Ketik untuk memulai pencarian

Penistaan Petani

Penistaan Petani

pixabay.com

Saya punya tetangga penjual bakso. Ia dipanggil bakso kenyot. Dalam bahasa Jawa, kenyot itu tidak ajeg. Karena ia jualan tidak ajeg, kadang jualan kadang tidak, jadi dipanggil bakso kenyot. Tapi setiap pasaran pon dan kliwon, ia ajeg jualan di pasar Kalimaling.

(Entah kenapa, setiap kawan jauh yang mendengar saya menyebut nama pasar ini, mereka penasaran sambil terbahak dan bertanya seperti seorang investigator.)

Tetanggaku itu, sebut saja namanya Soeket. Selain jualan bakso, ia ikut nggarap ladang di hutan. Tidak luas. Ia tanami ladang dengan tanaman palawija. Di sela-sela petak ladangnya, ia tanam dangkel, atau pokok singkong. Suatu hari, karena singkong itu sudah siap panen, ia mencabutinya, diisikan dalam karung, lalu di bawa pulang. Di rumah, ia menunggu tengkulak yang biasa datang ke dusun kami mencari dagangan.

Singkongnya ada dua karung. Mungkin sekitar duapuluhan kilogram. Saat ditawarkan si tengkulak, tengkulak itu geleng kepala. “Singkong cuma tujuh ratus rupiah. Bawanya berat, tapi nggak ada duitnya”, kata si tengkulak. Singkong dua karung itu, juga tak dibawa ke pasar oleh Soeket. Ia dibiarkan begitu saja di depan rumah, di dera panas dan hujan. Busuk.

Usut punya usut, setelah ngintip dari kacamata juru warta, pemerintah rupanya ngimpor singkong dari Vietnam. Selama 4 bulan dari Januari hingga April 2016, nilainya mencapai Rp 15, 84 miliar. Uang itu, kalau dijadikan pecahan dua ribuan, bisa menutupi semua ruas jalan di dusun saya. Mungkin karena tengkulak bandel dan pemalas itulah, pemerintah ngimpor singkong. Singkong-singkong dari dusun-dusun tak terdistribusi ke kota. Padahal orang-orang di pemerintahan sana, mungkin sedang demen-demennya dan sedang kecanduang sama singkong.

Mengapa demen dan kecanduan? Kita ingat, dulu menteri PAN-RB pernah mengeluarkan edaran penghematan anggaran. Bahkan banyak berita berjamuran, jika salah satu penghematan itu adalah penyediaan makanan lokal seperti singkong. Banyak orang optimis, singkong bakalan naik haji. Tapi rupanya, ia tak seperti sinetron Tukang Tuak Naik Haji itu, yang berlanjut hingga ribuan episode. Wacana singkong sepertinya selesai hanya selama durasi bau kentut.

Berita singkong itu, bergulir dan lumayan ramai. Banyak kawan di media sosial mencibir pemerintah atas tindakan impor ini. Tapi kontroversi itu segera lindap dibantai oleh ramainya pasukan putih yang menggruduk ibukota. Cibiran berpindah, dari singkong hingga bawa-bawa soal “singkek.” Masyarakat kita memang masyarakat pencibir.

Bergulirnya kabar ibukota menggilas kabar-kabar lain. Kabar ibukota begitu panas dan mendidih. Tapi nyatanya, hingga kini meskipun terus mendidih, ia tak juga mengalami penguapan. Jadi, kabar berikutnya tentang pacul yang diimpor pemerintah dari Cina, hanya jadi cibiran-cibiran yang berdurasi seperti ketika ingus keluar dari hidung. Ia turun begitu pelan, tapi tiba-tiba terdengar suara keras “zreeeettt”, dan ingus itu pun hilang karena disedot naik kembali ke dalam lubang hidung.


Follow Qureta Now!

Impor pacul ini juga menimbulkan hujatan-hujatan dan cibiran. Pacul saja masak ngimpor? Bukankah negeri ini dari dulu sudah mengenal metalurgi, memiliki banyak empu yang digdaya, yang bisa mengubah logam jadi senjata-senjata ampuh bin yahud? Tapi rupanya pemerintah butuh pacul berstandar “SNI”. Dan para empu, para pande besi, tentu tak banyak tahu cara meng”SNI”kan pacul buatannya. Yang mereka tahu adalah bagaimana cara membuat pacul pesanan, sesuai dengan kontur tanah dan kenyamanan seorang petani. Jadi, pacul satu daerah dengan daerah lain bisa berbeda model.

