images_33.jpg
Media · 4 menit baca

Peran Media dan Masyarakat dalam Isu Keberagaman

Berita-berita yang beredar di linimasa, baik media sosial dan media-media lainnya, terutama yang berkaitan dengan isu keberagaman, sangat menarik perhatian banyak kalangan. Menarik, karena dapat disebut negara kita sebagai contoh bagaimana keberagaman itu ada sejak lama.

Selain itu, dapat disebut berita-berita tersebut mengejutkan karena banyak hal yang sebenarnya kita tidak mengalaminya secara lanjut justru dapat mencederai keberagaman yang sudah ada sejak lama. Masyarakat mungkin sudah terbiasa dengan isu keberagaman yang melibatkan suku dan agama, dalam banyak keseharian mereka sudah banyak berelasi dengan kelompok-kelompok yang berbeda suku, ras, dan agama, contohnya dalam pendidikan dan pekerjaan.

Di sisi lain, masyarakat dihadapkan kepada banyaknya pertentangan yang justru melibatkan perbedaan suku, ras, dan agama yang tampaknya pada akhir-akhir ini lebih terlihat memanas dan membawa pandangan negatif terhadap kelompok--kelompok tertentu. 

Salah satu berita yang baru saja menjadi sorotan banyak pihak adalah mengenai pembakaran 7 vihara dan kelenteng yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara oleh sejumlah warga beragama Islam pada tanggal 29 Juli 2016 (Tempo.co.id, 30 Juli 2016). Hal ini sebenarnya dipicu oleh keberatan salah satu penduduk keturunan Tionghoa yang merasa suara azan magrib yang berasal dari pengeras suara mengganggu karena terletak persis di depan rumah.

Sebenarnya, penduduk tersebut bersama dengan jemaah masjid serta anggota kepolisian setempat dan pihak kelurahan telah bersama-sama duduk dalam satu mediasi. Sayangnya, usaha mediasi tersebut dicemari pesan berantai yang menyebutkan bahwa masjid dilarang mengumandangkan azan.

Tanpa meneliti benar tidaknya pesan tersebut, masyarakat setempat tersulut kemarahannya dan membakar tidak hanya tempat ibadah, namun juga mobil, motor, dan becak. 

Sementara itu, berita lainnya terkait dengan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya yang mendapatkan kritik dari Komnas HAM terkait dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 tahun 1999 tentang Visi Misi Religius Islami karena dianggap melanggengkan praktik intoleransi dalam kehidupan beragama (Radar Tasikmalaya, radartasikmalaya.com, 27 Juli 2016), serta reaksi terhadap kritik ini disuarakan oleh HMI serta Ketua Presidium Solidaritas Mahasiswa Tasikmalaya.

Di belahan Indonesia Timur, tepat di Tolikara, satu berita sempat mencuat ke permukaan ketika kasus pelarangan salat Ied tercantum dalam surat edaran yang mengatasnamakan jemaat Gereja Injili di Indonesia (Obsessionnews, obsessionnews.com, 18 Juli 2015).

Sebenarnya, secara umum GIDI wilayah Toli melarang agama lain serta Gereja aliran lainnya untuk mendirikan bangunan ibadah, akan tetapi larangan melaksanakan shalat Ied ini menjadi indikasi jelas adanya ketimpangan dalam penerimaan keberagaman di suatu daerah. 

Mengapa hal-hal tersebut di atas muncul secara masif? Peran media masih sangat signifikan dalam menyebarkan informasi kepada khalayak luas. Media memiliki target audiens yang beragam sehingga berita yang disajikan tentu akan jelas bervariasi sesuai kebutuhan audiens yang ditargetnya. Dalam era keterbukaan informasi, media tampil sebagai pusat informasi ekspansif ditandai dengan cepatnya berita masuk serta dirilis untuk masyarakat.

