Ketik untuk memulai pencarian

Rumah dan Jendela

Rumah dan Jendela

Gambar: media5.picsearch.com

Ada ungkapan menarik dari seorang teman bahwa rumah akan dan selalu memerlukan jendela, begitu juga manusia akan memerlukan jendelanya sendiri. Awalnya saya tidak ngeh apa yang ia maksud. Sejawat ini berbicara dengan cara yang ke buku-bukuan, maksud saya, caranya bertutur sering terdengar seperti bahasa novel.

Ia menyelipkan ungkapan itu di perbincangan ngalor-ngidul kami yang tak tentu arah. Kami sudah tidak bertemu dalam beberapa bulan terakhir, dan malam itu saya sengaja mengudangnya untuk berselasar di salah satu warung kopi (warkop) di Kota Malang.

Ia menanyakan ke mana saja akhir-akhir ini dan apa saja yang sedang saya lakukan. Model pertanyaan yang terdengar sangat umum diajukan dalam setting situasi semacam ini, bahkan cenderung terdengar seperti pertanyaan basa-basi, bukan?

Umumnya—di abad digital ini—kita bahkan tidak perlu bertemu face to face dengan teman dekat, kolega, ataupun kerabat, hanya untuk mengetahui mereka dalam keadaan baik atau tidak. Walau bagaimanapun juga sentuhan langsung tetap penting untuk menjaga intimacy (keakraban).

Namun, seperti sudah menjadi jamak, bahwa orang merasa harus dan perlu untuk mengabadikan dan mempertukarkan nyaris setiap momen dalam segala aspek kehidupan mereka secara suka rela—pun suka cita—ke dalam berbagai vitur di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan sebagainya.

Orang sudah tidak merasa risih mengenai hal itu, terutama menyebar konten video, foto, status tentang diri mereka sendiri di media sosial. Poin yang ingin saya ketengahkan adalah postingan-postingan di media sosial yang katakanlah sama sekali tidak memiliki tujuan fungsional atau demi kebaikan “publik”[1]—yang bersifat informatif dan edukatif.

Saya yakin, beberapa akan menyanggah ini dengan argumentasi demi tujuan entertainment, bagian dari kebebasan berekspresi di ruang publik, atau juga termasuk bagian dari promosi diri—seperti fenomena selebgram baru-baru ini—yang akhirnya akan mendatangkan profit demi kepentingan publik juga, really?

Di sini, tentu saja saya bukan mahasiswa tingkat akhir yang sedang depresi lalu curhat lewat tulisan ini mengenai topik penelitian skripsinya yang tak kunjung rampung di jurusan Ilmu Komunikasi atau semacamnya.

Hanya saja, saya kadang suka usil dan penasaran, mengapa orang merasa perlu mengumbar kehidupan pribadi mereka? Baik melalui foto dan video—ngevlog adalah sebutan untuk aktivitas ini—dan bangga karenanya. Terutama jika mendapat banyak like dan tanggapan dari para follower.

Bahkan setiap bertambahnya follower, mendapatkan like maupun comment di setiap postingan yang mereka unggah di media sosial, akan terasa seperti asupan karbohidrat bagi ego raksasa mereka yang tengah kelaparan. Dan sebaliknya, jika postingannya sepi pengunjung, sambil men-scroll layar smartphone meronta Anyone, Please recognize me!!

Pada tahun 2013, Time Magazine membuat laporan bahwa generasi saat ini yakni Millennial Generation—ialah mereka yang lahir antara rentan 1980-2000—merupakan generasi yang paling narsis jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya (generasi Baby Boomers).

Dalam laporan yang ditulis oleh Joel Stein tersebut ditekankan bahwa generasi millennial memiliki alat yang memudahkannya untuk melakukan itu (narsis) yakni teknologi. Meskipun laporan tersebut medapat banyak kritik karena tidak menyertakan data atau argumen yang valid.

