Ketik untuk memulai pencarian

Populis Namun Kabur Dalam Pemaknaan

Populis Namun Kabur Dalam Pemaknaan

Equality Before The Law

Sumber Foto: www.justinkemerling.com

“Equality before the law”— kalimat ini populis banget! Sangking populisnya, jangankan mahasiswa hukum semester 1, murid kelas 1 SMA yang berencana kuliah jurusan hukum (3 tahun lagi, tentunya) pun banyak yang familiar. Sayang dua ribu sayang—suatu ungkapan kekecewaan selevel di atas sayang seribu sayang—istilah hukum yang populis nan merdu ini sangat kabur dalam pemaknaan.

Catat ini: Dalam bahasa Indonesia, equality before the law memiliki arti persamaan di hadapan hukum; artinya hukum tidak membeda-bedakan, hukum sebagai jalan menuju keadilan, hukum sebagai corong peradaban, anak hukum menantu idaman.

Catat!

Secara kontekstual tak sedikit orang yang hapal istilah itu. Tak sekedar hapal, bahkan tak sedikit pula yang mengejawantahkan istilah equality before the law ke dalam berbagai istilah lainnya, mulai dari 'Sabda Tuhan' hingga anekdot 'Nyanyian Merdu Sang Dewi Keadilan'. Waah.. waah..

Saya sendiri sudah melakukan sebuah riset yang cukup jarang dilakukan oleh ilmuwan di belahan dunia lain, yaitu mengumpulkan istilah equality before the law dalam berbagai bahasa di dunia. Berikut adalah istilah equality before the law dalam berbagai bahasa:

Dalam bahasa Jerman berbunyi Gleichheit vor dem Gesetz; dalam Bahasa Belanda berbunyi Gelijkheid voor de wet; dalam Bahasa Arab berbunyi almusawat ‘amam alqanun; dalam Bahasa Italy berbunyi uguaglianza davanti alla legge; dalam Bahasa Spanyol berbunyi igualdad ante la ley; dalam Bahasa Thailand berbunyi khwam theatheiym kan kxn kdhmay; dan dalam bahasa Batak berbunyi Hepeng do na mangatur negara on!

Perlu kalian ketahui, penelitian ini saya lakukan HANYA dengan bantuan Google Translate. Kurang bangga apa saya.

Khusus untuk arti dalam bahasa Batak, tidak ada di Google, tapi saya pernah dengar langsung dari Bang Adian Napitupulu.

Baiklah, terlepas dari hasil penelitian fenomenal saya, equality before the law tetaplah istilah populis yang kabur dalam pemaknaan. Bias makna. Persamaan di muka hukum menggambarkan objektifitas hukum itu sendiri. Hukum tidak diskriminatif. Hukum bisa menjerat orang putih–hitam, mancung–pesek, kaya–miskin, tinggi–pendek, ganteng–jelek, tua–muda, pria–wanita, LG–BT, dll.

Hukum adalah nilai-nilai idealisme yang lahir dalam sejarah peradaban umat, menjamin hak-hak asasi manusia serta membantu para pemuka agama menyelesaikan misi perdamaian surgawinya.

Secara teoritis, itulah esensi mulia dari istilah yang sejak awal kita bahas ini, meski pada kenyataannya sering terjadi monopoli dalam penegakan hukum. Sulit memang untuk merangkai kalimat yang tepat demi mengantarkan equality before the law pada puncak pemaknaannya. Maka wajar jika banyak kontradiksi dan friksi dalam pranata hukum itu sendiri.

Bagaimana mungkin nilai idealisme bisa dipahami oleh mereka yang membicarakannya sambil mencocokan keadaan?

Bagaimana mungkin hukum dan penerapannya berlaku bagi pembuat dan pelaksananya?

Bagaimana mungkin hak asasi manusia menjadi penting bagi mereka yang mengejar haknya dengan menguliti manusia lainnya?

Equality before the law, populis namun kabur dalam pemaknaan!

Time will tell. Biarlah waktu yang menjawab.

Pada intinya, hukum menjadi suatu rule dalam kehidupan bermasyarakat. Hukum bertujuan untuk memanusiakan manusia.

Masyarakat berkembang menjadi semakin sadis, memanusiakan manusia pun kini dianggap jargon konvensional. Kolaborasi hebat antara pendidikan dan agama, telah sukses menghantarkan manusia pada karakter individualis.

Kita hidup beriringan dalam masyarakat berbasis ketakutan. Berbuat baik karena takut masuk neraka, 'blusukan' karena takut tidak dicoblos, menikah karena takut kehabisan stok. Semua lahir dari rasatakut, bukan cinta.

Mayoritas masyarakat hari ini meyakini dogma bahwa kehidupan adalah persaingan. Tak sedikit yang bersaing dengan kesadaran bahwa demi mencapai keuntungan, harus ada yang dirugikan. Seolah sudah suratan sudah takdir, yang kuat menguasai, yang lemah dikorupsi, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, yang pintar membodohi, yang bodoh ditipudaya. Bagai kisah plebeian dan patrician dalam sejarah Romawi kuno, manusia terdikotomi dalam kelas sosial.

Pak, Bu, kalau cuma punya badan cungkring, tulang letoy, otot seupil, duit pas-pasan, IQ tiarap –setingkat dibawah jongkok—, wawasan seluas tempurung, sudah hakikatnya jadi korban. Maka dari itu, kalau gak mau bonyok harus bisa gedein badan, rajin-rajin baca koran, banyakin teman yang sepenanggungan. Emang gak cape ngarep sama dewan? Konsep keterwakilan cuma angan. Turun ke jalan, nyanyi lagu perlawanan!

Memang sulit. Maka dari itu banyak yang berhenti di tengah jalan, skeptis akan perubahan, pesimis dengan pergerakan, ingin cepat sejahtera dengan cara sederhana, mencari 'tuan' berbadan besar, masuk barisan, minta kerjaan, bela si 'tuan' mati-matian, sambil berharap terhindar dari kutukan. Gak perlu ngepet, dapat sekantung uang, tarik urat lalu bilang “Ini lho keadilan”. Keadilan dalam sekantung uang. Banyak! Banyak yang seperti itu.

Tapi tenang, dengan nutrisi suplemen perjuangan dan suntikan vitamin kebersamaan, cepat atau lambat, keadilan sejati akan menemukan sendiri jalan pulangnya. Tepuk tangan dulu..

Hidup terlalu singkat hanya untuk bersaing. Kita bisa berdampingan memanfaatkan alam. Bekerja sesuai kemampuan, demi penghasilan yang sesuai kebutuhan.

Bagi mereka yang percaya bahwa hidup adalah persaingan, roda akan terus berputar. Mereka yang kalah bersaing sewaktu-waktu bisa merugi, dan bahkan, bukan tidak mungkin berakhir dalam pelukan kemiskinan. Kemiskinan itulah yang kelak membuat mereka paham esensi sejati equality before the law dan manusia memang harus dimanusiakan. Time will tell.

Agar terkesan relijiyes jasmani dan rohani, saya tutup dengan nada positif.

“If you realized how powerful your thoughts are, you would never think a negative thought.”

Aris Perdana Panggabean

Manusia yang dikutuk untuk bebas | Penikmat kopi, kata dan bahasa | @arisperd

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016