61918Bataks_in_north_sumatra.svg.png.jpg
https://en.wikipedia.org/wiki/Batak
Budaya · 5 menit baca

Siapakah Batak?

Saya berasal dari suku Karo, bukan Batak. Dan panggilan kami Mejuah-juah dan bukan Horas.

Siapa sangka, ucapan yang dilontarkan oleh Tanta Ginting saat memberi kata sambutan sebagai pemenang nominasi Pemeran Pria Pendukung Terfavorit pada acara Indonesia Movie Actors Awards 2016 itu, menuai banyak respons. Membuat gerah sebagian masyarakat Batak Toba, namun memberi kebanggan bagi masyarakat Karo di seluruh Nusantara.

Dalam hitungan detik, media online dipenuhi dengan ribuan kicauan berisi dukungan serta kekecewaan kepada Tanta. Seperti sedang memperebutkan piala, Netizen saling adu argumen dan pengetahuan sejarah.

Resah yang Terpendam

Sebagai warga Medan yang tinggal di lingkungan dengan berbagai keberagaman, saya menyadari terdapat beberapa perbedaan adat dan bahasa antara Karo dengan Batak Toba. Benar, sapaan khas mereka adalah “Mejuah-juah” bukan “Horas”. 

Tapi, apakah hal itu cukup kuat untuk dijadikan alasan bahwa Karo bukanlah bagian dari Batak? Satu kepastian, masyarakat Karo sampai saat ini masih terus berupaya membuktikan bahwa mereka adalah sebuah suku yang berdiri sendiri, mempunyai standar adat-istiadat yang mandiri.

Salah satu bukti adalah dengan dibentuknya komunitas KBB (Karo Bukan Batak), yaitu semacam gerakan penolakan akan identitas Batak yang selama ini melekat pada diri mereka. Di bawah ini adalah salah satu pernyataan yang ditulis dalam situs karobukanbatak.wordpress.com:

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo), yaitu Kabupaten Karo. 

Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak, yaitu Kalak Teba; umumnya untuk Batak Tapanuli.

Sekian tentang Karo, bagaimana dengan Simalungun, Mandailing, dan juga Pakpak-Angkola? Apakah mereka masih bagian dari suku Batak seperti yang selama ini diketahui?

Entah sebuah kemajuan atau kemunduran, faktanya mereka juga sudah mulai menunjukkan keengganan akan sebutan Batak yang terlanjur tersemat. Berikut kutipan-kutipan pernyataan yang saya ambil dari beberapa situs media online:

Simalungun Bukan Batak

Menilik perjalanan sejarah suku bangsa Simalungun, nenek moyang suku bangsa Simalungun asli yang menurunkan marga Sinaga, Saragih, Damanik, dan Purba (Sansekerta: “Naga”, “Ragih”, “Manik” dan “Purba”). 

Jelas tidak benar berasal dari Toba Samosir melainkan dari keturunan sekelompok pengembara dari India Selatan (Nagore) yang mendirikan Kerajaan Nagur dinasti Damanik Nagur (500-1295) dan Siam (yang leluhurnya mendirikan Kerajaan Panei, Silou, Tanoh Djawa dan Siantar) yang masuk ke Simalungun via Aceh dan pantai Sumatera Timur. (www.limbongmulana.com)

Mandailing Bukan Batak

Nama Mandailing sudah diketahui sejak abad ke 14, dan ini menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing, yang barangkali telah muncul sebelum abad itu lagi. Nama Mandailing tersebut dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M. Batak tidak disebut sekalipun dalam kitab tersebut.

Lama-kelamaan, mem-Batak-kan bangsa/umat Mandailing membudaya dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda hingga setengah orang Mandailing sendiri mulai melihat diri mereka dari persepsi penjajah yang melihat dari kacamata Melayu. (tobadreams.wordpress.com)

 Pakpak Bukan Batak

Seperti dikemukakan Harry Truman Simanjuntak sebelumnya, bahwa penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia datang juga ke Sumatera bagian Utara, sehingga bahasa Pakpak dimenangkan oleh penutur Austronesia. 

