images_128.jpg
Media · 7 menit baca

Pentingnya Media Penyiaran di Daerah Rawan Bencana

Indonesia adalah negara yang terletak di antara pertemuan empat lempeng dan terletak di daerah cincin api Pasifik (ring of fire). Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia. Hampir setiap tahun terjadi letusan gunung berapi.  Negara ini sangat  rentan terhadap gempa, banjir, tanah longsor dan erupsi gunung berapi. Tak mengherankan jika di negara ini kerap terjadi bencana.

Beberapa langkah dilakukan oleh pemerintah terkait dengan persiapan jika terjadi bencana, baik itu melalui sistem peringatan dini (early warning system) hingga pembentukan badan dan unit rescue untuk membantu masyarakat yang berada di lokasi bencana.

Meskipun demikian, di lokasi bencana kita sering mengalami kekurangan informasi sehingga menyulut adanya Kesenjangan informasi  pasca bencana. Kurangnya informasi dapat menyebabkan hilangnya harta benda bahkan juga nyawa.  Mengapa media penyiaran di daerah rawan bencana menjadi penting?

Potensi Bencana di Indonesia

Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Beberapa faktor ditengarai dapat menyebabkan bencana antara lain: bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia (man-made hazards).

Menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) beragam bahaya dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation), kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana dan kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.

Secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik, yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudra Hindia, dan lempeng Samudra Pasifik. dikelilingi oleh gunung berapi.

Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Kasus-Kasus Bencana di Indonesia

Bencana terbesar yang terjadi di Indonesia adalah gempa bumi dan tsunami yang menerjang pesisir utara Pulau Sumatra pada 26 Desember 2004. Bencana ini telah menyebabkan 220.000 orang korban dari negara-negara di sekitar Samudra Hindia, termasuk 168.000 korban dari Indonesia. Dunia internasional ikut bersimpati atas musibah yang menimpa Tanah Air. Bantuan dari negara-negara tetangga mengalir untuk pemulihan bencana.

Setelah peristiwa besar tersebut, pada tahun 2006 terjadi beberapa bencana, di antaranya adalah gempa bumi sebesar 8.6 skala richter yang mengguncang Nias dan menyebabkan sedikitnya 900 orang meninggal. Tak lama setelah itu, gempa bumi menerjang Yogyakarta dan menyebabkan sedikitnya 5.800 orang meninggal dan satu setengah juta orang kehilangan tempat tinggal. Kemudian, banjir di Sulawesi menyebabkan sedikitnya 350 orang meninggal atau hilang dan 13.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Pada tanggal 17 Juli 2006, sekitar 650 orang meninggal dunia setelah gempa bumi dan tsunami. Masih di tahun yang sama, banjir juga menerjang Sumatra pada 24 hingga 29 Desember sehingga menyebabkan 300 orang meninggal atau hilang dan 350.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Tak hanya itu, pada 1 Februari 2007, banjir di Jakarta telah menewaskan sekitar 80 orang. Menyusul atas kejadian tersebut, pada 6 Maret gempa bumi yang terjadi di Sumatra telah menyebabkan 73 orang meninggal dunia. Pada bulan Juli, lebih dari 130 orang meninggal disebabkan karena gempa bumi di Sumatra. Setelah itu, lebih dari 130 orang meninggal dalam banjir dan tanah longsor di Jawa pada 26 Desember.

Sepertinya bencana masih enggan untuk berakhir. Pada 2 September 2009, gempa bumi kembali mengguncang Jawa dan menyebbakan 100 orang meninggal. Setelah peristiwa tersebut, gempa bumi kemudian memporak-porandakan Padang dan menyebakan sedikitnya 1.117 orang meninggal dunia. Pada 8 November, tanah longsor terjadi di Palopo, Sulawesi Selatan dan menyebabkan sedikitnya 30 orang meninggal.

Seolah tidak ingin membuat masyarakat menjadi terlena, bencana besar kembali mengguncang negara kita pada tahun 2010. Pada 23 Februari sedikitnya 85 orang tewas akibat tanah lorngsor di dekat Bandung. Menyusul kemudian banjir di Wasior Papua Barat yang menyebabkan 148 orang tewas pada 4 Oktober.

