48292.jpg
Foto: http://www.suluttoday.com
Perempuan · 4 menit baca

Quo Vadis Gerakan Keperempuanan Organisasi Mahasiswa di Kabupaten Jember

Tak bisa dimungkiri lagi, peran dan sumbangsih perempuan dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar. Sejarah telah banyak mencatat tokoh perempuan Indonesia yang hidupnya didedikasikan untuk masa depan nusa dan bangsanya. Tak jarang dari mereka banyak yang harus mengorbankan keluarga yang dicintai dan bahkana dirinya sendiri untuk tujuan yang sangat mulya. 

Begitu pula dengan kaum perempuan pada era saat ini sudah banyak yang mampu menunjukkan eksistensinya degan utuh. Mereka tidak lagi terjerembab dalam stigma dan pandangan konservatif yang cenderung  mengekang dan membelenggu mereka dalam keterpurukan serta pengucilan dalam masyarakat.

Eksistensi peran perempuan pada masa ini khususnya di Indonesia  bisa dibuktikan dengan meningkatnya tren keterwakilan perempuan diberbagai bidang kegiatan sosial kemasyarakatan, lembaga independen negara, badan legislatif, dan partai politik.

Seiring dengan peningkatan tren peran perempuan, akhirnya disahkanlah beberapa Undang-undang (UU) yang pada dasarnya dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi kaum perempuan agar mengibarkan kiprahnya tanpa ada diskriminasi dan menjunjung tinggi kesetaraan gender seperti UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD, UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu, dan UU No. 2 Tahun 2008 tentang syarat pendirian Partai Politik yang kesemuanya itu mengatur jumlah prosentase keterwakilan perempuan sebanyak minimal 30%. 

Dengan adanya bukti konkrit keterlibatan perempuan dalam ranah publik dan kesempatan khusus yang telah diberikan pada mereka, sepatutnya menjadi penjelas bagi kita semua bahwasannya kaum perempuan memang sudah benar-benar memiliki andil dalam menentukan nasib bangsa kedepannya dan tidak lagi seperti dulu yang merasa kerdil dan termarjinalkan.

Menurut Kiai Ahmad Dahlan “Wanita merupakan aset umat dan bangsa. Tidak mungkin membangun peradaban umat manusia apabila para wanita hanya dibiarkan berdiam diri di dapur dan rumah saja.” Selain peran domestik sebagai ibu dan istri, seorang perempuan juga mempunyai tugas yang tidak kalah pentingnya yaitu peran publik, dimana kiprah dan sepak terjang keperempuanannya selalu ditunggu oleh masyarakat yang pasti membutuhkan sosok perempuan. 

Kemajuan perempuan didalam pendidikannya hari ini juga membawa dampak positif. Alhasil, perempuan terdidik tidak lagi merasa puas bila hanya menjalankan peranannya di rumah saja mereka perlu mengamalkan ilmu yang mereka dapat bagi masyarakat. Mereka juga dituntut untuk mampu menunjukkan keahlian dan kapabilitasnya dalam berbagai bidang yang akan bermuara pada pembenahan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik.

Dewasa ini telah kita ketahui bersama bahwasannya isu-isu keperempuanan masih tetap hangat dan seksi untuk didiskusikan bersama baik dari skop terkecil hingga yang paling besar sekalipun.

Ketika membicarakan tentang peranan perempuan, tentu sangat menarik untuk menyoroti gerakan keperempuanan organisasi mahasiswa di Kabupaten Jember, antara lain KOHATI Organisasi keperempuanan milik HMI, KOPRI sebutan kelompok perempuan milik PMII, Sarinah milik GMNI, Immawati milik IMM, dan masih banyak lagi yang lain. 

Dari sekian banyaknya organisasi keperempuanan mahasiswa di Kabupaten Jember, tapi masih sedikit sekali dari mereka yang mampu menjadi intellectual organic yang menurut Gramschi adalah mereka yang tidak hanya pandai dalam keilmuan tetapi mereka yang juga mampu menyatu dengan masyarakat.

Fakta di lapangan pun tidak bisa dinafikan, hari ini belum ada gaung yang terdengar dari gerakan-gerakan kaum perempuan di kabupaten Jember yang secara aktif dan masif berkontribusi pada pembangunan masyarakat.

