85228Ilustrasi ok.jpg.jpg
Ilustrasi: pexels.com
Budaya · 7 menit baca

Sedikit demi Sedikit, Lama-Lama Redakan Konflik

Jika ada yang bertanya mengenai aktivitas apa yang paling menarik perhatian dan waktu saya akhir-akhir ini, maka dengan antusias saya menjawab: menonton.

Apakah kekalahan Skuat Timnas U-22, BTS dalam konser The Wings Tour in Jakarta, atau hanya seekor monyet yang selalu diberi topeng dalam setiap kali pertunjukan yang menjadi objeknya? Oh, tentu bukan. Menonton hidup orang lain lebih menarik dari ketiganya. Kalian pasti sepakat, atau mungkin pernah sengaja terlibat.

Dari sekian banyak episode yang saya ikuti, ada satu kisah beralur seru yang menurut saya menarik untuk dibagi. Cerita ini datang dari mantan sopir taksi yang kini beralih profesi menjadi jurnalis muda dengan karir yang saya prediksi akan cemerlang, secemerlang parasnya.

Ki Ha Myung namanya. Dipanggil Ki, Ha, atau Myung tak masalah. Tapi, Ha Myung telah disepakati sebagai nama panggilan favorit bagi pemanggil maupun si empunya nama. Sama-sama nyaman katanya.

Rasanya saya paham betul alasan peralihan profesi ini bisa terjadi. Bergabungnya Ha Myung ke dalam dunia jurnalistik, termasuk reportase, wawancara, hingga penulisan berita yang notabene merupakan produk dan karya utama, mengandung misi terselubung dan balas dendam positif. Ayah Ha Myung (Ho Sang), kepala tim pemadam kebakaran, menjadi korban keegoisan media pada zamannya.

Sekitar dua puluh tahun lalu, saya menyaksikan langsung kemarahan publik terhadap keluarga Ha Myung. Saya melihat Ha Myung kecil berseragam sekolah sedang dicecar beberapa pertanyaan ‘menjual’ oleh para wartawan. Bahkan, saya sempat terkagum melihat telur ayam lemparan warga bisa mendarat di kepala Ha Myung dengan begitu sempurna, seolah sengaja memotivasi saya untuk lekas berguru kepada pelakunya.

Sebab, saat itu sedang ramai diberitakan bahwa sembilan anggota tim pemadam kebakaran yang dipimpin Ho Sang gugur dalam upaya penyelamatan dua buruh di pabrik bahan kimia yang sedang terbakar. Diberitakan juga bahwa Ho Sang adalah satu-satunya korban selamat karena hanya bertugas memantau dari luar bangunan terbakar.

Laporan teranyar berisikan tentang bagaimana Ho Sang melarikan diri pasca ditetapkan sebagai pihak yang bertanggung jawab lantaran memaksa anggota tim melakukan penyelamatan di saat kobaran api tak bisa diajak kompromi.

Sebenarnya saya tahu, dua buruh pabrik yang sedang diperjuangkan oleh tim damkar sudah berhasil menyelamatkan diri. Hanya saja, luput dari pandangan para pemilik mata di lokasi.

Saya masih ingat betul ekspresi terkejut si pemilik pabrik saat melihat dua buruhnya tergopoh-gopoh menghampiri, sedangkan geng damkar sudah terlanjur dikirimnya ke dalam pabrik berapi. Ternyata, ledakan dan api yang berkobar berasal dari cumi-cumi bakar yang diracik oleh duo buruh pabrik di kala lapar menyerang.

Bagaimana saya tahu? Saya terlibat dalam percakapan ketiganya, meskipun hanya sebagai Mustami’an alias pendengar yang baik.

Singkat cerita, berita yang beredar di masyarakat, yang tak lain adalah mahakarya si empunya pabrik, naik daun. Lagi-lagi, media berhasil membuatnya semakin epik, menjadikan pelaku yang sesungguhnya korban, terlihat semakin tak beradab di mata masyarakat.

Peran saya hanya sebagai penonton, yang selalu merasa terhibur tanpa harus melakukan aksi apa pun, termasuk mencegah Ibu Ha Myung ketika hendak membunuh dirinya sendiri. Mencegah pun tiada daya, karena Ha Myung dan tokoh lainnya hanya saya saksikan dari layar kaca. Jika saya terlibat di dalamnya, pasti akan merusak jalan hidup para Oppa di dalam drama.

