70177sketsa-perempuan.jpg.jpg
Ilustrasi: dakwatuna.com
Cerpen · 4 menit baca

Perempuan di Beranda Masjid

Sebenarnya sudah lama aku melihatmu duduk di beranda masjid itu. Tapi baru kali ini aku mendengar tentangmu dikisahkan oleh orang-orang. Dan orang-orang pun mengabarkannya padaku.

Kau wanita yang berbusana jilbab rapi. Selalu istiqamah duduk terpekur di atas sajadahmu setiap menjelang senja. Tiap kali datang waktu sembahyang ashar, begitulah rutin kulihat  wujudmu terduduk sendirian di beranda luar.

Hening dalam kesendirian, begitulah pantulan sukmamu terasa. Sebetulnya, tak ada yang aneh dari sosokmu.  Kalau saja lama-lama kusadari, ternyata setiap orang yang masuk ke dalam memalingkan muka bahkan seolah menjauh darimu. Rasa penasaran timbul, dan aku berkesempatan melirik berkas rautmu. Memang tak ada yang aneh.

“Dia itu wanita kurang waras, mas!” tiba-tiba dari kumpulan orang-orang yang keluar dari masjid, muncul seseorang yang membisikkan bisikan aneh dan membuat keorongkongan benar-benar terganjal.

“Ah, yang benar?” sergahku tidak percaya. Seseorang itu mengangguk, kemudian mengajakku duduk di beranda tidak terlalu jauh darimu. “Saya lihat dia baik-baik saja.” cetusku masih kurang yakin. “Bahkan dia istiqomah sholat di masjid ini.”

“Nah, itulah misterinya. Dia memang masih berusia muda. Saya pernah mendekatinya, dan dia tiba-tiba ngobrol ngelantur tidak karuan...”

“Tidak Karuan?” lelaki itu mengangguk. “Benar. Saya baru sadar, ketika beberapa jamaah mengingatkan saya bahwa dia itu perempuan kurang waras,” katanya. Setelah itu, dia berdiri dan pamit berlalu.

[]

Dari balik keraguan, aku tidak bisa menekan kerisauan tentangmu. Aku sungguh tidak percaya dengan penuturan mereka tentang ketidakwarasanmu. Kau gagah tersenyum, saat tersadar aku menatapmu di waktu sore istiqomahmu. Senyumanmu penuh binar. Ah, barulah aku mengerti, senyummu begitu manis tersirat.

“Boleh duduk?” tawarku. Senyummu makin saja berbinar-binar. Tanpa ragu aku duduk di sebelahmu begitu saja.

“Hehe, dia masih lebih tampan darimu, kalau kau mau tahu!” katamu langsung tanpa basa-basi. Kau menatapku langsung tersorot di sela-sela kedua mataku. Tiba-tiba ada rasa terganjal di kerongkongan, tapi tidak sampai tersedak.  

Tetapi aku berusaha tetap tenang dan menahan tabah.

“Oh, sungguh. Dia sangat mencintaiku, hikz, hikz...”

Aku melongo. Tiba-tiba terisak. Bola-bola bening menetes tak rapi membasahi kerudungmu. Kepalamu yang menunduk, kemudian pelan-pelan terangkat. Kembali sinar matamu tersorot di sela-sela kedua mataku.

“Tak seharusnya dia meninggalkanku kan?” tandasmu yakin.

“Dia meninggalkanmu?” Aku mencoba bertanya.  

“Huh, tidak! Bukan dia yang meninggalkanku! Tapi aku yang meninggalkannya!” ucapmu dengan suara lebih keras.

Aku terpana. Tak menyana bakal muncul situasi yang aneh begitu. Kulihat ruang-ruang di matamu. Jelaga pandangan yang menampilkan ruang-ruang kosong. Tampaknya, ruang kosong itu pernah terisi sesuatu dengan begitu penuh. Dan sepertinya, di suatu waktu sesuatu hal mengambilnya paksa.

Beberapa kali kubiarkan kau berbicara tanpa alur yang pasti. Kadang kau menceritakannya dengan gemulai dan begitu manis, lalu dengan nada menggelegak. Penuh demdam.

