yn-yuyun_20160505_133521.jpg
Sumber: Google.com
Media · 2 menit baca

Sebuah Pesan di Meja Anak Yang Diperkosa Itu

Opini ini adalah upaya merespon berita di portal Kompas yang berjudul "Kepergian YN dan Meja Belajarnya Selalu Basah" diterbitkan oleh laman tersebut pada Kamis, 5 mei 2016. Berita tersebut menguraikan fenomena meja YN yang selalu lembab. Guru dan teman sekelas YN belum enggan untuk memindahkan dan menempati meja gadis belia berusia 14 tahun tersebut.

Bukan beralasan mistis atau keresahan apapaun untuk tidak memindahkan meja YN. melainkan kenangan masih melingkupi kelas dan hati teman-teman YN yang juga masih basah (bersedih). Meja YN seolah menghadirkan kembali YN dalam bentuk bayang dan kenangan.   

Meja kayu yang sejatinya adalah sebuah benda mati yang tidak dapat mengekspresikan apapun. Secara kebetulan berkabung atas kematian tragis seorang anak 14 tahun. Dia seolah menolak diam dan enggan marah. keresahan dan kejahatan seksual yang akhir-akhir ini semakin marak ternyata tidak saja dirasakan oleh pemerintah dan aktifis saja.

Ternyata sebuah meja kayu mengeksperikan hal serupa. Fenomena di luar nalar tersebut mungkin hanya kebetulan atau hanya fenomena alam biasa. Pelbagai Penafsiran dan pendekatan mencoba menelaah hal tersebut. Tetapi saya akan mencoba melalui pendekatan semiotik.

Secara definisi, Saussure  menyatakan bahwa semiologi merupakan sebuah kegiatan  yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat. Bertolak dari definisi menurut Saussure tersebut saya memakai teori ini. Walaupun, Pada dasarnya pendekatan ini lumrah dilakukan pada simbol-simbol dan fotografi.

Dalam riwayat sebuah ajaran teologi, setiap apa yang kita lakukan akan dimintai kesaksian. Namun tidak lagi kesaksian secara verbal. Tetapi dilakukan oleh setiap unsur yang pernah ada dalam kehidupan kita seperti anggota tubuh dan benda-benda. Meja YN rasanya sudah terlanjur geram jika harus dimintai kesaksian pada Hari Akhir. Ia secara dramatis mengekspresikan keresahan  sebagaimana manusia mengeluarkan air mata sebagai bentuk ekspresi kesedihan.

Mungkin dengan alasan tersebut saya meyakini arti meja basah YN sebagai simbol yang dapat diartikan kesedihan. Nampaknya penafsiran meja YN tidak cukup sampai di situ. Ketika Aris Merdeka Sirait dan semua aktifis memukul pentungan sebagai simbol Indonesia tengah berada dalam darurat kekerasan seksual.  

Meja YN juga dapat diartikan serupa. Nampaknya tanda bahaya adalah pesan utama yang disampaikan Meja kayu kepada teman sekolah YN, guru, dan semua masyarakat Indonesia. Begitupula fungsi Meja yang sejatinya adalah sebagai alas tempat bertumpunya tangan ketika merenung dan merangkai cita-cita.  kini beranomali sebagai objek yang harus direnung .    

Benda memang mati secara fisik tapi ia mempunyai kedekatan secara historis bagi siapapun. Tak ayal benda mempunyai keterkaitan batin. Kita dapat bernostalgia dengan benda. Menghidupkan kembali  setiap ingatan dan berjuta cerita.

Begitupula meja YN yang mencoba mengekspresikan kesedihan di tinggal gadis yang harusnya bisa mengenang dia sebagai meja yang pernah dia duduki sewaktu belia. Juga cerita dan tanda bahaya akan kejahatan seksual yang mesih ada di Negeri kita. Jangan ada kesedihan dari benda apapun lagi, atau sewaktu-waktu benda akan mengekspresikan kemarahan. Siapa tahu.