Setelah perstiwa tersebut, gempa dengan kekuatan 7.7 SR mengguncan wilayah Sumatra Barat. Alarm yang mati menjadi penyebab tewasnya 400 orang di Kepulauan  Mentawai dan lebih dari 15.000 orang kehilangan tempat tinggal. Puluhan korban tidak berhasil diketemukan. 

Setelahnya, erupsi gunung Merapi menyebakan meninggalnya sekitar 100 orang dan 100.000 orang devakuasi. Peristiwa tersebut  menghiasi halaman pertama beberapa surat kabar di Indonesia dan informasi terkini terkait bencana selalu diperbarui melalui program-program siaran televisi. 

Selepas peristiwa tersebut, gempa bumi Sumatra Utara yang terjadi di 30 km sebelah tenggara Tarutung, Sumatra Utara dengan kekuatan 5,5 SR mengguncang pada 14 Juni 2011. Sebelumnya, terjadi gempa bumi dengan kekuatan 6,9 SR dengan pusat gempa berada di 178 km tenggara Tahuna, Sulawesi Utara.

Pada 2012, terjadi rentetan gempa bumi di lepas pantai barat Sumatra diawali dari 11 April 2012  dengan kekuatan 8,6 Mw. Gempa ini berpusat di Banda Aceh dan menyebabkan 5 orang tewas, 1 orang kritis, dan 6 orang lainnya mengalami luka-luka. Setelah itu, terjadi gempa pada 2 Juli 2013 dengan kekuatan 6,2 skala richter di Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan jumlah korban tewas mencapai 39 jiwa.

Selama tahun 2014, terdapat 1.525 bencana yang menyebbakan 566 orang tewas, 2,66 juta jiwa mengungsi, 51 ribu rumah rusak, dan ratusan bangunan umum rusak. Bencana ini meraup kerugian mencapai puluhan triliun rupiah.

Bencana yang terjadi meliputi kebakaran hutan dan lahan, banjir, banjir bandang, dan longsor.  Konsentrasi bencana terbanyak adalah di Provinsi Jawa Barat (290 kejadian), Jawa Tengah (272), Jawa Timur (213), Aceh (51), dan Sumatera Selatan (480).

Dilihat dari sebaran kab/kota, maka paling banyak ada di Bogor (37), Bandung (31), Sukabumi (29), Garut (26), dan Cianjur (23). Pada 13 Februari, terjadi erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur yang menyebabkan hujan abu hingga ke wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tak lama setelahnya terjadi erupsi Gunung Sinabung yang hingga kini masih terjadi.

Kesenjangan Informasi di Daerah Bencana

Saya secara tidak sengaja pernah beberapa kali berada di situasi yang tidak menyenangkan saat terjadi bencana. Entah itu bencana yang disebabkan oleh alam ataukah manusia. Kejadian-kejadian tersebut sampai sekarang masih berada di dalam ingatan saya. Apapun itu, tentunya akan lebih baik kalau kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa yang saya alami tersebut.

Berawal dari peristiwa gempa yang menerjang Yogyakarta pada 2006. Saya yang waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dihadapkan pada realita bahwa di pagi itu, saya bersama warga Yogyakarta dan sekitarnya diserang kepanikan akibat gempa yang mengguncang daerah tersebut dan sekitarnya. Betapa tidak, sepagi itu kami mengalami kejadian yang mengejutkan. Gempa berkekuatan 9,8 skala richter menyapa kami. 

Hal yang membuat kepanikan bagi warga Yogyakarta adalah isu tsunami yang dihembuskan oleh seseorang dari mulut ke mulut menyebabkan situasi menjadi tidak kondusif. Banyak warga yang berbondong-bondong keluar rumah berusaha menyelamatkan diri. Kepanikan membuat mereka melupakan apapun tak terkecuali harta benda mereka. Dari isu tsunami tersebut berkembang isu bahwa tsumani sudah sampai di daerah tertentu dan telah menenggelamkan Yogyakarta, Sleman, dan Muntilan.

