Ketik untuk memulai pencarian

Romantika Cinta Bukan Milik Media Sosial

Romantika Cinta Bukan Milik Media Sosial

//twitter.com/romantika_cinta

Aku bukan perempuan yang mudah jatuh cinta. Sekedar tertarik pada lawan jenis sangat sering, namun namun belum sempat jatuh cinta, rasa illfeel sudah lebih dahulu menguasasi. Jika pun aku bisa dekat dengan lelaki mungkin karena aku belum illfeel dan bukan berarti aku telah jatuh cinta padanya.

Seperti remaja cerita roman kebanyakan, aku pun dekat dengan lelaki pertama kali saat SMA. Berbagai macam modus dilakukannya untuk mendekati aku. Mungkin waktu itu aku belum mengenal istilah modus.

Waktu SMA tidak cukup rasanya waktu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu untuk aku bisa belajar dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Karena itu aku tidak sempat memikirkan yang namanya pacar, dan kebetulan aku termasuk siswi yang terkesan religius saat itu, sehingga banyak lelaki yang kagum atau sekedar kagum dan sebagian berani mendekat. Hanya saja tidak bisa melewati benteng pertahananku untuk berpacaran. Aku juga bukan orang yang mengharamkan pacaran, hanya saja pacaran lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya.

Singkat cerita aku mulai dekat dengan teman lelaki yang sama-sama aktif di organisasi. Dimulai dengan pembicaraan yang hanya berlangsung di sekolah. Pembahasan kegiatan-kegiatan, rapat-rapat organisasi, dan pelajaran di sekolah mulai dibahas melalui telpon sampai tengah malam, dan terkadang subuh. Tidak ketinggalan pesan-pesan singkat untuk memberikan semangat dan ucapan terimakasih sebelum dan setelah kegiatan berjalan lancar.


Follow Qureta Now!

Semakin hari aku semakin terbiasa, dan irama komunikasi darinya semakin aku hapal. Sampai pada saat kami telah terpisah karena pendidikan yang harus dilanjutkan dengan pilihan masing-masing. Setelah dia jauh aku tersadar kalau aku kehilangan, dan mungkin merindukan. Dia pun begitu. Aku pikir menjalin hubungan jarak jauh mustahil tapi akan ku coba dan ternayata dia mencoba pun tidak ingin.

Jika biasanya dia mengirimkan pesan rindu, setelah dia jauh aku kirimkan untuknya. Namun hanya dibalas dengan “hehe..” dan emoticon smile. Aku sedikit bingung namun belum tersadar. Berhari-hari dan berminggu aku coba komunikasi dengan telepon. Tidak pernah ada telepon balik, bahkan penjelasan tentang dia sedang apa, dan kenapa tidak jawab telepon pun tidak ada.

Aku bertanya-tanya apa tidak ada pemberitahuan di handphone nya kalau ada panggilan tidak terjawab. Aku pun sadar kalau dia tidak lagi ingin meresponku. Sepanjang komunikasi yang pernah berlangsung dia tidak pernah seperti ini. Betapa pengecutnya dia sekedar menolak pun tidak bisa bagaimana layak dia menjadi pasanganku? Cerita ini pun berlalu dengan akhir yang begitu saja.

Mari kita anggap itu sebagai cerita cinta sebelum smartphone. Cerita cinta tanpa kemesraan fisik, tanpa unggahan foto-foto di media sosial, dan tanpa video yang menjadi konsumsi publik. Apakah masih di anggap cerita cinta jika tanpa semua itu? Aku tentu bukan satu-satunya yang memiliki romantika SMA tanpa kemesraan fisik.

Ucapan semangat pagi yang disampaikan dari kutipan penyair-penyair, dan selamat malam dengan gaya pujangga yang begitu merindukan kekasih sehingga ingin malam segera berlalu. Begitu banyak kata yang dirangkai, begitu puitis remaja-remaja yang sedng dirundung asmara. Buku-buku sastra dan fiksi pun laris di pinjam di perpustakaan sebagai bahan gombal untuk kekasih. Semua itu tanpa smartphone. 

Setelah pujaan hati pergi akan ada yang datang lagi membawa hati. Tanpa perlu malu jika berpapasan dengan si dia yang dahulu. Karena tidak banyak yang tahu cerita apa yang telah terjalin. Tidak perlu membenci dia yang telah pergi karena kenangan yang diberikan menjadi pelajaran untuk mencintai yang kemudian. Betapa indahnya romantika saat itu.

Cinta-cintaan saat ini lebih pada mengumbar kemesraan, dan jika putus semua yang mesra-mesra pu  dihapus. Seperti tidak punya malu untuk bertemu lagi dia si dia yang telah menjamah tubuh itu. Seakan diri ini masih banyak yang berminat jika semua dokumentasi cinta telah di hapus, lupakah dia jika dokumentasi bisa saja ada yang mengoleksi untuk nafsu pribadi. Begitulah jika romantika cinta menjadi milik sosial media.

Jika Chairil Anwar masih hidup, atau jika aku bisa bertemu dengan Sapardi, ingin aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang remaja yang berkasih sayang di era smart phone. Ah, betapa kasihan aku jika mengingat orangtua mereka. Ah, betapa marah aku jika mengetahui mereka masih memiliki agama dan semakin kesal aku saat mereka katakan kemesraan mereka itu wajar.

Hey, ini Indonesia bukan Jepang yang memproduksi film porno dan bukan Korea dimana standar cantik harus memiliki ukuran tubuh seperti Barbie. Ini juga Indonesia yang masih memiliki budaya timur, moral juga masih djunjung tinggi di negara ini. Jika tidak ingin dihujat tinggallah di negara bagian barat, dimana bisa sak karepe dewe.

Lantas, bagaimana pula romantika cinta anak-cucu kita esok hari?   

Nurhannifah Rizky Tampubolon

Menjadi manusia pembelajar adalah kewajiban untuk bisa memanusiakan manusia, Kader HMI, Alumni Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016