44234.jpg
http://news.okezone.com/read/2017/02/27/340/1629183/ruko-dilalap-api-2-penghuni-luka-bakar
Cerpen · 4 menit baca

Seperti Luka yang Menyerupai Api


Luka ini bukan luka biasa. Ia bisa menyetubuhi hati atau tenggorokan yang menekan nafas yang hidup. Kadang luka itu menyebar diseluruh organ-organ tubuh, menjalar di bagian urat-urat. Besar, kecil, panjang, dan lebar. Kadang meninggi seperti menara katedral yang sedang bergelombang. Luka ini bukan luka biasa yang kehadirannya tanpa disadari sebelumnya. Ia datang dengan tiba-tiba. 

Ia tak pernah mengeluh, hanya saja ia heran dengan kedatangan luka yang meluap. Selalu saja menggerogoti langit-langit yang beku. Membuat tuannya tak bertuan atas luka yang bersetubuh. Apakah ia harus mengubahnya sedangkan luka ini terus berubah seperti api yang tidak mempunyai wujud yang tetap? Ataukah luka ini yang bisa mengubah ia menjadi api pada saat dihujani salju? Entahlah. Luka ini tetap saja menjadi luka meskipun menyerupai api.

Minggu pagi ini seperti senja. Ia terbit dari timur yang tak pernah disebut barat, kecuali orang berada pada titik kebingungan. Biasanya dirasakan oleh orang yang berpergian dari desa ke kota atau sebaliknya. Apalagi penduduk yang diselimuti pohon-pohon dingin.

Hutan-hutan pada riang melihat senja yang sebentar lagi akan jadi kenikmatan baginya, apalagi yang kering berkeringat. Satu persatu air jatuh dari langit. Semakin jatuh semakin keras. Betul. Itu adalah hujan. Angin menyelinap pada rahim-rahim yang beku. Dia menamparnya sekaligus menamparku yang sedang asik duduk di teras rumah. Sementara mataku terpejam mengingatkanku pada sebuah kepedihan yang dirasakan oleh semua makhluk hidup di pulau ini. Kesannya terkesan aneh.

Pada Desember lalu, aku melihat sekawanan anjing berlari-larian dalam lorong-lorong sepi. Sepi sekali. Tiada suara yang didengar kecuali suara anjing yang sedang bermain atau yang sedang kelaparan. Mereka menerkam satu sama lain. Anjing itu rupa-rupa jenisnya. 

Ada yang hitam dan ada juga yang coklat keputihan. Jika sudah ada yang terjatuh, mereka akan terus berlarian. Di ujung lorong ada seseorang yang sedang menunggu. Orang itu bermuka samar. Jika dipandang dari kejauhan, muka itu semakin menghilang. Ketika orang itu mengangkat tangannya. Anjing-anjing tadi yang bergurau atau kelaparan menghilang seketika.

Pada Januari lalu, aku melihat pohon-pohon menari-nari pada hutan yang bertuan. Mereka sedang menyanyi menantikan hujan. Serempak mereka berdoa, memohon untuk kenikmatannya agar menyetubuhi tubuhnya yang sedang kepanasan. Rupanya doanya dimakan angin. Daun yang gugur tidak mungkin kembali lagi pada tangkai suci. Kebakaran terjadi, Sebab tuan semakin menjadi tuhan. Mereka mengernyit satu persatu seperti orang habis melahirkan. Begitulah nasib mereka yang tidak menghasilkan apa-apa. mereka hanya tumbuh dan gugur, sedangkan tuannya tak mungkin tidak mencari keuntungan sendiri. Tuan yang pintar sekaligus pohon yang bodoh.

Pada Februari lalu, aku melihat nelayan mengeluh-ngeluh. Akibatnya angin  yang tak kunjung sembuh. Pengeboran dilakukan di mana-mana. Ikan menjadi sekawanan lumpur yang lebat. Jaring-jaring mulai mengering pada panas yang tak kunjung dingin. Mereka membiarkannya pada muka kapal. 

Mereka memohon dalam mesjid dan mengambil sebotol air dari tempat wuduk, kemudian menyiraminya pada jaring yang kering sekaligus bagian-bagian tertentu pada kapal. Makmurlah kapalnya. Tidak dengan mereka yang sedang berjuang menyingkirkan tuan pengebor dan mencari ikan yang sedang kebingungan mencari tempat tinggal.

