59426.jpg
Foto: flickr.com
Politik · 2 menit baca

Setelah Ahok Kalah Pilkada

Saya tak bisa memungkiri bahwa saya bersedih karena kekalahan Pak Ahok dalam pilkada DKI. Bukan karena saya pendukungnya dan sangat berharap beliau menjadi Gubernur ibu kota. Tetapi karena mayoritas teman saya di Facebook dan orang-orang yang saya ikuti di twitter bersedih.

Saya bisa merasakan kesedihan mereka lewat status dan kicauan di media sosial. Dan yang paling menyedihkan, mereka (sesama pendukung Pak Ahok) saling menguatkan dan saling menghibur lewat komentar-komentarnya. Dari sekian banyak penghiburan yang saya baca, saya tertarik dengan komentar yang berbunyi: kita telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Komentar itu adalah kutipan dari Pramoedya Ananta Toer, dan saya yakin, itulah alasan kenapa saya ingat betul komentar itu. Tak ada alasan lain. Tak juga karena setuju bahwa perlawanan telah dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Sebab saya lebih setuju, dalam politik tak ada lawan dan tak ada kawan.

Saya lebih setuju karena keyakinan ini lah yang membuat saya tak pernah terkejut saat ada seorang politisi memuji-muji politisi lain padahal kemarin mereka masih saling menghujat. Keyakinan itu jugalah yang membuat saya tetap santai saja, ketika Pak Anies memuji Habib Rizieq dan diusung Pak Prabowo menjadi Gubernur DKI padahal pilpres 2014 mereka berseberangan.

Dan keyakinan itu yang membuat saya tersenyum ketika melihat Pak Ahok dan Pak Anies berjabat tangan dengan penuh senyum di salah satu media online sehari setelah hari pencoblosan. Sementara, mereka yang mungkin menganggap yang lain sebagai lawan, masih tetap tegang dan menyimpan sisa kebencian.

Saya tidak tahu apa yang mereka rasakan bila pada akhirnya di tahun 2019, Pak Anies menjadi salah satu tim sukses Pak Jokowi seperti di tahun 2014. Atau yang paling mengejutkan, Pak Anies jadi calon wakil presiden yang mendampingi Pak Jokowi. Saya sungguh menantikan saat itu.

Tetapi yang paling saya nantikan adalah kiprah Pak Ahok setelah tak terpilih dalam pilkada. Saya tak tahu kenapa saya menantikannya. Mungkinkah karena banyak suara yang mendukungnya menjadi ketua KPK? Atau mungkin karena kedekatannya dengan Bu Mega dan Pak Jokowi, sehingga banyak orang memprediksi bahwa Pak Ahok akan segera menjadi menteri sesaat setelah tak menjabat?

Politik di negeri kita sekarang ini memang asyik untuk diikuti. Selain karena banyak komentar-komentar lucu dan menggemaskan, juga terkadang membuat saraf tegang seperti sedang membaca cerita tentang seorang detektif : dihiasi kata mayat, kode-kode angka, dan konspirasi

Harus saya akui memang, saya terhibur. Apalagi bila membaca harapan-harapan pendukung Pak Ahok, saya merasa mendapat motivasi. Saya bermimpi Pak Ahok berhasil menjadi Ketua KPK –seperti yang diharapkan pendukungnya, setelah mengikuti fit and profer test di DPR. Itu berarti DPR, sudah serius memberantas korupsi.

Tetapi harapan saya berbeda dengan para pendukungnya. Saya lebih berharap Pak Ahok mundur dari politik dan mengakhirinya sebagai seorang legenda dengan predikat politisi yang Bersih, Transparan dan Profesional.