Tapi Cina bisa melakukan itu, bisa meng”SNI”kan paculnya. Dan pacul-pacul jadi seragam. Bhineka Tunggal Ika itu entah kemana. Ragam pacul mungkin tak masuk BhinekaTunggal Ika.

Pemerintah bilang, kita butuh 10 juta pacul tiap tahun. Tapi, pacul-pacul itu bukan untuk kebutuhan pertanian rupanya. Sebagian besar dibutuhkan untuk konstruksi. Dipikir-pikir, dirasa-rasa, pembangunan era Jokowi ini melebihi era Simbah Pembangunanisme. Getol sekali Pak Jokowi ini membangun infrastruktur. Sampai konflik terjadi di Jawa Barat. Petani dan polisi ricuh. Para petani menolak pembangunan bandara diatas lahan sawah mereka. Hingga kini kabar masih hangat, tapi diinjak-injak dan ditindih oleh isu Kapak Naga Geni 212 Namanya. Karena kabar ini tidak seterkenal kabar 212, tak terlalu banyak yang mencibir pemerintah.

Namun kabar sebelumnya, yang ramai di media sosial, adalah kabar penangkapan WN Cina di pedalaman Bogor. Mereka ditangkap karena 3 dari 4 WN Cina itu, ilegal. Publik, lagi-lagi mencibir pemerintah kecolongan lagi. Dan “Cina” lagi. Lagi-lagi “Cina.” SARA di Jakarta sudah menggila, ditumpuk oleh kabar imigran gelap dari sana pula.

Tapi apa yang dilakukan orang Cina di pedalaman Bogor? Mereka bertani. Mereka menanam cabai. Jauh-jauh dari Cina, menyeberangi samudra dan daratan hutan belantara, hanya untuk bertani.

Ingat! Bertani!

Publik hanya melihat karena mereka imigran gelap dan mereka dari Cina. Publik jarang yang melihat, mengapa orang Cina itu mau bertani di sini, di negeri yang dulu pernah mendaku sebagai negeri agraris ini.

Dari cibiran tentang impor singkong, cibiran tentang impor pacul, dan cibiran imigran gelap Cina, sebuah benang hitam (karena benang merah sudah terlalu mainstream) bisa ditarik. Ini urusan pertanian. Dan karena sektor inilah yang bisa membuat warga masyarakat Indonesia ini bisa berpikir jernih, bisa beriman dan beribadah dengan tenang.

Siapa yang bisa berpikir jernih kalau kelaparan? Siapa yang bisa khusyu sembahyang saat dalam perut berbunyi seperti genderang perang? Siapa kalau bukan petani dan sektor pertanian? Tapi publik Indonesia, diwakili media sosial di linimasa saya, cuma mencibir. Tak banyak dari kita yang mau jadi petani, dan laporan BPS adalah bukti bahwa jumlah keluarga petani Indonesia terus menyusut tiap tahunnya. Tapi orang-orang terus mencibir pemerintah, mengurusi nista-nista agama, acuh terhadap nasib petani Jawa Barat dan Sumatra yang dipukuli aparat negara. Negara ini maunya gimana sih?

Nanti saat kita kurang beras, terus impor, mencibir lagi. Padahal sendiri tak mau tanam padi. Nanti, kalau pemerintah impor cabai, mencibir lagi. Padahal kita tak mau tanam sendiri. Nanti kalau pemerintah impor daging sapi, mencibir lagi, padahal kita tak mau mencari rumput dan lebih memilih demonstrasi memberi ancaman pengkafiran di sana-sini. Saat petani di dzalimi, sawahnya mau ditimbun beton untuk bandara, lahannya direbut oleh perusahan-perusahaan sawit raksasa, malah tak diurusi. Padahal merekalah yang menggenapi padi yang kita butuhkan setiap hari.

Memangnya apa yang bisa dilakukan saat kita kelaparan? Berdoa dan menengadahkan tangan ke arah langit saja? “Jika membiarkan kematian petani, bakar saja semua sekolah pertanian dan lemparkan diktat kuliah dan togamu di luweng-luweng gelap”, kata esais Muhidin M Dahlan. Muhidin mencibir para sarjana tani. Eh, cibiran lagi.

Dari pada kita menjadi jamaah pencibir, lebih baik dengarkan Soeket, penjual bakso kenyot itu sedang bernyanyi. Begini ia bernyanyi: 
Gundhul-gundhul pacul-cul
Pacul soko Cino-no
Gundhul-gundhul pacul-cul
Pacul soko Cino-no.

"Eh, benar atau salah lirik lagu itu?" Tanya si Soeket kepada dirinya sendiri.

Priyadi

Petani Jamur Tiram. Tinggal di dusun Watulemper.

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016