img_20160625_145111.jpg
Wisata · 6 menit baca

Perjalanan BackPacker di Kalimantan Barat
Nasionalisme dari Perbatasan


Menuju Pintu Perbatasan

Pukul 6 sore kami tiba di temajuk, desa terluar nan jauh dari blueprint wilayah indonesia, di ekor pula borneo, kalimantan. Gelap, hanya beberpa rumah yang benderang dengan cahayanya yang kurang terang. Kebanyakan rumah menggunakan mesin genset, yang hanya difungsikan dimalam hari, ketika siang, listrik tak ada.

Azan berkumandang, tanda waktu berbuka datang. Saudaraku Dzulfikar (dzul) yang seharian suntuk menjadi sopir kemudian menepikan mobil tumpangan, mampir di warung dan kami pun berbuka mencari makanan. Maklum, perjalanan cukup panjang, dari Sambas menuju desa ini menghabiskan waktu 7 jam, itupun jika kebut-kebutan.

Aku, dzul, burniat, maulana dan rasyid dan beberapa teman yang mengawal kami mampir disalah satu warung milik warga. Kami disambut cukup ramah, antusias penuh persaudaraan, apalagi mereka tahu bahwa kami dari seberang, ibu kota negara.

Temajuk

Temajuk, adalah salah satu desa dari kecamatan paloh, dan desa terluar dari kabupten sambas. Jalannya cukup terjal; tanah liat merah dan penuh debu diantara hutan lebat kalimantan menjadi pemandangan dalam perjalanan. Terjal dan penuh tantangan.

Kami membawa misi, kami datang mengambil informasi, tentang saudara kami yang tersisih dari altar kemegahan dan prestise harga diri.

Kami bergegas ke tempat penginapan, sejenak beristirahat, mapping keadaan dan menyusun segala rencana. Kita akan berkelana selama 3 hari kedepan di daerah perbatasan, antara Indonesia dan Malaysia, antara Temajuk dan Teluk Melano.

Temajuk, Nasionalisme Dan Pembangunan

Temajuk adalah desa yang luasnya seperti satu kecamatan, membentang dari ujung perbatasan hingga hutan pedalaman.

Masyarakatnya ramah, penuh wibawa dan bersahaja. Sekilas memandangi wajah-wajahnya, maka terlihat betul paradox bernegara antara pusat kota dan batas negara.

Nasionalisme mereka tak perlu dipertanyakan, mereka cinta hingga darah penghabisan. Sekalipun selalu di pinggirkan dibatas-batas negara yang lalai diperhatikan.

Temajuk adalah potret kebohongan yang mengatasnamakan rasa kebangsaan. 71 Tahun merdeka, dan mereka dianggap tak ada. Disini ada Camar Bulan, suatu berita yang pernah jadi fenomena tentang batas negara yang menjadi sengketa, dan kini tinggal cerita. Disini juga ada jalan perbatasan yang tidak resmi tapi jadi rebutan.

Mayoritas masyarakat Sambas dan Temajuk khususnya adalah etnis melayu, tentu satu rumpun dengan Melayu di teluk melano. Bahkan ada yang katakan, bahwa seringkali mereka menikah tanpa lewat kedutaan. Walaupun beda negara tak jadi persoalan.

Seharian aku amati kehidupan masayrakat temajuk. Jarang sekali kudapati muda-mudi yang duduk dipojok jalan. Atau nongkrong dengan sanak kawan. Ternyata mereka banyak pergi keseberang, bukan ibu kota negara, tetapi negeri jiran tempat mencari makan.

Kami tak sempat menelpon kawan, sebab maklum sinyal tak ada, kalaupun ada, sinyal malaysia yang kian perkasa. Katanya disana ada tower yang menjulang. Tak ada perbedaan, masayrakatnya sangat diperhatikan.

Hari berikutnya kami sempatkan masuk ke teluk melano, malaysia. Lewat jalan perbatasan yang tidak resmi, sekedar untuk melakukan perbandingan. Menyusuri lereng-lereng gunung, lagi-lagi hutan lebat dibelah oleh jalan setapak yang cukup dilalui satu mobil yang kami tumpang. Kamipun terbelalak! Ternyata dalam pedalam menuju perbatasan masih ada rumah yang berjejeran. Kami berhenti di pintu perbatasan.

Satu persatu dari kami sebelum memasuki wilayah negeri jiran mesti menulis nama di daftar kunjungan, dihadapan polis yang cukup sopan. Dan kami ada 12 orang.

Pemeriksaannya cukup cepat, karena yang kami bawa warga yang mereka kenal. Dengan dialeg melayu yang kental, tanpa basas-basi kamipun berpindah ke negeri jiran.

Kami berada di negeri malaysia. Tak perlu marah apalagi gelisah. Ternyata pembangunannya sangat terarah, maju dan luar biasa. Rumah-rumhanya berjejer rapih, jalan-jalannya teratur bersih. Benar, ada tower sinyal yang menjulang tinggi. Masyarakatnya hampir sama, ramah dan bersahaja.

Kami sempat berjalan-jalan sekadar melihat-lihat apa yang di banggakan. Ternyata, banyak yang di kembangkan. Mereka punya listrik permanen, pasokan dari pusat kota. Mereka punya air jetpam sendiri, dengan menggunakan kemajuan teknologi, air asin pun jadi air bersih.

Pemerintah disana memfasilitasi pemuda Teluk Melano yang masih sekolah secara gratis menggunakan speedboat menuju sekolah, karena maklum belum ada jalan yang membelah. Selainnya, semua di tanggung pemerintah.

Hampir 3 jam kami disana. Waktu menunjukkan untuk segera kembali ke ibu pertiwi. negeri kami sendiri.

