Ketik untuk memulai pencarian

Pantaskah Mengkafirkan?

Pantaskah Mengkafirkan?

Gambar: scontent.cdninstagram.com

Dalam surat-suratnya di Endeh kepada A.Hassan, Bung Karno mengkritisi mudahnya mengucap kata kafir kepada kemajuan peradaban. Bung Karno mengkritik keras kaum kanan yang seolah tak mau mengikuti perkembangan zaman atau anti kemajuan. 

Bung Karno menulis:

Kita royal sekali dengan perkataan ‘kafir’. Pengetahuan Barat-kafir; radio dan kedokteran –kafir; pantolan dan dasi dan topi-kafir; sendok dan garpu dan kursi-kafir; tulisan Latin-kafir; ya pergaluan dengan bangsa yang bukan Islam pun-kafir!
Padahal, apa yang kita namakan Islam? Bukan roh Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan amal Islam yang mengagumkan, tetapi dupa dan kurma dan jubah dan celak mata!
Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa matanya dicelak dan jubahnya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar-dia, dialah yang kita namakan Islam. Astagafirullah! Inikah Islam? 

Tulisan Bung Karno ini menjadi relevan dengan masa saat ini, di mana kata kafir begitu mudah terlontar. Jika ada alien turun dari langit, mungkin alien tersebut akan berpikir bahwa kita adalah orang-orang paling suci dalam abad ini.


Follow Qureta Now!

Padahal menjadi orang mukmin itu tidak mudah. Dalam QS: Al-Balad 12-17 dijelaskan:

Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? Melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. 

Al-Ghazali pun dalam bukunya Minhajul Abidin menjelaskan tujuh tanjakan menjadi seorang mukmin yang sejati. Tanjakan pertama, sebagai seorang mukmin ibadah kita harus disertai ilmu dan makrifat. Kalau sudah berilmu & makrifat, harus bertaubat. Kalau sudah bertaubat, harus mampu memelihara diri dan menaklukan nafsunya sendiri.

Kalau sudah, harus bisa menahan diri dari godaan riziki, bahaya, berbagai macam kesusahan, dan takdir dari Allah. Kalau sudah bisa menahan godaan, harus penuh rasa tawakkal, berserah diri, sabar, dan ridho. Kalau sudah melewati semua ini, lagi-lagi harus bisa mengalahkan riya' (memamerkan diri) dan ujub' (mengagumi diri sendiri). Barulah kalau sudah, sampai pada tanjakan akhir di mana yang tersisa dalam diri hanyalah limpahan puji dan syukur kepada Allah. 

Sudahkah kita melewati setiap tanjakan ini dan menjadi seorang mukmin yang sejati? Sudahkah kita meruntuhkan ego dalam diri kita? Sudahkah hilang sifat riya dan ujub' dari diri kita? Sudahkah kita menjadi orang suci tanpa noda? Atau sudahkah setidaknya kita selalu berusaha memperbaiki diri? Sudahkah kita menyerahkan diri hanya untuk melimpahkan puji dan syukur kepadaNya? 

Atau jangan-jangan kita justru belum mencapai tanjakan yang disebut Al-Ghazali itu sama sekali? Jangan-jangan ibadah kita pun masih minus ilmu dan makrifat! 

Tapi mengapa kita berani dengan mudahnya memberi cap kafir kepada orang lain? Sudah sama-sama Islam, madzhabnya berbeda, kafir! Sudah madzhabnya sama, beda cara pandang, kafir! Pokoknya harus sama dengan kita. Kalau tidak sama, ya berarti kafir, Oh betapa mudahnya! Benar kata Bung Karno, royal sekali kita mengucap kata kafir!

Jika ibadah masih belum disempurnakan ilmu, hidup masih diabdikan untuk kepuasan diri sendiri, ego masih menggrogoti, riya' dan ujub' masih menyatu dengan kita,  pantaskah kita menilai, menghakimi dan bahkan memberi cap kafir kepada mereka yang berbeda ketika Allah saja menciptakan kita untuk berbeda?

Apa yang salah dengan kita?

Tsamara Amany

Penulis | Aktivis sosial-politik

Comments

Anugrah Bumi's picture
Anugrah Bumi's picture
Banu Rezapati reza's picture
Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016