Pada Maret lalu, sekelompok petani menjerit-jerit pada Tuhan. Segala cobaan yang telah diberikan kepada petani tidak menghilangkan semangat mereka untuk bertani. Bulan lalu mereka kesulitan menghadapi hujan. Hujan yang membanjiri tanaman-tanaman mereka. Tembakau yang dielus-elus setiap hari, dipedulikan melebihi pedulinya kepada tubuhnya sendiri. tapi, nyatanya tanaman itu membusuk dan kering penuh air. 

Pada satu bulan setelah kejadian itu. petani memanfaatkan hujan untuk menanam padi di sebuah ladangnya. Setelah padi mulai meninggi. Kira-kira setengah lengan anak berumur 10 tahun. Panas mulai melanda. Hujan berhenti tiba-tiba. Hujan menjadi abu yang berterbangan. Mereka hanya meratapi nasib itu. memohon kepada Tuhan untuk tidak menciptakan kehidupan jika jalannya menjadi duri dan timah panas.

Pada April lalu, sekelompok orang berlomba-lomba untuk mencari kenikmatan. Kenikmatan untuk bisa merasakan sensasi atas keperawanan seseorang. Kenikmatan untuk bisa merasakan betapa nikmatnya surga dunia. Tepat pada hari minggu, ada sebuah kejadian di kampungku. Ada sekelompok laki-laki yang merayu anak gadis yang berumur 17 tahun. Dia memberikan iming-iming dengan membelikan smartphone kepadanya. Gadis itu mengangguk setuju. Ia pun pergi berdua dengannya. Setelah sampai di tempat yang sepi. Gadis itu diperkosa berdarah-darah. Pakaian dalam dibuang di mana-mana. Terkulailah gadis itu dengan wajah terluka.

Pada Mei lalu, pada sebuah desa terpencil. Perempuan dipaksa menikah sama orang tuanya. Padahal umurnya masih 16 Tahun. Kemudian pernikahan dilangsungkan dengan keterpaksaan si gadis desa. Setelah satu bulan menikah, suaminya tidak bisa memberikan nafkah yang cukup bagi kehidupannya. Akhirnya istri mencari jalan ke luar dengan menjadi penyediaan hutang barang-barang. Modalnya masih pinjam sana-sini. Satu bulan jalan usahanya macet, karena orang yang berhutang padanya tidak membayarnya tepat waktu. Akhirnya dia dikembalikan lagi ke ibunya dan suamipun pergi mencari istri yang kaya. Istri yang mempunyai toko dan mapan buat dia tidak bekerja di luar.

Pada Juni lalu, sekumpulan burung mulai berhenti mengicau, entah itu di hutan maupun di rumah-rumah. Biasanya kalau pagi datang mereka berkicau dengan sangat nyaring dan serempak. Sekarang malah berkurang. Kicauannya tidak semerdu dulu. Aku heran kenapa bisa begitu? Ternyata kenyataannya menyedihkan. Sekumpulan burung yang dulu sudah terperangkap ke jaring-jaring besar. Mereka menjadi perbudakan penghasil duit. Mereka pasrah akan nasib mereka. Entahlah apa yang terjadi pada mereka.

Sepi menyelimuti tidurku. Hujan mulai tidak berisik dari tadi. Aku terbangun pada sepi lagi. Aku menatap hari. Tampaknya hari sudah malam. Tapi aku heran kenapa malam yang begitu dingin ini tidak mengiringiku dengan musik yang sering kudengarkan sejak masih kecil. Mereka adalah sekawanan jangkrik dan katak. Mereka tidak lagi merdu. Sekarang ke mana? Mereka semuanya telah dikuasai. Manusia suka kekuasaan. Sementara itu jika mereka bisa bicara dan bisa menguasai mereka. Mereka para manusia mungkin akan terbungkam. Mereka akan merasakan nasib yang sama ketika mereka ditindas dengan penuh ketidakberdayaan.

Luka tidak mempunyai wujud dan juga tidak mengenal siapa yang terluka. Ia berasal dari kesakitan, kepedihan, dan kesengsaraan. Ia perlu dipahami sebagaimana ia menggerogoti makhluk hidup. Ia berasal dari makhluk hidup yang hidup. Ia tidak mungkin mengucapkan maaf pada yang terluka. Ia hanya luka biasa yang mungkin akan luar biasa. Semuanya tergantung pada yang menyakitinya. Maka dari itulah luka itu menyerupai api yang tak mempunyai wujud yang tetap.