Papua, dapat diawali dengan memperbaiki interaksi sosial dengan kesediaan seluruh masyarakat untuk menghilangkan stigma negatif orang Papua. Beberapa waktu yang lalu, ada keluhan dari para anak muda di Papua yang menuntut ilmu di Yogyakarta, bahwa mereka kesulitan mendapatkan tempat tinggal sementara atau “kost”.

Ada anggapan bahwa anak Papua suka mabuk membuat para pemilik kost menolak mereka karena takut. Tindakan segelintir anak Papua ini telah semakin memburuk interaksi sosial. Meskipun demikian tindakan para pemilik kost untuk mengenalisasikan semua anak Papua memiliki perilaku yang sama tidaklah benar.

Penyesuaian diri antara kedua belah pihak sangat diperlukan dalam interkasi sosial ini. Adanya interaksi serta komunikasi yang baik akan dapat tercipta keterbukaan budaya.

Saling mengenal lebih dekat satu sama lainnya akan membuat terbangunnya suatu kenyamanan bersama. Dengan demikian konflik akan dapat terhindarkan. Inilah cara yang bermatrabat untuk mempertahankan keintergalan bangsa.