59580.jpg
Hiburan · 6 menit baca

Perempuan dalam Aksi Massa
Representasi Perempuan Dalam Film In Dubious Battle


Sekitar tiga hari yang lalu, saya menonton sebuah film yang diangkat dari novel berjudul sama ditulis oleh seorang novelis terkenal John Steinbeck. Film ini menceritakan sebuah aksi buruh perkebunan apel yang terjadi di masa Great Depression (Depresi Berat) sekitar tahun 1933 yang mana aksi buruh di tahun-tahun inilah yang akhirnya menyulut aksi buruh yang lebih besar di mana kemudian membuat Kongres Amerika menyetujui beberapa tuntutan buruh.

Film ini yang berdurasi 113 menit ini, menurut penilaian saya, menarik ditonton dan cukup berhasil menangkap ide-ide dalam sebuah aksi massa atau aksi buruh dengan segala problematika.

Di awal bercerita seorang pemilik kebun apel menurunkan secara sepihak upah dalam memetik apel di kebunnya. Jelas ini mendapatkan protes keras oleh para pekerja pemetik apel tersebut namun akhirnya terpaksa menerima walau tahu gaji pemetik yang ditentukan oleh pemilik lahan tersebut sangat jauh dari layak.

Ketiadaan pilihan untuk pindah lahan yang bisa mengaji mereka lebih layak dan ketiadaan uang untuk pindah ke daerah lain, inilah yang memaksa para pekerja tersebut menerima perilaku semena-mena dari pemilik lahan tersebut.

Inilah perjuangan yang coba dilakukan oleh Jim Nolan yang diperankan oleh Nat Wolff dan Mac Mcleod diperankan oleh James Franco, yang datang ke ladang perkebunan apel tersebut untuk menggalang aksi buruh apel yang bagi mereka ini akan menjadi awal perjuang untuk merebut lahan-lahan perkebunan tersebut dari para pemilik yang tamak itu, lahan per lahan dalam rencana mereka dalam kereta barang yang mereka tumpangi menuju California di mana lahan kebun apel itu berada.

Bagi Jim dan Mac, perjuangan ini haruslah digawangi dan dilakukan oleh para pekerja itu sendiri. Karena menurut mereka, pekerjalah yang berhak menerima profit terbesar karena merekalah yang bekerja dan memproduksi barang yang dijual tersebut. Namun sebaliknya, malah pemilik lahan semena-mena menentukan apa yang diterima oleh para pekerja.

Aksi mogok pun menjadi pilihan yang ditawarkan oleh Jim dan Mac kepada para pekerja untuk memaksa pemilik lahan bisa memenuhi gaji yang sesuai dan layak bagi para pekerja. Namun pada awalnya para pekerja menolak, namun setelah beberapa kejadian yang memicu emosi dan para pekerja pun sepakat untuk melakukan mogok yang ditawarkan oleh Jim dan Mac.

Perempuan: Pejuang Atau Penghalang

Aksi pun dilakukan dengan menumpang sebuah lahan dari warga sekitar dengan bayaran memetik apel di lahan warga tersebut. Aksi itu dirancang dengan cukup rapi dan para pekerja saling bergotong royong untuk membangun segala keperluan dari aksi mogok tersebut, dengan membangun tenda, dapur dan tempat perawatan kesehatan juga sanitasi.

Dalam film ini ada 4 orang perempuan yang mewarnai aksi mogok tersebut, pertama Edie yang mana nama lengkapnya ada Edith Malone, teman dari Mac Mcleod. Kedua, Lisa, anak perempuan dari pimpinan aksi mogok tersebut, London (yang diperankan oleh Leonardo D’Onforio). Ketiga, Vera yang juga anak perempuan dari London. Terakhir adalah Alice Bolton, yang mana adalah anak perempuan dari Bolton pemilik dari lahan perkebunan Apel tersebut.

Saya melihat empat tokoh perempuan utama dalam film ini mencoba merepresentasikan bagaimana posisi perempuan dalam aksi massa, dari seorang yang realis hingga pengkhianat kemanusiaan. Saya akan mencoba melihat per orang dari semua tokoh perempuan utama dalam film ini dan mencoba melihat bagaimana sosok perempuan direpresentasikan dalam setiap tokoh, untuk mendapatkan gambaran yang cukup mendalam.

Pertama yang akan kita bahas adalah Lisa, dia adalah “anak” dari seorang bernama yang mana kemunculan tokoh Lisa dalam film ini dalam sebuah adegan persalinan dari Lisa tersebut. Yang akhirnya Jim yang menaruh hati padanya tahu bahwa anak yang dilahirkan oleh Lisa adalah anak dari seorang buruh yang lari ketika dia tahu Lisa hamil. Ayah dari anak tersebut lari dari kenyataan dan takut menghadapi kehidupan karena ketiadaan harta.

Inilah yang akhirnya membuat Lisa menjadi sosok yang apatis, penakut dan selalu terlihat muram, dikarenakan pengalaman hidupnya membuat ia begitu. Oleh karena itu, Lisa melihat aksi yang dilancarkan para pekerja itu sebagai bahaya atau ancaman. Dia tidak ingin lagi kehilangan keluarganya lagi, karena ia melihat bahwa aksi semacam ini akan memakan korban yang tidak sedikit.

Lisa yang diperankan oleh aktris cantik Selena Gomez, selalu memandang negatif atau selalu ketakutan aksi mogok ini. Kehidupan ini seakan-akan berhenti dan tidak akan berakhir dengan baik. Sikap apatis inilah yang mengalpakan dirinya dalam semua aksi protes yang mewarnai dalam aksi mogok ini.

