27578.jpg
ist
Budaya · 7 menit baca

Pluralisme, Israel-Yahudi, dan Islam Nusantara

Tulisan ini pernah dipresentasikan oleh penulis pada Diskusi Mingguan FKMSB Ciputat yang diselenggarakan setiap malam Sabtu di basecamp FKMSB Ciputat atau di depan Kopertais.

Islam, di tulisan ini, bukan ditinjau hanya dari sisi agama, melainkan dari sisi-sisi yang lain. Tentu saja, sebelum keluar dari ‘sisi agama’, tulisan ini akan menyentuh sisi-sisi keagamaan Islam, sebab masih banyak ‘keluarga Islam’ yang melihat Islam sangat sensitif terhadap isu-isu yang sebenarnya ‘tidak ada hubungannya’ dengan agama, namun mereka melihatnya harus ditinjau dari sisi agama.

Islam, bagi mereka, tidak boleh keluar dari term agama. Padahal, Islam memiliki banyak sisi, yang kadang secara sepintas saja, bisa berhadapan secara diametral jika dilihat dari sisi Islam sebagai agama.

Agama, di dalam tulisan ini, penulis artikan dengan sangat sempit, yaitu teologi dan fikih. Yang penulis maksud dengan teologi di sini adalah tauhid, sebab tulisan ini hanya akan membahas tentang Islam, sehingga teologi juga diberi arti yang sangat sempit, yaitu tauhid (monoteisme). Dengan kata lain, Islam sebagai agama berarti Islam dilihat dari sisi ilmu tauhid dan ilmu fikih.

Dari sisi ini, agama Islam adalah agama yang benar. Satu-satunya agama yang benar adalah agama Islam. Selain agama Islam adalah agama yang salah.

Dari sisi ini pula, surga hanya milik agama Islam. Selain agama Islam, pemeluknya masuk neraka, kelak di akhirat. Meskipun demikian, dari sisi ini, perlu ditegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan pembunuhan, premanisme, caci maki, bom bunuh diri, terorisme, dan tindakan sewenang-wenang lainnya.

Diskursus Islam dari Berbagai Sisinya

Pada bagian ini, penulis mengangkat tiga diskursus, yaitu; a) pluralisme agama, b) Islam, Yahudi, dan Israel, dan c) Islam Nusantara, sebagai ‘wakil kecil’ dari banyak diskursus Islam dari berbagai sisinya seperti kesetaraan gender, liberalisme, sekularisme, pribumisasi Islam, demokrasi, dan lainnya.

Dari ketiga diskursus ini, penulis ingin membuka kebekuan cara pandang yang selama masih kaku di wilayah teologis (tauhid-fikih). Sebenarnya, diskursus ini sudah lama bergulir, dan barangkali sudah agak usang untuk diangkat.

Pluralisme Agama

Semua agama adalah benar, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha, Sikh, dan agama lainnya. Tentu saja, ‘benar’ di sini tidak dilihat dari sisi tauhid dan fikih, namun dari sisi lain. Melihat agama dari sisi tauhid dan fikih sudah selesai sebagaimana telah disinggung di atas. Banyak cara melihat sisi kebenaran agama-agama itu, misalnya, salah satunya, dari sisi Ilmu Perbandingan Agama.

Dalam kaitannya dengan kebenaran agama yang dikaji oleh Ilmu Perbandingan Agama, maka secara metodologis agama dijadikan sebagai fenomena yang riil, sekalipun dirasakan agama itu abstrak dan subjektif (Adeng Muchtar Gazali, Ilmu Perbandingan Agama Pengenalan Awal Metodologi Studi Agama-Agama, 2000).

Di bagian B, penulis akan mengemukakan beberapa cara memandang Islam di luar term teologis (fikih-tauhid).

Melihat ‘benar’ di sini bisa menggunakan teori kebenaran, yaitu teori kebenaran koherensi, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran pragmatis. Tentu saja, sangat sulit menerima kebenaran di luar agama sendiri, sebab kebenaran itu hanya satu.

Tidak ada kebenaran ganda. Jika agamaku salah, maka agamamu benar, begitu juga sebaliknya. Tidak mungkin agamaku dan agamamu benar semua dalam waktu yang bersamaan.

Namun sekali lagi, membahas kebenaran agama lain sebagai kesalahan dengan cara menolak pluralisme berarti menghindari untuk memasuki sebuah sistem di mana sebuah terminologi itu bermula (dengan asumsi, menerima terminologi itu adalah pintu masuk ke dalam sistem itu) dan kita ingin masuk ke dalamnya untuk mengikuti ‘permainan’ ‘mereka’.