Kegemaran kita menonton cerita fiksi dalam film maupun drama, agaknya terbawa ke dalam kehidupan nyata. ‘Suka ikut campur plus gemar mengomentari hidup orang lain’ mungkin bahasa umumnya. Ada benarnya quote dari Ibu Eleanor Roosevelt, “Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people.

Sudah menjadi sifat alami manusia memiliki rasa penasaran akan suatu hal. Hanya saja, perlu disalurkan pada wadah yang tepat agar menjadi manfaat. Saya pikir, sifat penasaran yang salah tempat merupakan bibit unggul dari konflik yang akan tumbuh subur di masyarakat, terlebih jika ditambah dengan komentar-komentar unfaedah alias nyinyir.

Contoh sederhana, komentar pada akun Instagram tokoh ternama (Mimi Peri Rapunchelle yang mengaku sebagai peri mungil syantik juga termasuk di dalamnya). Baik selebriti maupun selebgram, jumlah fans berbanding lurus dengan haters. Sama halnya dengan jumlah pengikut pada akunnya yang sebanding dengan kalimat-kalimat negatif di kolom komentar.

Tak jarang saya menemukan para komentator yang ribut sendiri hanya karena urusan warna lipstik si artis yang terlampau gelap, atau karena riasan yang menurutnya kurang sempurna.

Konflik itu bagai darah dalam cerita, kata Pak Syafei, guru SMPN 135 Jakarta, pernah juga mengajar di SMPN 228 Jakarta, suka menulis dan membaca agar tidak jadi gila, begitulah isi kolom bio beliau di akun Beta Kompasiana. Jika konflik adalah energi yang menggerakkan sebuah cerita, yang akan membuat cerita menjadi datar dan membosankan tanpa keberadaannya. Lain halnya dengan konflik di dunia nyata.

Kita bisa tenang menyaksikan film pembunuhan dan peperangan dengan konflik yang gawat, karena tahu si aktor akan baik-baik saja dan akan memiliki akhir kisah yang bahagia, sampai-sampai kita ingin terlibat di dalamnya. Tentu berbeda dengan konflik di kehidupan nyata. Semakin banyak konflik merajalela, semakin banyak pula bencana dan duka nestapa yang tercipta.

Sebab konflik dibuat oleh manusia-manusia yang mengalami degradasi akhlak, ada baiknya jika upaya meredam konflik dimulai dengan membenahi manusia yang terlanjur merosot moralnya dan mencegah yang lain agar tidak melakukan hal serupa. Mulailah dengan mengevaluasi, memperbaiki, dan saling menasihati.

Berikut merupakan tindakan sederhana yang bisa mengubah dunia, yang apabila dilakukan secara berkala, akan terasa manfaatnya. Mari kita aplikasikan bersama sebelum konflik semakin berkuasa.

Jangan Berisik, Mari Ngomong yang Baik

Di balik produk rokok yang saya pikir sama sekali nggak ada bagus-bagusnya, ternyata masih ada hal baik yang disampaikan lewat slogan iklan yang marak ditayangkan di televisi waktu malam hari. Ini bisa diambil sebagai bahan pengingat, motivasi, maupun refleksi diri: Jangan Berisik, Mari Ngomong yang Baik.

Telah banyak kesulitan tercipta akibat lisan manusia yang tak terjaga. Oleh sebab itu, budaya sambung lidah dengan akal sebelum kata-kata dilontarkan adalah suatu jaminan bahwa kita tidak akan menyesal di hari kemudian.

Kata-katamu adalah kualitas dirimu. Ayo buktikan bahwa dirimu memang benar-benar berkualitas. Jika lidahmu masih juga tak mampu mengeluarkan kata-kata mulia, maka diam menjadi solusinya. Daripada sibuk mengomentari keganjilan tingkah laku Mimi Peri, lebih baik melakukan aktivitas yang lebih berarti.

