funnycat_cheshirecat_by_timburton.jpg
Cheshire Cat dari Alice in Wonderland (dir. Tim Burton, 2010)
Politik · 2 menit baca

Sidang di Negeri Ajaib

Waktu kami membaca Alice di Negeri Ajaib, kebetulan televisi sedang menyiarkan sidang gubernur Jakarta. Keponakan saya yang berumur tiga tahun kerap tahu kata-kata yang digunakan orang dewasa, termasuk kata "keadilan". Terkadang dia belum mengerti artinya.

Dunianya terletak di Yogyakarta. Di sana ada Gunung Merapi yang bisa dia pandang setiap pagi ketika horison tidak tersaput kabut asap. Ada juga Jalan Malioboro dengan toko Mirota, di mana dia memilih kain batik untuk saya; warna yang paling disukainya adalah hijau yang membuat saya tampak seperti Nyai Roro Kidul, menurut ibunya, atau seperti ganggang laut — menurut dia sendiri.

Bagian dari dunianya adalah masjid dengan ibu-ibu yang pakai kain di kepala dan selalu mengajaknya bermain. Ada juga Om Penjual Sate yang galak ketika dipanggil dalam bahasa Indonesia dan hanya boleh disapa dalam basa Jawa saja.

Bagi saya, dunia itu ajiab. Bagi dia, yang ajaib adalah dunia saya di Jakarta atau Polandia. Keduanya sama-sama jauh dan menakjubkan.

Waktu itu, di Negeri Ajaib Jakarta sedang berlangsung pengadilan yang menarik perhatian lebih banyak penonton daripada festival teater beberapa bulan lalu.

Saya masih bingung bagaimana di negara demokratis seseorang bisa dituntut dengan tuduhan yang aneh-aneh dan aparat hukum tidak malu melayani prosesnya, tapi jauh lebih mengherankan adalah kemiripannya dengan pertunjukan besar, pameran memvonis.

Dalam kasus sang gubernur, keponakan saya melihat pengadilan di negeri ajaib; bukan hanya karena, baginya, Jakarta itu wilayah ajaib, tapi karena keserupaan sidangnya dengan pengalaman Alice di buku Lewis Carroll.

Cerita Carroll, saya rasa, dipenuhi kerinduan akan keadilan yang selalu dijawab — oleh dan untuk semua pihak yang terlibat — dengan aniaya.

Keadilan di negeri ajaib berdasarkan tiga hal: kemarahan, persidangan dan vonis. Di sana tidak ada keadilan tanpa terpidana dan hukuman kejam baginya. Tidak mungkin seorang jaksa keliru atau si terdakwa tidak bersalah. Semua anak berumur tiga tahun tahu bahwa yang terdakwa harus berdosa besar, sebab kalau dia tidak berdosa, tidak mungkin ada pengadilan. Jelas.

Alice di Negeri Ajaib sering ditafsirkan sebagai gambaran dunia orang dewasa di mata anak-anak; orang dewasa yang suka marah, suka menghakimi, menguasai, melukai yang lebih kecil atau lebih lemah dari mereka sendiri. Keadlian di sana adalah proses memuaskan dan mensahkan kemarahan.

Contoh keadilan-bukan-keadilan yang paling mencolok di buku itu diungkapkan melalui sajak berbentuk buntut curut. Curut diadili si kucing pemarah yang ingin memvonisnya. Semakin lama, semakin kecil hurufnya, semakin tipis ekornya, semakin tidak adil keadilannya.

Dalam terjemahan yang agak bebas, ceritanya kira-kira begini:


Anak berumur tiga tahun tertawa mendengarnya; keadilan adalah sebuah candaan, buntut curut berirama. Sangat menyenangkan.

Ketika televisi menyiarkan sidang di Jakarta, dia tahu itu salah satu pengadilan dari kisah Alice. Saya tidak mampu membantahnya. Belakangan terlalu sering mahkamah menjadi studio reality show.

Saya tidak tahu kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepada anak kecil bahwa keadilan justru bukan jalur untuk mengeluarkan kemarahan siapa pun. Barangkali ia lebih dekat duka daripada amarah. Ia juga bukan panggung yang bisa dimanfaatkan para aktor untuk menjadi pusat perhatian.

Keadilan yang dialami Alice adalah bukan-keadilan, meskipun contoh-contoh dari dunia orang dewasa membuat kenyataan itu susah diterima.

Saya hanya bisa membisiki anak itu: "Orang dewasa terkadang lupa bahwa mereka sudah lama terusir dari negeri ajaib".