Sebagai bagian dari demokrasi, media merupakan corong utama informasi sosial politik yang juga berguna bagi sarana berpikir bagi masyarakat, tidak hanya untuk berpolitik, tetapi juga memberikan dinamika kehidupan berbangsa di Indonesia.

Media turut serta membangun kesadaran masyarakat mengenai isu yang sedang berkembang di negara mereka tinggal (McDevitt (1996:270), serta Lindsey (1994: 163) menyatakan bahwa media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan membentuk opini masyarakat. (Medinah Suarti, Peran Media sebagai Alat Perekat Bangsa, Batamtoday.com, 16 Juni 2015). 

Ketika masyarakat yang sangat majemuk di Indonesia ini diberikan akses informasi melalui media tanpa batas, sebenarnya hal ini memberikan dampak positif dan negatif. Masyarakat dapat menjadi lebih teliti dalam mendapatkan informasi sehingga apa yang diserapnya bukan hanya berita-berita yang sifatnya lebih mengarah kepada provokasi, namun juga bagaimana mereka menjadi dapat bersikap dengan lebih bijaksana dan tidak terpancing emosinya.

Sebaliknya, berita-berita dalam media yang terekspos secara bebas secara tidak langsung mensegregasi masyarakat ke dalam kategori bijak dan tidak dalam mengolah informasi. Masyarakat sendiri bergerak dalam kepentingan-kepentingan masing-masing berbasis informasi yang sudah didapatnya.

Contoh yang sangat terlihat dalam hal terkait di atas adalah di media sosial, di mana terjadi penyebaran tautan berita serta respon masyarakat dapat langsung dilihat dalam interaksi berupa komentar-komentar yang bahkan dapat direspon langsung dalam bentuk kesetujuaan maupun ketidaksetujuan.

Menariknya, dari interaksi masyarakat tersebut justru dapat dilihat sikap masyarakat, terutama yang berkaitan dengan isu keberagaman dan toleransi yang akhir-akhir ini banyak diperdebatkan. 

Keterbukaan reaksi masyarakat akan suatu berita pada saat ini merupakan ciri demokrasi, suatu hal yang sangat mahal dibandingkan pada masa pemerintahan Soeharto. Pada masa sekarang, tidak ada keraguan bagi masyarakat untuk memberikan kritik keras terhadap isu-isu yang berkembang.

Lebih jauh lagi, isu tentang etnis dan agama yang seharusnya tidak menjadi isu yang dibesar-besarkan karena masyarakat Indonesia tinggal dalam keberagaman semakin sering diberitakan, dan tidak jarang respon-respon negatif yang justru menafikan keberadaan keberagaman lebih sering muncul dan cenderung lebih menampilkan saling berbalas pernyataan dan komentar.

Hal ini pada akhirnya akan berujung pada tajamnya segregasi kelompok mayoritas dan minoritas, dua kubu yang lebih dilihat dari identitas etnis dan agama.

Sebagai alat untuk kontrol sosial, media seharusnya bisa berperan lebih signifikan dalam kehidupan keberagaman yang ada dalam masyarakat di Indonesia. Isi berita dalam media memang berada dalam koridor yang sudah lebih bebas diakses masyarakat, dan memang tidak dapat disalahkan pula jika pada akhirnya isi berita dianggap semakin dapat memperuncing situasi yang sudah panas, seperti yang terjadi dalam berita pembakaran tempat ibadah di Tanjung Balai.

Objektivitas pemberitaan media apa pun itu diperlukan untuk menghindari salah tanggap dari masyarakat sehingga isu yang berhubungan dengan etnis dan agama tidak semakin memperparah segregasi antara dua kelompok mayoritas dan minoritas, sekaligus mereduksi kecurigaan satu sama lain.

Kita semua sama-sama berperan signifikan dalam menjaga keharmonisan hidup antar etnis dan agama sehingga isu apa pun seharusnya dapat diteliti dan ditanggapi dengan lebih bijaksana.

#LombaEsaiKemanusiaan