2016-04-04-14-52-58-787056569.jpg
Ritual Keagamaan Islam Tua
Agama · 4 menit baca

Saya Masih Ikut Islam Tua


“Ana (saya, red.) masih Islam tua, biar semua bilang itu agama aneh. Tapi, itu agama dari kita pe orang tua, cuma itu titipan terakhir sebelum meninggal” ujar Fredy, teman lama dari Sangihe. Saat kemarin sore, menyeruput kopi dengannya di Bakoel Koffie, Cikini-Jakarta.

Jawaban santai Fredy, itu muncul saat kami ‘terjebak’ diskusi tanpa ujung, berdiskusi tentang kondisi sosial-politik Sangihe dan juga mendiskusikan tentang perkembangan Islam Tua di Kabupaten Sangihe-Sulawesi Utara, Kabupaten yang dekat dengan Philipina Selatan.

Saat saya di Sangihe Tahun 2001, di Kampung Kendahe tabukan Utara, saya bertemu dan berteman dengan Fredy. Ia dan beberapa keluarganya menganut agama Islam Tua, juga beberapa kali saya mengikuti ibadah mereka. Saat itu, penganut Islam Tua berjumlah kurang-lebih 3000 jiwa.

Setiap kali saya menyebut dan menulis keyakinan Fredy dan komunitasnya, saya harus memastikan dua kata muncul bersamaan : “Islam” dan “Tua”. Kenapa?. Selain untuk memastikan Fredy dkk tidak tersinggung, juga nama itu mempunyai nilai tersendiri bagi mereka.

Kata “Islam” karena mereka meyakini Tuhan itu satu dan Muhammad itu rasul Allah. Sementara “Tua” adalah kata pembeda dengan Islam mainstream. “Tua” juga mempunyai makna identitas sejarah, sebagai warga asli sangihe bukan pendatang dan juga mempertegas sebagai agama tertua di Sangihe.

Ya, mereka beda dengan tata-cara Ibadah Islam pada Umumnya. Rumah ibadah mereka tidak seperti Mesjid yang ada kubah dan menaranya, rumah Ibadah Islam Tua lebih menyerupai gereja yang ada loncengnya.

Bila di mesjid setiap jam shalat ada adzan untuk memanggil shalat , mereka hanya memukul lonceng dan selanjutnya Fredy dan kawan-kawan datang untuk menjalankan shalat. Ketika shalat, Laki-lakinya ada juga memakai sarung sementara perempuannya mengunakan Jilbab.

Tata cara Ibadah penganut Islam Tua lebih sederhana, pengikut islam tua berdiri dan duduk membentuk lingkaran, sembari melafalkan doa-doa yang mengunakan bahasa etnis Sangihe, dan sesekali terdengar lafal bismillah dan takbir Allahu akbar.

Khutbah Ramadhan atau Jummat mereka jauh lebih menarik dan partisipatif. Dipimpin Imam, mereka berdiskusi tentang perbuatan baik, situasi kampung, hasil pertanian, dan juga perkembangan komunitas mereka. Tanpa harus ada yang sengaja berdiri di depan untuk menceramahi mereka tentang hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Bulan puasa mereka juga puasa, tapi mereka tetap makan siang. “yang Puasa itu Batin dan pikiran, pikiran itu harus jernih. Makanya di bulan puasa, kami lebih banyak berdiam diri di rumah untuk mengurangi godaan duniawi.” Ujar Imam Islam tua di kampung Kendahe saat itu.

Di Bulan Puasa mereka juga bayar zakat. Di akhir bulan puasa pengikut islam tua membawah telur dan hasil pertanian mereka, sebagai tanda pembayaran zakat. Selanjutnya, zakat yang terkumpul dibagikan kepada siapapun yang membutuhkan tanpa melihat agamanya. Bila Idul Fitri datang, juga sama dengan Islam pada umumnya, ibadah pagi dan dilanjutkan dengan saling salaman serta berkunjung ke rumah kerabat mereka.

Jika anda berkeinginan masuk Islam Tua pun, prosesinya begitu sederhana, cukup hanya di sunnat oleh Imam besar Islam Tua. Bila anda penganut baru Islam Tua, pastinya tidak akan di ‘cap’ sebagai mualaf dan tidak akan ada pernah menuntun mendalami ritual islam tua.

Bagi Islam Tua, yang membedakan pemeluk baru dan lama hanya pada perbuatannya. Makin tidak tercelah perbuatan yang dilakukan orang itu, maka makin dianggap pengikut lama dan setia pada ajaran Islam tua itu. Keren kan..??.

Pemahaman ini mengingatkan saya pada pelajaran tentang awal-awal Muhammad menyiarkan Islam. Sepengatahuanku, Nabi Muhammad tidak pernah membedakan pengikutnya dari sisi lamanya memeluk Islam.

Bagi mereka yang senang menyesatkan keyakinan orang. Maka pastinya penganut Islam Tua ini akan dituduh ajaran sesat, kafir dan menghina Islam. Ya, tuduhan-tuduhan itu sudah lama mereka dapatkan, hanya tekanan ke penganut Islam Tua tidak sebesar Ahmadiyah yang harus di kejar-kejar hanya karena keyakinanya.

Untuk menghindari konflik dan tuduhan kafir atau ajaran sesat. Negara beberapa kali mengganti nama agama Islam Tua, seperti Islam Handung, Islam Masade tapi ditolak oleh pengikut islam tua.

Usaha ini berhasil di tahun 1984, ketika agama islam tua resmi dimasukan menjadi Himpunan Penghayat Kepercayaan Masade. Nama Masade, diambil dari nama orang yang pertama menyebarkan ajaran ini. Meski dalam kesehariannya, pengikut Islam Tua, lebih senang dan bangga mengakui dirinya sebagai Islam Tua.

Islam Tua dituduh kafir, selain karena tata-cara shalatnya beda dengan islam mainstream, mereka tidak percayai Alquran sebagai Kitab Suci. Menurut Fredy, alasan mereka tidak percayai Alquran karena pendahulu mereka tidak memiliki Alquran dalam bentuk tertulis, seperti alquran saat ini yang sudah berbentuk buku. Mereka hanya di ajarkan agama secara lisan, turun-temurun, dan tanpa teks tertulis atau buku sebagai rujukan.

Dan bagi saya, Islam Tua Tidak salah bila tidak mengakui Alquran sebagai kitab suci. Bila kita telusuri sejarah masuknya Islam Tua di Sangihe, bisa dikatakan inilah ajaran Islam yang benar-benar murni lahir dari proses dagang, antara masyarakat Sangihe dengan pedagang dari Islam Mindanao dan dari kerajaan islam Ternate/Tidore di di abad ke 14. Proses asimilasi yang tidak tuntas, karena kerajaan-kerajaan Islam itu keburu ditaklukan Portugis, dan selanjutnya sebagian besar penduduk Sangihe memeluk agama Kristen.

Mereka memahami Islam tanpa ada yang menuntun, tanpa pernah bertemu padagang arab yang fasih membaca alquran, tanpa ada Tuan Guru dan Ulama yang secara khusus mengajarkan mereka tentang Islam. seperti proses awal keberadaan Islam di Jawa yang memunculkan Sunan Giri dan Wali lainnya.

Islam Tua tidak mengenal Ulama atau Ustdaz, mereka hanya punya Imam, yang mereka pilih di antara mereka. Pemilihan Imam-pun tidak diukur dari pemahaman agamanya dan kemampuan bahasa arabnya. Mereka hanya mengunakan ukuran sederhana, tidak pernah berbuat jahat dan selalu berbuat baik untuk kehidupan.