Membenarkan semua agama di waktu dan titik pandang yang sama sulit dipertanggungjawabkan. Namun, dari satu sisi, hal itu bisa ditemukan demi kepentingan sebuah argumen, diskusi, dan masuk ke sebuah sistem.

Poin kebenaran itu bisa ditemukan di dalam teori kebenaran korespondensi di mana tidak hanya satu agama di dunia. Pluralisme agama, dengan mengikuti kebenaran korespondensi ini, bisa ditolak dengan mengajukan term pluralitas agama. Namun, sekali lagi, menolak pluralisme, meskipun dengan mengajukan term tandingan, yaitu pluralitas, berarti ‘mundur sebelum bertanding’, atau setidaknya ‘tidak menerima argumen lawan’ dan ‘hanya mau menang sendiri’.

Sebagai perbandingan, sekularisme agama di mana diartikan pemisahan agama dan politik, dari satu sisi ditolak mentah-mentah. Dengan menolaknya, berarti meletakkan sekularisme dimonopoli oleh, katakanlah, Barat. Padahal, Islam juga membutuhkan sekularisme, dalam konteks tertentu, misalnya dalam konteks Indonesia.

Dengan demikian, menerima sekularisme dengan arti pemisahan agama dan politik, sebagaimana sudah terjadi di negara Indonesia sebagai negara dengan dasar Pancasila (bukan Islam), di mana menurut fikih Bughyat al-Mustarsyidin negara Indonesia adalah negara Islam, berarti Islam menerima sekularisme dengan terminologinya sendiri dan latar belakangnya sejarah dan politiknya sendiri.

Islam, Israel, dan Yahudi

Orang Israel adalah keturunan Nabi Ya’qub as. Orang Yahudi adalah keturunan nabi Ishaq as. Dengan kata lain, secara nasab, mereka lebih mulia dari ‘kita’. Satu orang Israel atau sekelompok orang Israel yang membunuh, hanya mereka lah yang dihukum sebagai pembunuh, bukan keseluruhan bangsa Israel dicap sebagai pembunuh.

Maka, orang Israel yang tidak membunuh, mereka tidak dihukum sebagai pembunuh. Mereka adalah orang baik sebagai keturunan Nabi Ya’qub as. Mereka harus menyadari bahwa mereka adalah keturunan orang baik yang harus bertindak, bersikap, berperilaku, dan melakukan perbuatan orang mulia semulia Nabi Ya’qub as, Nabi Musa as, Nabi Yusuf as, Nabi Ismail as, Nabi Ibrahim as, dan Nabi-Nabi Israel lainnya as.

Wa lan tardha ‘ankal Yahudu wa lan Nashara hatta tattabi’a millatahum (QS al-Baqarah [2]: 120): Ayat ini tidak dapat dijadikan dasar bahwa ahli kitab berusaha untuk mengkristenkan umat Islam, apalagi me-yahudi-kannya. Bahwa ada yang berusaha untuk maksud tersebut, tentu saja tidak dapat disangkal, namun bukanlah ayat ini yang berbicara tentang hal tersebut. Demikian tulis M Quraish Shihab di dalam ‘Kaidah Tafsir’.

Maksud redaksi ayat ini, masih kata Quraish Shihab, menggambarkan keputusasaan menyangkut kemungkinan orang Yahudi dan Nasrani tertentu memeluk Islam. Mustahil mereka mengikuti agamamu, wahai Nabi Muhammad saw. Itulah yang dimaksud dengan firman-Nya: ‘Orang-orang yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sepanjang masa hingga engkau mengikuti agama mereka’.

Jika anda berkata ‘ada kok orang Yahudi dan Nasrani yang memeluk agama Islam!’. Saya berkata, sebagaimana tulis Quraish Shihab, ‘Yang dimaksud dengan Yahudi dan Nasrani oleh ayat ini adalah orang-orang tertentu di antara mereka, bukan semua mereka’ (Quraish Shihab, Kaidah Tafsir, (Tangerang: Lentera Hati, 2013), hlm 152-153).

Pemahaman bahwa ahli kitab berusaha untuk mengkristenkan umat Islam, apalagi me-yahudi-kannya, masih tulis Quraish Shihab, tidak sejalan dengan makna yang dikemukakan oleh ulama-ulama tafsir masa lalu, seperti Fakhruddin al-Razi (lahir 543H/1148M), bahkan oleh tafsir yang sangat populer dan sedehana, al-Jalalain.