Sangatlah berbeda dengan dengan tokoh yang kedua yaitu Vera, seorang yang awalnya dilanda ketakutan yang hebat, dimana ia selalu memotong pembicaraan Jim dan Mac ketika mereka mengadvokasi aksi mogok ini ke London.

Jim dan Mac melihat aksi ini akan berjalan jika London berkata iya pada aksi ini. Namun pada akhirnya ia menjadi pengikut aksi yang cukup aktif bahkan dalam satu kejadian dia melakukan aksi balas dendam atas pembakaran gudang apel yang menyimpan apel yang mereka petik, dengan membakar salah satu keluarga kaya di kota.

Tokoh ketiga adalah Edith Malone atau Edie. Dia merupakan perempuan yang berada di luar juga sekaligus di dalam aksi, dia menjadi pengurus bagian konsumsi dalam aksi mogok tersebut namun dia juga tidak selalu terlibat secara langsung aksi tersebut. Dalam satu bagian dialog, dia malah menegaskan dirinya sebagai yang realis, di mana ia menegaskan bahwa dalam setiap aksi massa seperti ini akan selalu ada halangan.

Oleh karena itu, dia menyebutkan bukan hanya harapan yang dipupuk dalam setiap aksi tapi juga setiap langkah dan strategi dalam aksi juga harus selalu dipertimbangkan.

Dan terakhir adalah Alice Bolton, putri seorang pemilik tanah yang menurut ayahnya akan menjadi seorang pewaris tanahnya kemudian, oleh sebab itulah ia membawanya ke pertemuan bersama para pekerja yang sedang melakukan mogok, agar dia mengenal siapa yang akan berkerja kepada dia. Alice digambarkan sebagai perempuan yang berwatak pemilik tanah yang licik dan jahat.

Dia juga dengan sangat berani merayu salah seorang pekerja yang untuk berkhianat dan melakukan provokasi pelemahan aksi tersebut.

Dalam dunia film, representasi perempuan kadang berkonotasi pada satu sisi saja, misalnya dalam film horror Indonesia bisa kita “inventarisir” bahwa kebanyakan personifikasi hantu adalah perempuan, semacam sundel bolong, si manis jembatan Ancol, dan malah kebiasaannya hantu yang dipersonifikasikan kepada perempuan adalah seorang korban dari kejahatan laki-laki. Namun dalam film ini, perempuan direpresentasikan dengan berbagai perannya.

Pengambaran beberapa perempuan di atas merupakan usaha dari pihak produksi film dalam merepresentasikan perempuan dalam sebuah aksi massa, dalam sebuah film yang menggambarkan aksi massa yang begitu kuat kadang peran perempuan agak terpinggirkan dan kadang diperankan sebagai pelengkap aksi saja.

Kita hidup dalam di negeri yang budaya patriarkinya masih begitu kuat, bahkan penggambaran perempuan dalam film masih belum bisa keluar dari 3 istilah using, yaitu kasur, dapur dan sumur. Sehingga perempuan yang mewarnai dalam aksi massa belum begitu menjadi fokus dari para pembuat film di sini.

Kembali ke film In Dubouis Battle, perempuan yang digambarkan di sini tidak akan bisa merepsentasikan secara intrinsik, karena dalam teori representasi sebuah dunia tidak akan bisa digambarkan dengan akurat dan objektif, ini disebabkan dunia bukanlah sesuatu yang apa adanya, dia adalah efek dari bagaimana dunia tersebut dipahami dari berbagai sudut pandang.

Melalui film ini kita mungkin memahami bahwa perempuan bisa menjadi penghalang juga bisa menjadi pendukung bahkan menjadi aktor penting dalam aksi massa, namun sebuah sebuah film, teks, dan pula citra adalah sesuatu yang tidak pernah mencerminkan realitas secara jelas dan netral melainkan menggambarkan perempuan dalam kode-kode dan konvensi masyarakat tertentu.

Kode-kode dan konvensi ini mungkin saja tidak selalu digunakan dalam keadaan sadar, karena begitu mandarah dagingnya kode-kode tersebut dalam diri kita.

Jadi mengambarkan perempuan dalam aksi massa yang terjadi di tahun 1930an ini mungkin oleh pihak pembuat film ini adalah mencoba membangkitkan jiwa pemberontakan dalam ketidakadilan yang di alami masyarakat dan mencoba melakukan sesuatu dalam melawannya namun juga memperingatkan bahwa perempuan juga bersikap sangat apatis terhadap aksi bahkan menjadi penghancur aksi tersebut dengan sangatlah mudah.

Dengan demikian, perempuan itu dalam aksi massa adalah hal sangat kompleks dan tidak mudah disandarkan pada satu bagian saja.

Pada dasarnya repsentasi perempuan di film ini adalah bagian dari pemahaman kita akan dunia yang diperantarai oleh berbagai macam hal, yang mana hal ini bukanlah cermin dunia yang sebenarnya namun hanyalah sebuah konstruksi sebuah dunia, yang menjalankan atau menentang ideologi-ideologinya, jika kita lihat film ini mencoba lebih objektif dalam menilai perempuan dalam sebuah aksi massa.

Oleh sebab itulah film ini mengonstruksi perempuan dalam aksi massa bukan cuma dimonopoli oleh satu tokoh namun banyak tokoh yang merepresentasikan perempuan. melihat perempuan bukan dalam segregasi peran namun mewarnai aksi massa tersebut dalam timbangan yang cukup seimbang.

Gang Kariwaya, 10 Mei 2017