Lalu, alurnya semakin lama semakin jelas. Tanpa ragu kau pun bercerita tentang lelakimu. Lelakimu yang berjanji mendatangimu pada suatu saat dengan membawa keutuhan kebersamaan. Mengutuhkanmu dalam balutan pernikahan. Kau pun sempat memaki lelakimu yang pengecut, karena membiarkanmu dinikahi orang lain.  

Tiba-tiba kau berdiri, dan mulai berteriak-teriak histeris. Sembari melontarkan sebanyak ungkapan yang kau punya. Seolah-olah kau mulai melupakan bahwa ada seorang diriku yang sedang bersungguh-sungguh untuk mendengarkan.

“Kenapa kau pergi hanya karena kegagalanmu? Bukankah sudah kubilang, kematianku terletak di jantungmu?”  

Begitu kau berucap. Berulang-ulang. Aku mulai merasakan aneh. Panik. Apalagi kau mulai meraung, gemanya menggema ke seantero ruangan masjid. Mengucap kata yang sama berkali-kali. Aku mulai kelabakan. Di beranda masjid kau berjalan. Berputar ke sana dan ke mari. Beberapa orang dari dalam segera bermunculan.

Mereka menggamit tanganmu dengan kuat, menyeretmu paksa hingga ke luar tangga. Salah seorang dari mereka mendatangiku dengan raut membara. Aku merasa bersalah dan menggigil.

“Hei! Kenapa Anda mengganggu wanita tidak waras itu?!” gertaknya dengan mata tajam. “Bikin onar saja!”

“Lho, siapa yang mengganggunya?”

“Lha, barusan sampeyan Anda?! Kalau bukan menggodanya??”

“Saya hanya mendengarkan cerita hidupnya kok! Apa itu salah?”

“Huh, Anda sama saja dengan dia! Tidak waras!” katanya sambil ngeloyor masuk lagi ke dalam.

[]

Dari orang-orang itu, barulah aku mengerti lebih banyak tentangmu. Dulunya, kau kuliah di sana. Di perguruan tinggi itu, kemudian kau bertemu dengan lelaki di sana. Ya, lelaki itu. Yang juga masih satu fakultas denganmu. Lelaki itu, baru dua tahun lulus setelah kelulusanmu. Setahun kemudian, kau diterima di sebuah lembaga dan bekerja di sana.

Orang tuamu menolak mentah-mentah kehadiran lelakimu. Dan memilihkanmu sosok mewah sebagai calon suamimu. Lelakimu merasa tersinggung dengan penegasan bahwa dia hanyalah seorang lelaki pengangguran tidak berguna untuk memiliki seorang perempuan seperti dirimu yang sudah bekerja di lembaga ternama.

Oh, aku mulai merasakanmu apa saja yang berdenyut di dalammu, nona. Mengapa kau sampai merasa berkesendirian begitu? Apakah kau tidak pernah mengetahui? Sesungguhnya, kau tidak sendirian nona.  

Ketahuilah, di negeri yang segala sesuatu tersedia gemah ripah loh jinawi ini, banyak kaum perempuan mengalami pengalamanmu; tentang lelaki-lelaki pengangguran; lelaki-lelaki berpeluh keringat demi secarik lowongan kerja yang usang; lelaki-lelaki yang menunggak saat-saat pelaminannya ke masa mendatang.

Ketahuilah. Bukannya lelakimu itu terbilang sungguh-sungguh pengecut; menolehlah sejenak ke atas puncak sana. Ya, singgasana para punggawa di situ; di situ kau akan menemukannnya. Di atas sanalah kumpulan para pengecut sedang menghabiskan waktu-waktu senggangnya.  

Oh, mengapa kau tak datang saja di  setiap emperan-emperan kota di suatu malam yang tampak jenjang? Betapa banyak lelaki pemberani yang membangun hidup, kemudian tergusur kehidupannya. Tergusur sebagaimana lelakimu itu.

Terasing dalam dunia tanpa penghidupan.