Saat itu, aliran listrik mati dan tidak ada koneksi  saluran telepon sehingga warga yang tidak tahu menahu informasi apa pun terkait dengan bencana tersebut. Lumpuhnya jalur komunikasi akibat gempa menyebabkan masyarakat kemudian menelan mentah-mentah informasi yang belum diketahui akurasinya.

Beberapa pihak memanfaatkan kondisi tersebut dengan melakukan tindakan kriminal seperti pencurian dan perampokan harta benda. Bersamaan dengan munculnya isu tersebut, terjadi pencurian sepeda motor di beberapa daerah. Salah satu daerah yang mengalami kejadian pencurian adalah di Wonokromo dan Jetis, Bantul.  

Kecelakaan juga tidak dapat dihindari  di beberapa tempat karena ketiadaan informasi mengenai gempa. Penduduk yang tinggal di daerah tinggi menyangka bahwa sumber gempa berasal dari gunung yang akan meletus dan penduduk di kawasan rendah menyangka bahwa akan terjadi tsunami sehingga perlu mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Berkembangnya isu tersebut menyebabkan terjadinya pertemuan dua massa yang ingin mengungsi di tempat yang lebih rendah dan di tempat yang lebih tinggi sehingga lalu lintas menjadi semrawut.  Kesemrawutan lalu lintas menyebabkan gangguan lalu lintas hingga kecelakaan.

Hal yang sama terjadi pada saat Gunung Merapi meletus tahun 2010, penduduk di daerah rawan bencana tidak dapat mengikuti informasi baik dari radio, telephon, televisi, maupun internet.

Padamnya listrik karena kerusakan jalur komunikasi dan adanya pemadaman listrik di daerah-daerah tertentu menyebabkan  sebagian masyarakat tidak dapat mengikuti perkembangan informasi. Masyarakat tidak dapat memantau perkembangan informasi dari sumber resmi seperti Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (BVMG) terkait informasi mengenai aktivitas Gunung Merapi.

Masyarakat tidak mengetahui perkembangan situasi bahwa daerah rawan bahaya Merapi sudah dinaikkan dari radius 15 km menjadi radius 20 km dari puncak Merapi.  Akibatnya, banyak warga yang sudah berada di zona aman yang ditetapkan sebelumnya (red- radius 15 km), tetapi kemudian harus mengungsi pindah ke daerah lain karena ternyata daerahnya masuk di radius bahya Merapi. 

Masyarakat di daerah rawan bencana juga tidak mengetahui jika letusan Merapi kali itu lebih berbahaya dari letusan-letusan sebelumnya dan lebih dasyat dari letusan tahun 1994, 1998, dan 2006.  Selama erupsi tersebut, beberapa kali tersiar kabar yang tidak akurat terkait dengan aktivitas Gunung Merapi. 

Hal tersebut  tidak hanya menimbulkan kecemasan, kegelisahan, maupun kepanikan di antara warga yang mengungsi namun juga pihak-pihak yang ikut terlibat dalam penanganan pengungsi. Erupsi Merapi juga telah menyebabkan lahar dingin yang menerjang beberapa desa yang dialiri  sungai yang berhulu di Merapi. Akibatnya, beberapa desa harus mengevakuasi warganya akibat peristiwa tersebut.  

Begitu juga dengan beberapa bencana yang menimpa Tanah Air. Beberapa kejadian yang terjadi di lokasi bencana disebabkan karena kurangnya informasi akibat lumpuhnya akses informasi d daerah tersebut.

Peristiwa bencana kebanyakan terjadi secera mendadak dan tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Sehingga informasi di dalam daerah bencana menjadi sesuatu yang penting untuk diketahui oleh warga sehingga warga dapat memperoleh informasi perkembangan terkini mengenai bencana.

Dengan adanya informasi yang akurat dari sumber resmi yang dapat dipercaya, masyarakat dapat mengetahui sistuasi terakhir di daerahnya dan dapat melakukan langkah antisipasi terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi. Selain itu, kebutuhan informasi mengenai kondisi warga, situasi di daerah rawan bencana, kebutuhan obat-obatan dan logistik dapat disebar luaskan untuk keperluan penanganan. Informasi yang akurat diperlukan untuk memitigasi resiko bencana.