Semalam suntuk pikiranku begejolak. Membandingkan semua yang nampak. Inikah arti kemerdekaan? Ketika saudara tak dianggap ada!

Apalagi mereka selalu katakan bahwa NKRI harga mati, Pancasila Dasar Negeri dan Merah Putih dijunjung tinggi!

Pembangunan selalu dikatakan bertujuan, ya, bertujuan untuk kota sebagian, selebihnya kasihan. Pembangunan masih dalam tahayul, sebagaimana kata rendra, ia tak nyata.

Dibawah terangnya bulan purnama aku sekadar menulis puisi, tentang peristiwa yang sungguh menyayat hati, tentang gejolak sedari tadi, tentang kesengsaraan saudara sendiri. Dengan judulnya yang sederhana, “Nasionalisme Dari Perbatasan”.

Generasi Muda Yang Tercecer

Dihari ketiga, kami kembali menuju sambas, ibu kota kabupaten. Seperti sedia kala, jalan terjal nan panjang menghiasi pemandangan. Berbeda dengan sebelumnya. Suasana sepanjang jalan tampak berbeda. Masyarakat berhamburan disetiap desa, mereka berdandan berbagai rupa menunggu saatnya berbuka. Pukul 7 malam kami tiba.

Belum sempat merebahkan badan, kami disambut oleh para pemuda. Mengharap siraman kualitas pikiran, dengan potret kemajuan bernegara. Meneguk secangkir kopi, dan kita memulai diskusi.

Aku banyak bertanya, tentang pergerakan pemuda di sambas kota. Ternyata memang berbeda dari ibu kota Negara, dari jogja atau bahkan dari surabaya. Mereka kurang terorganisir, apalagi memobilisasi gerakan yang cukup terkonsolidatif.

Membaca buku belum membudaya, menulispun belum menjadi kebiasaan, dan bahkan beroganisasi yang baik dan benarpun tak tampak. Mereka kebanyakan reaksioner, asal gerak dan yang penting teriak! Mereka kurang kaum terpelajar, apalagi intelektual. Banyak yang sarjana, tapi sarjana asal sarjana. Pemudanya masih kurang peka, bahwa kurang baca akan jadi bencana.

Mereka punya tekad, tapi tak di topang dengan semangat belajar yang kuat.

Hampir 4 jam aku seperti orang yang berceramah, mengeluarkan seluruh isi kepala. Aku berkata;

"ini bukan salah mereka, tapi ini salah pemerintah. Pemerintah yang lalai membangun semangat jiwa para pemuda. Pendidikan lemah, informasi terbatas, kalaupun ada, hanya jadi gawean penguasa! Inilah potret pemuda dari sambas kabupaten perbatasan.

Dengan sedikit memberikan masukan dan informasi gerakan, ku harap mereka akan menjalankan. Sebab pemuda adalah soko gurunya setiap perubahan. Sama halnya dengan pontianak, pemudanya terlalu banyak retorika, tanpa ada aksi nyata. Pemuda sambas banyak bergerak, tapi gerak seperti mesin yang digerakkan. Dimanfaatkan untuk kepentingan sebagian fihak.

Tetapi hal yang positif dan potensial yang kudapat adalah mereka kelak akan menjadi pusat perhatian diseantero garis kota khatulistiwa. Sebab lagi-lagi mereka mempunyai tekad yang kuat. Mereka sudah melek media sosial, tapi belum banyak yang ahli propaganda pikiran. Aku masih melihat ada segudang cita-cita dalam setiap dada muda-mudinya. Ada semangat juang yang mampu menumbangkan setiap lagak elitisme dan feodalisme.

Dan aku menekankan pada mereka bahwa sekarang eranya digital, barangsiapa yang tidak menyesuaikan diri dan gerakannya dengan perkembangan era ini, maka akhirnya ia pun akan terhempas.

Dan malam semakin larut, raga tak kuasa menahan lelah. Kami diantar ketempat istirhat, dan kami menutup mata.

Diakhir ceritaku ini, puisi Nasionalisme Dari Perbatasan aku persembahkan kehadapan pembaca yang budiman:

"Oh Camar Bulanku,
Aku datang menghampirimu,
Dengan keresahan dan kegelisahan.
Dibawah terangnya purnama,
Ratusan kilo dari ibu kota,
Dan berkoli-kilo dari garis khatulistiwa.

Oh Camar Bulanku, 71 Tahun kita merdeka,
Tapi mereka lupa engkau masih ada!
Dibawah teriknya matahari,
Dan panjangnya perjalanan ini,
Aku tertatih mengunjungimu.

Kemiskinan merajalela dengan pelita dan derita,
Dan kau masih setia.

Di bibir pantai panjangmu merah putih masih kau jaga,
Garuda terpampang nyata,
Pertanda, Indonesia masih ada
Sekalipun isi perutmu dari negeri tetangga.

Oh Camar Bulanku,
Wajah keriput mengadu senyum,
riak-riak ketulusan mengadu nasib,
dan ia mengadu kepada saudara.
Sejengkal saja dari garis merah,
Antara kemajuan dan ketertinggalan,
Tapi kau tetap setia.

Oh Camar Bulanku,
Inilah potret kebanggaan,
Penuh dusta dan nestapa!

Ada apa dengan kita?!

Kita masih senang bercerita,
Sedang nasib saudara kian menderita!
Kita masih senang bercanda gurau,
Sedang saudara hampir memakan bakau!
Kita masih suka mencela,
Sedang saudara kian ternoda!

Ada apa dengan kita?!

Katanya pembangunan untuk semua,
Tapi listrikpun mereka tak ada.
Katanya kesejahteraan harus sama rata,
Tapi makanpun mereka menderita!

Oh Camar Bulanku!