21211.jpg
Olahraga · 4 menit baca

Redondo: Cinta yang Terlarang


Bagaimana sih rasanya menjalani cinta yang terlarang? Mencintai seseorang yang kita tahu betul bahwa latar belakangnya, keluarganya, ideologi atau paham politiknya bertolak belakang 180 derajat dengan kita? Sensasi bercinta yang berujung dengan ‘backstreet’ atau diam-diam.\

Model percintaan ini dengan mudah (dan umum) kita lihat di kisah Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Atau roman lokal semacam kasih antara Fauzia dan Miftahul Abrar karya Mahfud Ikhwan dalam novelnya “Kambing dan Hujan”. Atau mungkin anda punya referensi yang lain?

Buat saya, cinta yang terlarang tak lain dan tak bukan adalah mencintai Redondo. Bagaimana tidak, Redondo adalah salah satu punggawa Real Madrid, rival abadi Barcelona yang notabene adalah klub favorit saya. Tak pernah ada satupun pemain Madrid yang saya kagumi, pun Luis Figo yang menyeberang kesana. Kecuali Redondo.

Sayangnya cinta ini sedikit aneh. Bagi sebagian besar orang, mereka mencintai pemain bola favoritnya karena kehebatannya, kepiawaian skill-nya atau yang lain. Tidak demikian halnya dengan Redondo.

Kapasitasnya sebagai midfielder sebenarnya bukan termasuk kategori luar biasa.

Catatan stats-nya pun tak begitu istimewa. Momen istimewanya bisa dihitung dengan jari tangan. Salah satunya yang berkesan adalah saat babak perempat final Liga Champions tahun 2000 di Old Trafford – theatre of dream.

Diawali dengan pemilihan skema formasi 3-5-2 yang tak lazim oleh Del Bosque. Skema yang menampilkan seorang Redondo sebagai satu-satunya midfielder aktif, mengingat McManaman pemain tengah dengan pola permainan melebar sedangkan Savio adalah winger sejati. Menghadapi komposisi Ryan Giggs, Paul Scholes, Roy Keane dan David Beckham di lini tengah lawan tak membuat gentar Redondo.

Dengan dibantu tumit belakang dan liukan badannya, Redondo memberikan assist kepada Raul untuk mencetak gol ke-3. Madrid melaju ke semifinal dan menantang finalis sebelumnya; Bayern Munich. Perlawanan sengit di semifinal mengantarkan Los Galacticos berangkat ke Stade de France Prancis.

Redondo mengangkat trofi kuping lebar di malam yang anti klimaks. Anti klimaks, karena Valencia yang menghancurkan Barcelona 4-1 di Mestalla ternyata tak mampu mencetak gol satupun ke gawang Iker Casillas malam itu.

Lalu apa yang membuat saya cinta pada Redondo? Apakah karena rambutnya yang panjang dan penampilan seperti hippie? Tidak juga, toh masih banyak pemain lain yang punya rambut panjang dan penampilan menarik semacam Alessandro Nesta, Paolo Maldini di zaman itu. Lagipula, masalah rambut ini ternyata menjadi pertimbangan Daniel Passarella untuk mencoret nama Redondo di ajang piala dunia 1998.

Terlepas dari alasan konyol penolakan Passarella terkait rambutnya tersebut, preferensi Redondo yang lebih condong ke tipe sepakbola indah dan artistik ala Menotti tidak menolongnya sukses di karier internasional.

Jadi, apa yang membuat saya begitu mengidolakannya? Cinta, itu saja jawabannya. Cinta yang juga kadang terasa begitu sakit. Dalam beberapa laga kita bisa maklum mengapa kita layak mengelu-elukan permainan Redondo. Tapi beberapa penampilan lain juga mempertanyakan apakah layak ia dicintai. Hampir setipe dengan kompartriot-nya di timnas Riquelme, Redondo sering kali terlihat malas berlari, kehilangan bola berkali-kali.

Simon Kuper dalam tulisannya bertajuk ‘One  Touch Perfectionist’ menyimpulkan bahwa ada beberapa versi Redondo. Ia menulis bahwa Redondo sering disebut Master-nya satu sentuhan. Sir Alex Ferguson membuat guyonan, bahwa seakan-akan ada magnet yang menempel di kaki Redondo, sehingga bola tidak lepas dari dirinya. Tapi di saat rekan satu tim-nya tidak mengalami pergerakan, Redondo terkena imbasnya. Tak ada akselerasi, lambat dalam bergerak.

Sepertinya Redondo begitu menghayati gaya permainan idola-nya. Bukan, bukan Maradona yang menjadi idolanya layaknya anak-anak muda Argentina lain melainkan orang yang diidolakan oleh Maradona; Ricardo Bochini. Bochini yang dijuluki ‘Master of La Pausa’. Bochini mendeskripsikan La Pausa dengan 2 (dua) metode : berlari cepat dengan membawa bola, atau mengendalikannya dengan tempo lambat.

La Pausa adalah metode memperlambat tempo permainan, menahan bola sembari menunggu rekan setim kita bergerak mencari posisi.

Versi Redondo yang lain menurut Simon Kuper adalah Redondo yang sama ketika timnya Real Madrid menelan kekalahan 0-6 dari Valencia dalam laga semifinal Piala Raja Spanyol tahun 1999.

Fabio Capello menampilkan versi yang lain untuk Redondo. Pelatih Italia ini menyayangkan kemampuan Fernando apabila ‘hanya’ dipasrahkan posisi Defensive Midfielder. Untuk itu ia memberikan kebebasan untuk mengatur taktik kepadanya.

Cinta saya tampaknya juga dipengaruhi dengan latar belakang Redondo yang notabene adalah seorang intelektual, dengan fokus pada studi Hukum. Karena memang tidak banyak kaum cendekiawan yang juga pemain bola. Salah satu contoh lain adalah Oleguer Presas, salah satu punggawa Barca yang berlatar belakang Sarjana Ekonomi. Tak hanya tulisan atau artikel yang dihasilkan oleh Oleguer, bahkan ia juga menulis buku Cami d’Itaca (Road to Ithaca).

Redondo mungkin belum sampai tahap menulis buku, yang pasti ia penikmat buku. Alih-alih refreshing, nonton film atau bermain playstation jelang laga, Redondo lebih memilih untuk membaca buku. Jose Luis Borgez yang popular dengan quote-nya – “Soccer is popular, because stupidity is popular”- ternyata digemari karyanya oleh Redondo.

Jadi apakah perlu alasan lain lagi untuk mencintai Redondo? Karena sesudah ini saya mau baca buku karya Gabriel Garcia Marquez; penulis yang juga menjadi favorit Redondo sebagai bentuk rasa cinta saya kepadanya. Sekaligus sebagai pengingat bahwa ada seorang pemain Real Madrid yang (pernah) saya cintai sekali seumur hidup.