Oleh karena itu, bahasa Pakpak termasuk rumpun bahasa Austronesia (Adelaar, 1981:55), seperti bahasa Simalungun, Toba, Karo, dan Mandailing juga termasuk rumpun bahasa Austronesia.

Selain itu, ada juga jejak Tamil dari India Selatan di dalam masyarakat Pakpak. Orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jati dirinya. (http://jodibuahleuh.blogspot.co.id/)

Siapakah Batak?

Suku Batak dikenal dengan marga yang diambil dari garis keturunan laki-laki. Garis keturunan tersebut lalu diteruskan kepada keturunan selanjutnya. Marga menjadi simbol penting bagi suku Batak. Jawaban atas pertanyaan “Dari manakah asal usul suku Batak?” pun kini memiliki versi yang berbeda-beda. 

Ada yang mengatakan Batak berasal suku Batak berasal dari Thailand yang dibawa oleh rombongan si Raja Batak, berasal dari India melalui Barus yang berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba pada abad ke-6, hingga legenda suku Batak yang berasal dari Pusuk Buhit.

Seperti yang kita ketahui, literatur selama ini mencatat bahwa Batak terdiri dari lima sub-suku: Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, dan Batak Pakpak-Angkola. Pernyataan inilah yang masih terus diyakini dan dibenarkan oleh sebagian besar suku Batak Toba. 

Suku Batak Toba menganggap bahwa sikap ingin lepasnya sub-suku tersebut dari “payung” Batak merupakan suatu bentuk kesombongan bahkan pengkhianatan terhadap leluhur Batak yang selama ini begitu dihormati. Sementara mereka (Karo, Simalungun, Mandailing, Pakpak-Angkola) merasa bahwa suku Batak Toba terlalu memaksakan diri untuk menyatukan perbedaan, dan tidak bisa menerima bahwa mereka bukanlah bagian dari Batak.

Dalam kamus Bahasa Indonesia yang sebagian besar diserap dari bahasa Melayu, kata batak diartikan sebagai 1) petualang; pengembara; membatak: 2) merampok; menyamun; pembatak: perampok, penyamun.

Mungkin citra negatif itu jugalah yang memperkuat orang Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak-Angkola tidak ingin disebut sebagai Batak. Sedangkan orang Batak Toba sendiri meyakini bahwa Batak merupakan keturunan Si Raja Batak dari Pusuk Buhit, yang artinya ‘penunggang kuda’ yang menyiratkan simbol keperkasaan dan keberanian.

Hal ini tampak pada lukisan Sisingamangaraja XII yang sedang menunggangi kuda seperti sedang memperlihatkan keperkasaan seorang tokoh pejuang. Sungguh perbedaan pengertian yang terlihat begitu kontras.

Satu dalam Perbedaan

Pernyataan demi pernyataan tentang asal usul dan sub-suku Batak ini masih terus diperdebatkan dan selalu menjadi hidangan panas di tiap-tiap meja diskusi. Konflik identitas belum juga tuntas, titik terang pun tak kunjung datang. Pada kenyataannya hanya sub-suku Toba-lah yang dengan sukarela menyatakan diri sebagai suku Batak.

Semenjak ayah dan ibu menginjakkan kaki kita di atas bumi ini, kita telah diperkenalkan pada begitu banyak perbedaan juga keberagaman. Sebaiknya keberagaman pulalah yang menjadikan kita tumbuh sebagai menjadi manusia pejunjung kasih dan toleransi.

Namun, bila terbukti bahwa keberagaman yang menjadi akar segala masalah yang memecahkan persatuan bangsa, maka benarlah kalimat yang pernah disampaikan oleh Ir. Soekarno dulu:

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Tiap suku memiliki keunikannya masing-masing, hal itulah yang membuat negeri kita menjadi kaya dan terpandang. Berbeda bukan berarti tercerai berai, tapi saling mendukung satu dengan yang lain. 

Sejauh mata memandang, kaki berjalan, dan pikir berkembang, perbedaan akan selalu ada. Namun, satu yang pasti, kita adalah Indonesia. Salam damai! Salam Pancasila!