oioykahehbbyaiv-1600x900-nopad.jpg
Politik · 2 menit baca

Pemuda Sebagai Agen Pembaruan dalam Bingkai Politik


“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” [Ir. Soekarno]

Kalimat dari presiden pertama RI, bapak Ir. Soekarno sudah sangat merefleksikan bagaimana pemuda memiliki peran yang penting. Pemuda sebagai agent of change, sejatinya merupakan sebuah tonggak pembaharuan untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki. Pemuda dengan pemikirannya yang kritis dan memiliki ide-ide yang kreatif akan mampu memunculkan kembali gerakan-gerakan alernatif.

Sejak era Bung Karno, pemuda telah berperan aktif dalam pembangunan, kemajuan negara dan perbaikan nasib bangsa kearah yang lebih baik. Hal ini telah terlihat jelas dengan banyaknya gerakan-gerakan kepemudaan yang muncul seperti, Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, gerakan memperjuangkan kemerdekaan hingga Proklamasi RI dan gerakan Reformasi 98. Gerakan-gerakan ini, merupakan bukti nyata betapa pemuda sangat berperan aktif untuk membawa bangsa kearah yang lebih baik.

Pemuda dengan segala potensinya, merupakan aset bangsa yang sangat berharga, karena sejatinya peran pemuda selalu dibutuhkan disemua aspek kehidupan, tak terkecuali ranah politik. Pemikiran kritis, kreatif dengan cita rasa idealisme dapat menjadi bumbu yang dapat digunakan sebagai alarm untuk mengawal praktik demokrasi ditengah masyarakat, salah satunya saat pemilihan umum  maupun pemilihan kepala daerah.

Tapi ironisnya, pemuda saat seakan begitu anti dengan politik. Bagaimana tidak? Mindset mereka tentang politik telah sangat negatif, apalagi ditambah dengan pengaruh peran media yang selalu menyajikan praktik-praktik politik dalam negeri yang penuh intrik dan kesan negatif.

Hal inilah, yang menyebabkan pemuda menjauh dan menarik diri dari ranah politik. Mereka menganggap politik adalah sebuah virus mematikan yang harus dijauhi kapanpun dan dimanapun, membuat pemuda menjadi orang-orang yang anti politik. Para pemuda anti politik ini, dapat kita lihat jelas ketika pemilihan, baik umum maupun daerrah. Banyaknya rakyat yang memilih golput (golongan putih), dan sebagian besarnya adalah dari tokoh pemuda.

Sangat ironis memang, tapi inilah realitanya! Padahal, peran pemuda dalam politik amat sangat dibutuhkan. Pemuda dibutuhkan sebagai pengawal dan penyeimbang untuk mewujudkan demokrasi dalam bingkai yang jujur dan terbuka. Terlebih lagi, pemuda dikenal dengan agen perubahan, seharusnya mereka bisa ikut andil secara menyeluruh, baik itu sebagai penyelenggara, pengawas maupun peserta dalam alur demokrasi.

Dengan peran aktif pemuda yang terlibat dalam politik, diharapkan dapat mendorong praktik demokrasi kembali kejalan yang semestinya. Maka bagi para pemuda, sudah saatnya untuk maju dan terjun di kancah politik. Jangan lagi hanya sebagai penonto,n atau figuran di panggung politik negeri ini.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh pemuda untuk mengaktualisasika dirinya diranah politik dan demokrasi, seperti: mengadakan forum kajian/diskusi politik kritis berbasis masyarakat dan lintas sektoral, menawarkan sebuah gagasan,membuka ruang komunikasi-diskusi antarpemangku kebijakan dengan elemen pemuda, dan lain sebagainya, serta memanfaatkan media massa/sosial media sebagai alat bantu untuk membentuk dan mendorong budaya politik yang sehat dan terbuka.

Mari para pemuda Indonesia, jangan anti terhadap politik karena nasib bangsa ini berada ditangan para pemudanya. Bukankah Allah Swt telah berfirman, bahwa Dia tidak akan merubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya? Pemuda sebagai agen perubahan, dapat memberikan warna baru untuk perpolitikan di Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi? Bukankah pemuda hari ini adalah pemimpin dimasa depan!

#LombaEssayPolitik