Tidak sejalan juga dengan ulama tafsir masa kini, seperti Muhammad Ibn ‘Asyur (w. 1972 M) dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir, juga Muhammad Sayyid Thanthawi (w.2010 M), mantan Mufti Mesir dan Syeikh al-Azhar Mesir.

Penafsir al-Quran harus berhati-hati. Jangan menggeneralisir yang bersifat khusus, walau redaksinya bersifat umum. Jangan juga menjadikan yang lokal menjadi universal, atau yang langgeng padahal dia bersifat sementara.

Misalnya, masih kata Quraish Shihab, kata Bani Israil di dalam al Quran, walaupun dapat mencakup orang-orang Yahudi dan Nasrani, kapan dan di mana pun, tetapi pada umumnya (Cetak tebal (bold) oleh Quraish Shihab sendiri sebagaimana di dalam buku yang saya kutip) yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah orang-orang Yahudi pada masa lalu atau masa turunnya al Quran.

Islam Nusantara

Menurut KH Aqil Siradj, Afganistan yang 100 % penduduknya Islam, Somali yang juga 100% Islam selalu berperang sesama Islam, karena tidak mempunyai komitmen kebangsaan (Dialog KH Said Aqil Siradj, ketum PBNU, di Mata Najwa dalam tema ‘Belajar dari KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari’ di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Islam Nusantara adalah Islam yang mempunyai komitmen tinggi terhadap kebangsaan.

Islam Nusantara muncul dengan membawa ide dan konsep tentang Islam khas nusantara. Konsep ini pada dasarnya mewacanakan Islam Nusantara sendiri, bukan Islam Mesir, Islam turki, Islam libia. Maksudnya, Islam di berbagai dunia itu saling berbeda. Indonesia mempunyai Islam sendiri, begitu juga dengan Mesir mempunyai Islam sendiri, Amerika mempunyai Islam sendiri yang semuanya saling berbeda, yang dari sisi tertentu tidak mungkin dicari titik temunya.

Islam Nusantara, oleh penggagasnya, digadang-gadang sebagai potret Islam yang rahmatan li al-‘alamin. Hal itu bisa dilihat dari Islam Nusantara yang cenderung lebih moderat terhadap perbedaan struktur sosial (Islam vs Islam, Islam vs non Islam). Kondisi inilah yang membedakan Islam Nusantara dengan keadaan Islam Timur Tengah.

Sebagai contoh, terjadi perang saudara muslim Libia, Mesir. Selain itu, konsep Islam Nusantara dimaksudkan untuk membendung arus gerakan dan ajaran Islam radikal semisal keberadaan ISIS, Taliban, Ikhwanul Muslimin, Wahabisme.

Islam Nusantara, menurut Muhibbin Zuhri, mengandaikan polarisasi baru menjadi dua kutub pola keberagamaan yang seringkali berada dalam posisi berhadapan (binary opposition), antara kalangan pesantren dan para pendukung gerakan pembaruan Islam.

Kutub pertama adalah kelompok yang tetap mempertahankan kehidupan bermadzhab, taklid, dan pelaksanaan ritual peringatan kelahiran (maulid) Nabi, ziarah ke makam Rasulullah saw dan makam leluhur serta para wali, dan lainnya.

Sementara kutub yang kedua adalah para pendukung gerakan pembaruan Islam yang sangat terpengaruh oleh gerakan Wahabi, yang menuding pola keberagamaan yang berkembang di tengah masyarakat sebagai penuh takhayul, bid’ah, khurafat.

Dalam kajian sosiologis, dua kutub yang berhadapan ini biasanya diidentifikasi dengan distingsi tradisionalis-modernis. Kalangan modernis banyak terinspirasi oleh ide-ide Wahabisme Timur Tengah, mulai menyerang pola-pola keberagamaan muslim tradisional, terutama di Jawa.

Kehidupan bermadzhab dan taklid merupakan dua bentuk pola keberagamaan yang menjadi sorotan utama kalangan modernis. Menurut pihak pembaru Islam, bermadzhab merupakan satu bentuk artikulasi yang tidak ada rujukannya dalam Islam.

Sebagai gantinya, kalangan pendukung gerakan pembaruan Islam mengusung gagasan keharusan berijtihad dengan mengacu secara langsung pada sumber otentik dalam Islam, yaitu al Quran dan al Sunah (Achmad Muhibbin Zuhri, Pemikiran KH.M. Hasyim Asy’ari tentang Ahl al Sunnah wa al Jamaah (disertasi), (Surabya: Khalista, 2010), hlm 221-222).