Demi Masa, Sesungguhnya Manusia itu Merugi

Dewasa ini, dunia semakin menarik di indra penglihatan saya. Seindah-indahnya dunia, tetap saja temporer sifatnya. Akibatnya, manusia mendadak lupa waktu lantaran terlampau peduli pada diri dan kesenangan pribadi. Bahkan, tak jarang kita memberi waktu sisa untuk Sang Pemilik Masa yang seharusnya menjadi prioritas utama, apa pun kondisinya. Betapa kurang ajarnya.

Menonton televisi dan berselancar di dunia maya menjadi aktivitas paling buruk menurut forbes.com. Karena merupakan penyita waktu terbesar jika tidak didasari niat jelas pun tujuan yang berarti.

Juga sebagai pengingat bagi kami para pecinta drama Oppa, yang rela melahap berpuluh episode, membiarkan waktu terbuang percuma, yang seharusnya bisa dikonversi menjadi pahala dan produk bernilai lainnya.

Menghargai waktu adalah menghargai hidup, hidupmu juga orang lain. Jangan sampai kita masuk ke dalam kelompok manusia merugi. Sesungguhnya, kerugian waktu adalah yang paling buruk karena tak terlihat. Rasanya sakit, namun tak berdarah.

Budi Pekerti Dahulu, Kemampuan Akademik Belakangan

Tajuk ini saya temukan pada liputan utama tabloid Halo Jepang! Edisi Juli 2017. Pendidikan dasar di Jepang berfokus pada pendidikan moral dan kepribadian yang tidak diajarkan melalui mata pelajaran khusus, namun dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem pendidikan tersebut terbukti mampu menghasilkan SDM handal.

Jika belum bisa semua, Indonesia mungkin bisa mengadopsi sebagian dari sistem tersebut, misalnya penerapan pendidikan kemandirian dan kedisiplinan melalui kegiatan harian, bukan hanya sebatas teori.

Berikutnya adalah dengan mengedepankan perkembangan motorik, perilaku, baru kognitif (pengetahuan akademik). Bukan sebaliknya, seperti yang diterapkan di Indonesia selama ini.

Meneladani SpongeBob

Setelah Rasulullah SAW, makhluk kuning satu ini boleh dijadikan suri tauladan dari dunia perkartunan. Alasannya, karena porifera ini memiliki kesabaran di atas rata-rata dan sikap positif yang luar biasa. Itu yang menjadikan dirinya selalu terlihat bahagia.

Meski dibenci, Bob tetap bersikap ramah pada tetangga sebelah. Punya sikap pantang menyerah, meski dia seorang pengemudi yang payah. Seorang teman sejati selalu melakukan pekerjaan sepenuh hati, juga penuh imajinasi.

Di zaman yang serba pamer, kita dilarang untuk baper. Jika tak kuat iman, jangan pernah jadikan aktivitas kepo feed instagram teman menjadi sebuah kebiasaan.

Telah banyak penelitian yang mengungkapkan dampak negatif social media terhadap psikologis. Mulai dari perubahan mood seseorang akibat unggahan yang berbau negatif, timbulnya sifat iri hati, hingga gangguan kecemasan akibat kalah like dari akun tetangga sebelah. Dari situ, hasrat untuk membenci bisa saja timbul dan berkembang menjadi konflik tiada akhir.

Kembali pada kisah Ki Ha Myung tadi, kita bisa melihat peran hukum, media, serta hubungan antarmakhluk di sekitar kita. Kasus serupa mungkin juga pernah terjadi di Indonesia dan belahan bumi lainnya. Saat hasrat masyarakat belum terpuaskan akan kinerja penegak hukum yang sesungguhnya belum tegak, yang akan muncul hanyalah sikap arogansi dalam bentuk main hakim sendiri.

Ditambah media yang wartanya semakin diragukan keabsahannya serta cenderung menampilkan berita-berita ‘bahagia’ yang saya tidak tahu apa tujuan aslinya. Bagaimana bisa berita nikahan Raisa lebih mendunia daripada keadaan gawat Rohingnya?

Juga saat perayaan ulang tahun anak selebriti di stasiun televisi swasta nasional dianggap lebih berarti dibanding jiwa-jiwa di Palestina yang terancam mati. Solusi? Tiada solusi tepat untuk meredam konflik selain menjadi manusia baik.

#LombaEsaiKonflik