abbahh.jpg
www.pexels.com/sad
Filsafat · 2 menit baca

Pesan Filsuf Al-Kindi untuk Penyayang Abah Madjadji


Pagi adalah tanda mulainya hari. Bisa juga kita terjemahkan sebagai awal mula aktifitas seseorang untuk menjalankan rutinitas kesehariannya. Rutinitas pagi tersebut bisa dijalani oleh sejumlah petani, misalnya, yang selalu setia dengan cangkul juga bekal makan siangnya, menuju sawah atau ladang tercintanya dengan harapan panen segera menyapa mereka.

Atau juga para mahasiswa yang berangkat ke kampus yang selalu setia dengan tas lusuhnya, yang dijejali buku-buku kuliah, dengan harapan lulus nanti bisa cumlaude.

Atau rutinitas pagi ini pun sedang dilakoni oleh ratusan ribu pelamar kerja yang alas sepatunya sudah menipis karena terus dipakai untuk mengejar masa depannya yang belum ia temukan, dengan harapan masa tua bisa hidup sejahtera.

Demikian seterusnya. Pagi memang waktu yang sangat sibuk pula penuh warna dengan kegiatan masing-masing yang beragam.

Pagi ini tak seperti pagi-pagiku yang lalu. Selepas bangun tidur, biasanya aku lekas menuju wastafel tua yang warna kuningnya sudah memudar, letaknya di pojok dapur dekat rak piring. Mencuci muka sekalian sikat gigi di sana, itu pun kalau lagi mood.

Kemudian membuat teh tubruk panas yang sedikit manis. Dilanjutkan dengan menyulut sebatang rokok kretek sebagai awal menyambut pagi di teras depan kamar. Pagi demikian adalah pagi yang menyenangkan.

Tapi, pagi ini tubuhku masih saja berselimutkan sarung, malas untuk meninggalkan tempat tidur, apalagi untuk sekedar minum teh atau sarapan pagi. Menyesal rasanya aku bertemu pagi. Tak kuat aku memikul pagi hari ini.

Melawati pagi buatku berarti melewati gerbong-gerbong yang dijejali ingatan masa lalu bersama seorang lelaki yang tak lagi perkasa seperti saat ia muda. Ia adalah seoorang lelaki yang sangat dekat, bahkan lebih dekat lagi dengan kami, anak-anaknya.

Lelaki tua itu, tak lain adalah ayah kami. Ia meninggalkan kami selamanya dengan tiba-tiba. Tanpa vonis dokter, tanpa pesan satu kalimatpun, tanpa banyak isyarat ini atau itu. Sampai detik ini, aku tak tahu kenapa ia tak ungkapkan alasan kepergiannya.

Mungkin, ia merasa tak mau melihat anak-anaknya yang sudah dewasa tersebut bersedih di saat saudara yang lainnya sedang merayakan pernikahan di luar kota. Segala cara untuk melupakannya sudah kucoba namun tetap saja nihil, malah selalu memaksaku untuk terus dan terus mengenangnya.

Setiap pagi, aku selalu bertemu dengan kondisi seperti ini. Seolah jantungku ditusuk belati karat berulang kali. Demi Tuhan, tak kuat aku menahannya. Aku ingin segera berada di waktu siang saja. Pagi, bagiku adalah situasi yang sangat menyedihkan dan menderita.

Kesedihan pagi ini mengingtkanku pada salah satu judul karya filsuf Muslim pertama, Al-Kindi (801-873), yaitu "Seni Menepis Kesedihan" yang berkaitan dengan etika. Beliau mendefinisikan kesedihan sebagai suatu penyakit jiwa yang terjadi karena hilangnya yang dicinta dan luputnya yang didamba.

Di dunia yang fana, di mana tidak ada yang abadi, tak seorang pun, menurut Al-Kindi, dapat melepaskan dari kesedihan dan kesengsaraan. Keinginan selamanya untuk mencintai seseorang merupakan keinginan yang sia-sia, karena yang demikian itu sama dengan menginginkan sesuatu yang bersifat fana di dunia ini permanen dalam waktu.

Oleh karena itu, kita harus berjuang untuk menghindarkan kesedihan dengan menyadari bahwa hal demikian adalah sunnatullah yang tak bisa dibantah oleh siapapun.

Rupanya karya Al-Kindi ini yang dapat menyadarkan dan menghentikanku dari kesedihan yang berkepanjangan karena ditinggal oleh abah (kami memanggilnya demikian) tercinta yang hingga kini masih kami cintai, sayangi, kagumi dan rindui. 

Gunung Buntung, 8 Januari 2017