Lagipula, apa yang menjamin generasi Baby Boomers tidak akan melakukan hal yang sama (sama narsisnya) apabila mereka juga memiliki teknologi seperti yang dimiliki generasi saat ini?

Bukankah mereka (Baby Boomers) misalnya, dalam beramah tamah sering mengundang tamu ke rumah, semata-mata hanya ingin menunjukan kepada si tamu betapa sukses dan bahagianya mereka melalui foto-foto—yang tentu saja sebagian besar tentang diri mereka sendiri­—sebagai hiasan di setiap jengkal dinding interior rumah mereka.

Jikapun benar, isi laporan Time Magazine, bahwa generasi saat ini hanya disesaki oleh anak-anak narsis yang hanya sibuk membuat sensasi konyol di media sosial agar mereka cepat terkenal, lantas di mana masalahnya? Toh, foto selfie mereka tidak menyakiti siapa pun,Vlog mereka tidak membuat angka kemiskinan melonjak, tidak membuat para buruh terkena PHK atau tidak turut mempengaruhi perubahan iklim secara global.


Follow Qureta Now!

Barangkali parade narsis tersebut hanya akan membuat gerah seorang sok kritis seperti saya ketika melihatnya. Barangkali hal tersebut yang menjadi alasan utama saya menonaktifkan nyaris semua account di media sosial. Saya pikir ini seperti—untuk sementara waktu—mengurangi kadar asupan toxic­ dalam ranah kehidupan pribadi atau saya suka menyebutnya sebagai narcissistic diet (diet pemujaan diri).

Dalam kadar tertentu misalnya, saya akan bersepakat dengan seorang director terkenal yang kerap menggarap film science fiction, Christoper Nolan, sebagaimana dilaporkan harian berita Daily Mail bahwa movie director kenamaan asal Inggris tersebut tidak memiliki mobile phone, email, ataupun menggunakan media sosial lainnya[2].

Nolan mengungkapkan bahwa mobile phone atau sosial media tidak membantu kehidupannya—alih-alih mempermudah. Selain itu, menjaga jarak dengan media sosial dapat membantunya berpikir jernih karena terhindar dari rongsokan sampah visual.

Lebih lanjut, saya menjadi jauh lebih pessimis melihat fungsi media sosial yang tadinya merupakan sebagai “media alternatif”, akan tetapi dewasa ini fungsinya lebih menyerupai media arus utama (televisi). Bahkan, cara orang menggunakan atau mempresentasikan diri mereka di media sosial dewasa ini semakin nampak seperti ajang reallity show.

Orang tidak lagi melihat diri mereka sebagaimana adanya, yang mana itu nampak sangat membosankan. Orang hanya fokus pada ide tentang bagaimana orang lain—follower mereka—ingin melihat dan dapat menerimanya. Sudah barang tentu, seperti logika pemasaran, orang hanya ingin terlihat atau memposting hal-hal yang  dianggap positif mengenai diri mereka, bukan?

Padahal, tidak hanya hal positif, pun, juga hal negatif, dan bahkan terdapat ruang abu-abu yang menganga di antara kedua ekstrem tersebut dalam kompleksitas labirin identitas seseorang.

Saya menyukai salah satu argumen filosof nyentrik asal Slovenia Slavoj Zizek, sebagaimana ia sering mengutip psikoanalis asal Prancis Janques Lacan yakni bahwa secara psikoanalisa pada dasarnya semua orang adalah menyimpang. Artinya, kecenderungan seseorang semakin ingin terlihat “baik” maka semakin ia jauh dari cita-cita tersebut.

Dengan demikian, media sosial telah membantu manusia dalam memodifikasi sekaligus mengkomodifikasikan identitas kedirian mereka di hadapan “publik”. Hal ini bukan lagi soal narsis epidemic[3] yang disebut Jean M. Twenge & W. Keith Cambell (2009) menggejala di generasi ini, melainkan dapat dikatakan sudah sampai pada gejala obscenity (cabul).

