img-20161219-wa00271.jpg
Desa Wisata Brumbun, 19 Desember 2016
Wisata · 4 menit baca

Pesona Surga Dunia di Desa Wisata Brumbun

Madiun, sebuah kota kecil yang jauh dari keramain hiruk pikuk kota yang sesungguhnya. Aku bukan penduduk asli kota ini. Tugasku sebagai seorang istri dari suami yang harus dimutasi kesana kemari membuatku ada di sini. 4 tahun tinggal disini dan sudah menjelajahi kota kecil ini membuat ku menemukan "surga dunia" yang tak pernah kutemukan sebelumnya.

Menjadi warga "asing" yang terdampar di sebuah kota kecil ini tak membuatku terlena dalam keasinganku. Memang, aku seorang ibu rumah tangga rumahan yang tidak menggunakan ijazah sarjanaku untuk mencari pekerjaan. Aku hanya tinggal dirumah mengurus 2 malaikat kecilku & membuka "Taman Belajar Al-Masroor".

Singkat cerita, Taman Belajar Al-Masroor adalah tempat pendidikan belajar moral, dan pelajaran sekolah secara gratis. 2 tahun lebih kudirikan dengan dukungan dari suami. Menerima anak - anak dari kalangan apa pun. Kebanyakan anak - anak Taman Belajar Al-Masroor memang anak - anak yang sedikit termarginalkan karna himpitan ekonomi.

Disetiap masa liburan, sebisa mungkin aku & suami mengajak anak - anak Taman Belajar Al-Masroor untuk berwisata bersama. Liburan kali ini, aku ingin ada hal yang "berbeda' untuk anak - anak. Memang, barangkali inilah yang dinamakan dengan jodoh.

Alih - alih ingin survei tempat wisata, kami malah menemukan "surga dunia" yang terpendam di sebuah Desa Kecil bernama Brumbun. Selama tinggal di Madiun, jangankan mengunjungi desa ini, mendengarnya saja tidak pernah. Tapi, waktu mengunjunginya, luar biasa. Spechless, tak dapat diungkapkan bagaimana luar biasanya kenikmatan yang bisa dirasakan.

Tak sekedar hanya survei, mata kami dimanjakan dengan pemandangan alami nan sejuk. Membuat luntur lelahnya rutinitas harian yang harus kami jalani. Fix, deal, tanpa fikir panjang lebar kami memutuskan memboyong anak - anak Taman Belanjar Al-Masroor ke Desa Wisata Brumbun. Bermodal 3 volunteer, kami sama - sama mengatur acara dari pagi hinga siang untuk anak - anak.

Senin, 19 Desember 2016 pagi kami membawa anak - anak untuk berwisata ke Desa Brumbun. Pada awalnya, mereka pun merasa asing dengan desa wisata ini. Karna memang, desa wisata ini baru menjadikan desa ini sebagai tempat wisata 5 bulan yang lalu. Kami pun banyak bercerita dan sharing dengan salah 1 penggagas desa wisata ini.

Niat awalnya penggagas ini hanya ingin memanfaatkan potensi alam yang ada dan mensejahterakan masyarakat di desa ini. Menurutku, berwal dari niat yang luar biasa ini, memang menjadikan desa ini menjadi luar biasa.

Aksen - aksen alami masih terpampang jelas disetiap mata pengungjung. Bangku - bangku, jembatan, hingga hiasan - hiasan pun terbuat dari bahan alam. Sekilas, tak ada hal - hal yang menjadikan desa ini berubah menjadi tempat wisata yang penuh aksen - aksen kemewahan pada umumnya. Suara gemercik air mengalir dan gemuruh alami air terjun menyebarkan aroma kedamaian. Cita rasa desa nan penuh kedamaian memanjakan pengunjung yang berniat mencari ketenangan.

Pengunjung tidak hanya dimanjakan dengan pesona alam daratan. Pesona air terjun yang dinamai dengan "Air Terjun Cinta", menanti setiap pengunjung untuk melepas kepenatan. Jujur, sebetulnya aku perempuan penakut yang tak berani merambah hal - hal yang menguji adrenalin.

Namun, ketika melihat anak - anak menikmati suguhan sungai dengan bebatuan yang eksotis membuat rasa penasaranku membuncah. Kontan saja, tanpa fikir panjang aku menikmati pesona sungai ini. Rasanya memang luar biasa. Air yang dingin dan bersih sangat menyejukan. Membuat betah berlama - lama di dalamnya. Kepuasan dan kebahagian terpancar alami di wajah setiap anak.

Rasanya bahagia teramat sangat. Namun, kepuasaan kami tak berhenti sampai disitu saja, kami bersama - sama menaiki "Air Terjun Cinta" yang menjadi suguhan utama desa wisata ini. Penasaran rasanya? wah rasanya dashyat. Rasa dingin berlama - lama di air dimanjakan dengan pesona rasa baru. Air terjun yang terasa hangat memanjakan kami dengan cara yang lain. Luar biasa, anak - anak terlihat sangat puas bersama - sama di air terjun cinta ini.

Tak ketinggalan menyimpan dalam bentuk memori diwaktu yang akan datang. kami wefie bersama di air terjun ini sambil berteriak "Al-Masroooor". Luar biasa puasnya melihat pancaran kebahagiaan yang ada disetiap wajah semua anak - anak.

Begitu pun untuk diriku sendiri, bergumam dihatiku, untuk pertama kalinya aku merasakan kenikmatan pesona air terjun cinta. Inilah surga dunia yang sesungguhnya. Yang menawarkan ketenangan dan kedamaian di hati dan fikiran. Bukan tempat wisata mewah yang harus antri bermeter - meteran dan penuh kebisingan. Alih - alih mencari kenikmatan yang ada kesakitan. (baca: pengalaman pribadi)

Pesona desa wisata brumbun tak berhenti sampai disini saja. Ada hal yang tanpa disadari sebetulnya paling krusial untuk para wisatawan yang berniat backpaker. Tiket masuk yang dihargai hanya dengan Rp.5.000 per kepala. Membuat kantong tak bocor saat berwisata.

Belum lagi suguhan jajanan dari makanan kecil hingga makan untuk santap siang dibandrol dengan harga standar orang Madiun. Nah, ini yang paling penting. Harga standar orang Madiun tentunya jauh dengan harga standar orang di pusat kota Jakarta.

Apalagi yang namanya tempat wisata, harga normal pun bisa melambung dengan semaunya. Disini, beda, semua super murah. Tak percaya kan jika harga santap siang dibandrol dengan harga Rp.4.000. Nasi dengan telur goreng, sambal, dan sambel goreng tempe (istilah orang madiun: nasi jotos) memanjakan lidah pasca bermain di air.  Lalu yang lainnya? Tentu sama saja, super murah meriah. Bukan hanya memnajakan hati dan fikiran, kantong pun ikut dimanjakan.

Akhir kata, memang, desa wisata ini tidak seluas dan selebar tempat wisata mewah yang banyak dicari pemburu wisata. Tapi, jika si pemburu wisata berniat mencari ketenangan dan kedamaian serta surga dunia penghapus kepenatan, aku berani menjamin, disinilah tempatnya. Very recommended.  Berani coba? Ayo kita buktikan di Desa Wisata Brumbun. wink