89238.jpg
koleksi pribadi
Budaya · 3 menit baca

Roman Sastra Lama Yang Tak Picisan

Membaca lagi karya Idrus yang sempat menjadi salah satu bacaan wajib pelajaran Bahasa Indonesia saat SMP, seolah menarik kembali kepada kenangan masa lampau. Di mana novel-novel para pujangga angkatan Balai Pustaka menjadi ”makanan” gurih yang sedap dinikmati setiap gigitan dan penggalan katanya.

Mulai dari Salah Asoehan karya Abdul Muis, hingga karya tulis Sutan Sati yang sempat booming, difilmkan di tahun 90an yang berjudul Sengsara Membawa Nikmat.

Ya, pada waktu itu, karya sastra yang ada memanglah amat sangat terbatas. Penulis dan literasi seolah bagai bintang yang tak terjamah. Hanya ada sedikit sekali penulis di jaman itu, yang karya-karyanya diterbitkan dan menjadi rujukan, serta bacaan wajib yang melengkapi pelajaran Bahasa Indonesia.

Meski sebenarnya, bukan hanya karya sastra saja yang terbatas. Banyak buku-buku yang bukan buku-buku sastra yang juga dilarang diterbitkan, atau hanya beredar di kalangan terbatas.

Bahkan pada waktu itu, beberapa karya almarhum Pramoedya Ananta Toer, yang mendapatkan berbagai penghargaan sastra tingkat dunia, dibatasi, dan bahkan ada yang dilarang, serta dimusnahkan dengan dalih yang mungkin susah kita pahami.

Tahun-tahun itu, membaca tulisan-tulisan lugas sarat makna, dengan kalimat mengalir yang mudah dipahami, hanya dapat dinikmati di perpustakaan-perpustakaan sekolah. Karena toko buku menjadi tempat eksklusif yang bisa dijamah jika kocek benar-benar tebal, atau mendadak menang lotere.

Ah saudara, di jaman itu, bahkan perpustakaan-perpustakaan daerah pun amat terbatas koleksi bukunya. Ke tempat persewaan buku atau taman bacaan, banyak terisi komik Donald Bebek, Lucky Luke, Asterix Obelix.

Beberapa serial manga yang booming seperti Dragon Ballz, Detective Conan atau paling poll, novel-novel terjemahan Sidney Sheldon, atau beberapa novel Marga T, atau yah, mungkin sedang rejeki, menemukan salah satu stensillan Anny Arrow hahahaha.

Dan anehnya, dengan segala keterbatasan buku sastra yang ada, banyak sekali peminat sastra yang mengenal betul seluk beluk tokoh dan buku yang ia baca. Budaya membaca sebenar-benarnya membaca, juga memahami apa yang tengah dibaca, bukan sekedar tahu, tapi juga mengerti isi buku. Dan hal inilah yang jarang sekali ditemui di era sekarang.

Di mana budaya literasi sedang gencar-gencarnya digalakan, buku-buku bukan hanya sekedar terjangkau kocek, tapi juga begitu mudah didapatkan. Taruhlah di satu kota kecil, ada berapa toko buku yang ada? Ada berapa kali event pameran buku diadakan?

Di mana ada banyak buku yang biasanya ditawarkan dengan harga yang murah, tidak hanya lewat diskon, atau juga bazaar, tapi seringkali pula ada sesi tukar buku atau pembagian buku gratis di sesi-sesi khusus.

Banyak sekali, sekarang ini, pembaca yang tidak mampu memahami apa yang dia baca. Pada akhirnya hanya seperti mengeja, tanpa mampu memahami pesan implisit atau eksplisit sebuah karya.

Entah karena mungkin begitu banyaknya bahan bacaan, sehingga pada akhirnya si pembaca hanya membaca sampai selesai, alias yang penting menyelesaikan bacaan dari awal sampai akhir, atau kemampuan si pembaca yang tidak mampu menangkap pesan tulisan, atau memang mungkin kemampuan si penulis yang tidak mampu menyampaikan pesannya kepada pembaca.

Hal ini berlaku, pada semua lini literasi, bukan hanya buku-buku, tulisan-tulisan sastra, tapi juga genre tulisan lain, entah itu tentang sospol atau budaya.

Kata Mortimer J. Adler, ”In the case of good books, the point is not to see how many of them you can get through, but rather how many can get through to you.”

Dan ya, pada akhirnya memang bukan apa yang kita baca, tapi apa yang mampu kita pahami, resapi, dan makna dari apa yang kita baca.

Sayang sekali pula, untuk saat ini, banyak sekali anak-anak muda yang tidak mengenal budayanya sendiri. Jarang sekali saya temui tulisan-tulisan yang mengalir tanpa terlalu banyak diksi dan friksi seperti karya-karya sastra era Balai Pustaka.

Yang banyak tersebar saat ini hanya tulisan sekedar tulisan yang, maaf, seringkali semata fiksi, atau istilah kata, kurang menggigit, hanya berisi untaian kata-kata indah tanpa makna, dan entah mungkin saya yang kurang mengerti atau bagaimana, tapi seringkali yang saya temui, semakin absurd dan semakin njlimet isi tulisan, kemudian dilabeli sebagai tulisan yang amat nyastra.

Ya, jangankan tulisan seperti gaya angkatan 20-an, 30-an, 42-an, 45-an, atau angkatan 60-an, kadangkala saat mereka ditanya apakah tahu para sastrawan angkatan lama, mentok, paling poll, yang dijawab hanya nama Chairil Anwar.

Lalu, apa ceritanya jika mereka ditanya tentang Anton Chekov, Leo Tolstoy atau JW von Goethe?

Pada akhirnya, budaya membaca itu memang penting. Tapi memahami sebuah tulisan, itu jauh lebih penting.