Dikatakan cabul, artinya, seseorang tidak benar-benar menjadi dirinya. Ia mendaur ulang atribut identitas yang ada pada dirinya agar menyedot atensi “publik” demi keuntungan-keuntungan jangka pendek. Sederhananya, katakanlah secara generalisir, setiap orang di akun intagram mereka ingin seperti Kim Kardashian atau Kendal Jenner.

Selain itu, media sosial juga secara rapi menyamarkan atau menetralisir sisi abu-abu—atau sisi yang dianggap destruktif—dari identitas seseorang agar mudah diterima oleh “publik”. Ini seperti memenuhi tuntutan konsumen yang menyukai kopi tapi tanpa efek negatif dari kafein,  krim tanpa gula, atau bir tanpa alkohol dan sebagainya.

Orang ingin menikmati postingan-postingan yang merupakan representasi dari diri kita di media sosial, namun tanpa mau melihat secara utuh—termasuk aspek negatifnya—dari tampilan identitas tersebut. Oleh arenanya, ini saya sebut sebagai de-kafeinisasi identitas melalui media sosial.

Kembali ke ungkapan teman saya di atas, bahwa setiap rumah akan selalu membutuhkan jendela, begitu pun manusia akan membutuhkan jendelanya sendiri, sebenarnya merupakan sindiran halus karena ia anggap saya menghilang dari sirkulasi sosial kami. Sebabnya adalah non-aktivasi media sosial yang saya miliki.

Ia mengandaikan saya seperti “rumah” yang umumnya dihiasi dengan berbagai ornamen identitas di dalamnya, namun tidak memiliki jendela. Tidak membiarkan kesempatan tetangga untuk melihat sekedar untuk mengetahui keadaan “rumah” itu baik atau tidak.

Di satu titik saya bersepakat dengannya bahwa sulit bagi kita terutama generasi saat ini dalam bereksistensi tanpa media sosial—email, Facebook, Twitter, Intagram, dll—yang membuat saya berpikir bahwa anekdot tentang “I share therefore I am” (Aku berbagi lewat postingan, maka aku ada) bukanlah isapan jempol belaka.

Ketika seseorang tidak memiliki akun di media sosial, orang lain bahkan tidak berpikir bahwa ia benar-benar ada, dan akan  seperti “rumah tanpa jendela”.

Namun, di sudut yang lain, saya juga percaya bahwa generasi saat ini terlalu banyak menghabiskan waktunya di “tepian-tepian jendela” tersebut dan tidak menjalani hidup yang sebenar-benarnya sebagai “rumah” tempat di mana ragam pernak-pernik identitas melekat dan diketemukan (kembali).

Catatan:

[1] Publik di sini merujuk pada term “Netizen” yang sebenarnya masih sangat ambivalen pengertiannya. Selain itu, masyarakat kita yang tidak memiliki garis pembedaan yang jelas dan terang sebagai pedoman bertindak antara ranah “publik” dan “privat”. Hal ini semakin rumit, karena kosakata “privat” sendiri terhitung sangat baru bagi masyarakat kita, bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak ditemukan arti definitifnya. Sehingga menjadikan argumentasi (demi kebaikan publik) ini terdengar naif. Sebab problemnya adalah bagaimana kita membedakan antaranya yang “publik” atau “privat”, terutama terkait aktivitas di media sosial. Jika perbedaan term keduanya masih kabur?

[2] Cockroft, Steph, Daily Mail, Interstellar director doesn’t own a mobile phone 05-01-2015 laman berita dapat diakses di http://www.dailymail.co.id/news/article289648

[3] Lihat, Jean M. Twenge & W. Keith Cambell, The Narcissism Epidemic Living in the Age of Entitlement  SIMON & SCHUSTER 2009

Vindi Kurniawan

I live for theory, really, and shamelessly

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016