Ketik untuk memulai pencarian

Politik Sang Serigala Berbulu Domba

Politik Sang Serigala Berbulu Domba

Foto: Pixabay

Cerita ini sedikit mengawur tetapi kemengawuran ide cerita ini bukanlah pertanda kemengawuran penceritanya. Bagaimana mungkin di rimba terjadi pertarungan politik yang sengit? Tetapi itulah analogi perpolitikan manusia dewasa ini. Ada yang menjadi domba benaran dan ada juga yang bermain peran menjadi serigala yang berbulu domba.

Pada dasarnya, serigala itu buas dan haus darah ketika kelaparan. Dia hidup di rimba. Bersama penghuni rimba lainnya dia menunjukkan kekuasaanya. Begitu banyak hewan lainnya takluk dan takut kepadanya. Tidak heran jika serigala adalah rajanya hutan. Mungkin hanya batu sebagai benda mati yang tidak menaruh rasa takut kepadanya. Akan tetapi, jika batu memiliki insting ketakutan, pasti dia juga takut kepada sang serigala.

Bagaimana ceritanya jika si serigala ikut berpolitik? Apakah dia ditakuti atau malah dikeroyok sehingga kekuasaanya terkalahkan? Jika serigala berpartisipasi dalam politik, dia akan mengikuti paham Machiavellisme di mana segala hal dapat dilakukan demi kekuasaanya termasuk menunjukkan kebuasannya.

Jika taktik perpolitikan seperti ini yang digunakannya, dia kehilangan simpati karena para penghuni rimba kenal benar konsekuensi dari kekuasaan politis sang serigala. Mereka akan menjadi umpan kebuasan sang srigala selama ia berkuasa.

Sang serigala bukanlah tokoh politik ecek-ecek. Dia sangat pandai berpolitik.Taktik yang digunakan sang serigala adalah bermetamorfosis menjadi domba. Kita tahu bahwa domba adalah binatang yang tulus dan tidak memiliki niat jahat di dalam dirinya. Untuk meraih simpati pemilihnya, serigala menggunakan bulu domba agar hakikat asalinya ditutupi oleh bulu domba tersebut walaupun secara substantif dia tetaplah seekor serigala.


Follow Qureta Now!

Sang serigala berbulu domba bertarung merebut hati penghuni rimba dengan seekor domba sejati.

Wajah perpolitikan sang serigala tentu saja merugikan kebersamaan kaum rimba. Kehendak hati sang domba sejati yang berusaha sedemikian rupa untuk memenangkan hati penghuni rimba menjadi usaha yang sia-sia karena sang serigala begitu lihai memerankan sandiwara cintanya. Si domba sejati menjadi tak berdaya tatkala sebagian besar penghuni rimba mendukung sang domba palsu.

Si serigala berbicara tentang kebenaran palsu dan memberi harapan palsu bahwa kedamaian akan ditegakkan di tengah rimba ini tatkala kita bersatu. Penghuni rimbapun berteriak histeris dan memekikkan dukungannya.

Apa yang terjadi dengan perpolitikan kaum rimba? Yang semula muncul harapan akan adanya perdamaian karena sang domba akan berkuasa, menjadi tragedi yang memilukan. Tragedi itu muncul karena tertidurnya kesadaran para punggawa rimba tentang jati diri sang domba.

Mereka hanya melihat calon penguasa dari kulit luarnya saja. Tatkala tubuh yang penuh dengan kebuasan dihiasi oleh pakaian berbulu domba, semua penghuni rimba bersorak riang mendukungnya.

Di tengah  riuhnya penghuni rimba mendukung sang serigala berbulu domba, hanya sedikit penghuni rimba yang berbicara tentang kebenaran bahwa sang domba itu adalah serigala. Akan tetapi begitu banyak pendukung sang serigala menutup hati terhadap seruan para pemberita kebenaran. Mereka menutup pintu kehadiran para pembawa kebenaran tersebut. Punya telinga tetapi tidak mendengar dan mempunyai mata tetapi tidak melihat.

Wahai para pendukung domba palsu, bukalah mata kalian dan sendengkanlah telingamu. Sesungguhnya dia yang kamu sanjung itu adalah pembunuhmu. Dia pembawa mala petaka dan bencana. Seluruh kaum di rimba ini akan menjadi makanan empuknya karena segala sesuatu berada di dalam kendalinya.

Sadarkah kalian bahwa massa pendukung domba palsu tidak menghiraukan seruan kebenaran tersebut? Mereka terbius oleh kemolekan tubuh srigala yang berbulu domba dengan warna keemasan.

Beberapa daerah di Indonesia sedang melaksanakan pilkada serentak. Hati-hatilah memilih. Pilihlah orang yang datang membawa perubahan bukan pembawa bencana dan malapetaka. Hati-hati dengan pakaian indah dan perkataan manis yang diucapkan.

Semua manusia  bisa mengumbar janji, tetapi hanya sedikit yang konsekuen dengan janjinya. Yang semula berjanji menyejahterahkan rakyat malah mereka itulah yang akan menggadaikan martabat rakyat demi keuntungan pribadi. Hati-hati dan jadilah pemilih cerdas.

Wilhelmus Sukur

Berani berpikir sendiri dan membebaskan diri dari perbuidakan ideologis...

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016