unduhan_13.jpg
https://www.google.co.id
Agama · 3 menit baca

Rekonseptualisasi Peran Ulama dan Politik Masa Kini

Telah kita ketahui bahwasanya Ulama’ merupakan waratsatul anbiyaa’ (pewaris nabi) juga Allah telah menjanjikan kepada para ulama’ yaitu surga yang kekal baginya, dan bahkan Allah memberikan Ulama’ fadhilah lebih tinggi dari pada syuhada’ karena para ulama’ memberi petunjuk dengan apa yang telah diturunkan kepada Rasulnya.

Sedangkan syuhada’ mereka berjihad dengan pedangnya dengan tujuan membela Agama yang telah diturunkan kepada Rasul. Hadist ini dikutip dari kita Ihya’ Ulumiddin yang berbunyi  “turunnya syafa’at itu pertama kali diturunkan kepada anbiyaa’ kemudian ulama’ dan kemudian Syuhada”.

Sehubungan dengan perkembangan Islam yang semakin meluas, tentunya disamping itu muncul juga kedok Ulama’ palsu, munculnya  hal ini pastinya tergantung pada niat, yang pertama orang kafir yang berkedok ulama’ demi mencari kelemahan Islam dan tentu saja tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan Islam dari sendi-sendinya, orang seperti itu bisa kita sebut dengan orientalis.

Kedua, orang Islam yang cerdas nan pintar dan mereka menggunakan kelebihan akalnya tersebut untuk mengubah syari’at Allah adapun orang kedua ini biasanya memiliki bakcing dan mereka biasanya meminta upah kerja setelah tugas pengrusakan syari’at tersebut terlaksanakan. Ketiga, mereka yang berkedok ulama’ hanya untuk mencari keuntungan duniawi/materialisme yang mana mereka menyerukan pidato ataupun dakwahnya hanya untuk kepentingan duniawi sahaja.

Peranan ulama’ pastinya tidak lepas juga dengan dukungan khalayak masyarakat, peran ulama’ yang bandingannya sebagai pewaris nabi tentunya harus memiliki etika yang baik yang menjadi pandangan dan rujukan masyarakat sekitarnya. Jikalau kita bandingkan Ulama’ dalam persepsinya sama dengan Nabi, Ulama’ memiliki masyarakat yang masyarakat tersebut menganut padanya begitupun juga nabi yang memiliki Ummat yang menjadi lentera bagi umat yang mengikutinya. Sangat wajar sekali jikalau tugas yang diemban Ulama’ sangat berat.

Tugas kyai dalam ruang lingkupnya menurut saya tidak hanya berkutat berdiam diri dan hanya mengajar anak murid didiknya, kyai juga harus turut berpartisipasi dalam menjadikan ruang lingkupnya damai tentram, Kyai pun juga harus berani dan tidak segan dalam menasehati dan mengislah (membenarkan) pemimpin yang melenceng dalam tugasnya dalam mengatur Ummat, juga bangkit bersama pemerintah dalam membangun ruang lingkup lingkungan yang bebas dari rasisme agama, maksiat.

Kyai juga harus menjaga diri dan memberikan batasannya terhadap kedekatannya kepada pemimpin, dengan artian Kyai tersebut ridak terlalu dekat dan tidak teralu jauh. Dikahawatirkan adanya fitnah yang akan menyebabkan masyarakat hanya dengan sisi miringnya saja dan hal ini pastinya akan menurunkan kharisma seorang Kyai.

Respon Kyai dan para Ulama’ dalam mengatasi penistaan Agama pada peristiwa 4 November tersebut perlu diapresiasi dan diacungi jempol, dikarenakan ketegasan mereka, tanpa bertele-tele dan berkompromi dengan pemerintah dalam mengatasi masalah Penista agama. Mereka tegas dalam mengislah negeri ini.

Kyai berpolitik?, maka siapa yang akan menjadi penengah dan penasehat dalam suatu permsalahan ummat, jikalau Kyainya saja hanya sibuk dalam politik.  Dalam hal politik asumsi penulis dalam hal ini, yaitu tidak seharusnya Kyai itu terjun ke politik. Dalam Al-qur’an dijelaskan:

“sesungguhnya Allah menyuruh kamu sekalian supaya menyerahkan amanat kepada Ahlinya, dan bila kamu menghukumi di antara manusia maka hendaklah menghukumi dengan adil (QS. An-Nisa’:58)”

Menurut hemat penulis biarkanlah murid-murid dari Kyai tersebut yang harus mengisi kedudukan politik, mengingat para murid tersebut telah banyak mengenyam yang namanya ilmu agama, dengan kelebihan ilmu tersebut murid-murid dari kyai itu dapat lebih mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, politik bukan kata politiknya yang terkesan jelek, namun subjek politiknya yang mencemarkannya dengan perbuatan-perbuatan yang toidak semestinya dilakukan seorang pemimpin, Allah berfirman: “tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Roqib dan Atid)”(QS. Al-Qaaf: 18) sehingga dengan tersebut maka InsyaAllah mereka akan menyngkirkan jauh-jauh yang namanya kecurangan dalam lingkup politik.

Jadi siapakah mereka yang akan meneruskan estafet politik ini?, pastinya tak lain jawabanya adalah para santri, Pemuda Islam yang dalam punggung mereka mengemban akan harapan bangsa ini yaitu, Kejayaan Indonesia di masa mendatang.