16593.jpg
Facebook Perkampungan Sosial Pingit
Pendidikan · 2 menit baca

Pendidikan (Bukan) Urusan Anak Muda
Pendidikan Anak Butuh Keterlibatan Kaum Muda

"Aku gak bisa dampingin anak-anak."

"Aku gak bisa ngatur waktu soalnya kegiatan kuliah banyak banget."

Bagi orang-orang yang pernah mencoba mengajak rekan atau kenalannya untuk ikut terlibat dalam dunia pendidikan/pendampingan belajar anak pasti pernah mendapatkan respon di atas. Respon-respon tersebut hanyalah contoh kecil dari banyaknya "alasan" yang bisa didapat.

Dalam pelbagai kesempatan saya mencoba mengajak orang-orang yang saya kenal untuk meluangkan waktunya dalam membantu adek-adek di Perkampungan Sosial Pingit (selanjutnya disebut Pingit). Ada beberapa teman yang tertarik untuk datang dan bertahan namun tidak jarang penolakan lah yang saya dapat. Bagaimana perasaan saya ketika menerima penolakan tersebut? Kesal. Jujur itulah perasaan yang kerap muncul dalam diri saya. Namun sering pula muncul pemikiran saya bahwa memang tidak semua orang suka dengan dunia pendidikan apalagi bagi kaum muda kebanyakan.

Saya pribadi memiliki ketakutan yang sama ketika pertama kali dicemplungkan dalam dunia ini. sebagai seseorang yang tidak bertalenta (begitu saya menganggap diri saya pada waktu itu), saya merasa akan sulit bagi saya untuk memikat hati anak-anak. Seperti sudah diketahui bahwa anak-anak lebih antusias akan hal-hal baru dan inovasi-inovasi menarik yang saya yakini tidak mungkin berasal dari saya. Seiring berjalannya waktu ketakutan itu runtuh, saya menemukan banyak hal baru yang membuka cakrawala saya akan dunia anak.

Ada banyak hal yang mendorong kaum muda untuk menghindari dunia pendidikan khususnya bagi anak-anak.  Pengalaman bersosialisasi dengan anggota keluarga (sepupu, keponakan atau adik kandung) dijadikan sebagai acuan. Ataupun pengalaman "terjun" pertama kali yang berakhir kurang manis justru semakin menjauhkan mereka dari kegiatan tersebut, terutama jika gagal memotivasi diri sendiri.

Saya menemukan fakta bahwa ada banyak anak yang sebenarnya tidak membutuhkan seseorang yang luar biasa dan bisa melakukan segalanya. kebanyakan anak justru lebih membutuhkan sosok kakak atau teman yang mau diajak bercerita. Menempatkan diri sebagai teman bercerita sebenarnya merupakan salah satu cara terbaik untuk merebut hati anak-anak. 

Setiap orang pernah melalui fase kanak-kanak dan itu adalah keniscayaan. Beruntunglah bagi kaum muda sebab masa kanak-kanak tersebut pasti masih sangatlah membekas dan merupakan senjata ampuh dalam mendampingi anak-anak. 

Selain ketidakmampuan menghadapi anak-anak, banyak pula kaum muda terutama dari kalangan mahasiswa yang merasa kesulitan untuk mengatur waktu jika harus mengikuti kegiatan non-kampus. Ada banyak alasan mengapa mahasiswa cenderung memilih kegiatan dari kampus, selain untuk menambah kenalan dengan rekan sekampus, kegiatan-kegiatan kampus juga biasanya hanya berlangsung 2 sampai 3 bulan. Para mahasiswa juga mendapatkan sertifikat, hal ini dianggap lebih praktis ketimbang harus memberi diri mengikuti kegiatan non-kampus.

Ketakutan tidak bisa membagi waktu adalah sesuatu yang berlebihan menurut saya. Saya percaya ketika seorang mahasiswa sudah menempatkan suatu kegiatan (non-kampus) sebagai prioritas maka akan selalu ada waktu. Namun jika itu belum dipandang sebagai prioritas maka rasa enggan justru yang akan menghinggapi. Lagipula mayoritas kegiatan non-kampus termasuk pendampingan belajar anak biasanya memang dilakukan di luar jam kuliah (biasanya dilakukan sore-malam).

Sudah bukan zamannya lagi menggantungkan masa depan pendidikan anak terhadap pemerintah. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab yang sam. Bukan tidak mungkin tindakan terlibat ini akan menjadi suatu hal baik yang berantai. Anak-anak yang mengalami kebahagiaan didampingi kaum muda dalam proses belajarnya dapat tumbuh dengan semangat berbagi yang sama atau bahkan lebih besar. 

masihkah menganggap bahwa pendidikan anak bukan menjadi urusan kaum muda?

"Mengajari anak-anak Indonesia saya anggap pekerjaan tersuci dan terpenting."  Tan Malaka