Hidup segan mati pun tak mau mungkin pepatah itu yang mampu mengungkapkan keadaan gerakan mahasiswi di Jember yang selama ini telah dinanti-nanti benar kehadiran dan sumbangsihnya bagi masyarakat. Mereka telah banyak disibukkan dengan urusan internal organisasi yang akhirnya berdampak pula  pada hilangnya eksistensi, pengaruh, dan kebermanfaatannya. 

Organisasi keperempuanan tersebut di atas juga belum bisa menentukan tujuan serta arah gerakannya yang bisa saja membuat organisasi mengalami disorientrasi dan impotensi. Hal ini perlu menjadi koreksi kita bersama khususnya kaum perempuan yang aktif dalam wadah gerakan membangun sumber daya manusia untuk menyatukan visi dan misi, terlebih untuk mengoptimalkan agenda-agenda yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. 

Menumbuhkan kesadaran bersama untuk saling memberikan masukan-masukan atau bahkan kritikan terhadap gerakan kaum perempuan yang hari ini sudah sangat mengalami kejumudan juga perlu terus ditingkatkan.

Apa yang dilakukan oleh gerakan-gerakan perempuan bukanlah sekadar menuntut peran dengan harapan belas kasih kaum lelaki, tetapi membuktikan kemampuan dirinya, seperti jalan yang telah ditempuh oleh tokoh-tokoh perempuan Indonesia di masa lampau. Di dalam pembuktian diri, diskriminasi pada akhirnya akan meleleh.

Gerakan sosial tentu harus dilakukan melalui jaringan kerja sama dengan gerakan perempuan lain, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Masalah perempuan merupakan masalah yang sangat kompleks karena itu membutuhkan kerjasama yang apik agar masyarakat menjadi lebih baik.

Didirikannya organisasi gerakan perempuan tentulah dimaksudkan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kaum perempuan dan bagi masyarakat pada umumnya sebagaimana dikemukakan Syafiq Hasyim dalam buku “Bebas dari Patriarkisme Islam” bahwa gerakan perempuan baik di Barat ataupun di dunia Islam memiliki tujuan yang sama, yaitu membebaskan perempuan dari kedudukan yang tersubordinasi, terepresi dan termarjinalisasi menuju kedudukan yang seimbang dengan kaum laki-laki.

Mahasiswa sebagai agent of change, memainkan peran pentingnya dalam membangun sumber daya manusia di wilayahnya, tak terkecuali mahasiswi yang tergabung dalam wadah gerakan keperempuanan. Sekali lagi, masyarakat sangat mengharapkan fungsi dan peranan gerakan keperempuan bisa diimplementasikan secara maksimal dan dapat dirasakan lansung oleh masyarakat.

Ini harusnya menjadi perhatian khusus bagi gerakan-gerakan keperempuanan di Jember. Tak perlu mengeksklusifkan diri, memikirkan bagaimana caranya mendapatkan jejaring dari kalangan eksekutif ataupun kalangan legislatif. Banyak persoalan dimasyarakat yang perlu kita pikirkan dan kita selesaikan bersama-sama. Mulai dari masalah pendidikan, ekonomi masyarakat, kesehatan masyarakat dan masih banyak lagi.

Ketika gerakan keperempuanan mulai menyentuh beberapa aspek penting di masyarakat dan mampu memberdayakan kaumnya, maka sedikit demi sedikit masalah yang banyak bermunculan mulai bisa terurai dan teratasi. Bisa dibayangkan ketika organisasi-organisasi keperempuan secara aktif dan progresif melakukan peranannya, maka akan sangat mungkin akan tercipta sebuah tatanan masyarakat adil makmur yang didambakan oleh masyarakat. 

Maka, sudah saatnya bagi kita kaum perempuan yang terdidik yang memiliki visi dan misi yang besar untuk bersama bahu membahu, menyatukan pemikiran, dan harus berani bertindak besar. Kaum perempuan adalah tiang negara. Mari kokohkan dan perkuat negara ini dengan kehadiran kita. Sudah bukan zamannya lagi untuk berjuang sendiri-sendiri.