Ketik untuk memulai pencarian

Opini Publik pada Aksi 212

Opini Publik pada Aksi 212

Foto: slideplayer.info/slide/1939740/

Akhir-akhir ini berita yang menjadi populer di media-media Indonesia adalah berita tentang aksi atau demonstrasi. Aksi dan demonstrasi yang memukau adalah tentang Ahok, penistaan agama, kemudian menuju kepada makar terhadap pemerintah.

Berita tersebut menjadi berita yang populer di media massa. Media cetak maupun elektronik dan juga internet. Menariknya, aksi yang diadakan pada 2 Desember 2016 atau bahasa viralnya 212 itu dinamakan dengan "aksi damai bahkan super damai."

Entah dari mana asal mula munculnya opini aksi 212 sebagai "aksi damai bahkan super damai". Namun, baik pemerintah, polisi dan TNI, juga kelompok peserta aksi menyebutkan bahwa aksi 212 adalah "aksi damai bahkan super damai," karena tujuan mereka mengadakan aksi yang sering didengungkan itu adalah berdoa untuk negeri Indonesia, itu saja.

Penyebutan "aksi damai bahkan super damai" dari pemerintah, aparat keamanan dan penegak hukum (Kapolri dan TNI), dan para peserta aksi ini memainkan peran sebagai komunikator.

Komunikator adalah mereka sebagai pengirim pesan. Pesan dalam aksi ini adalah "aksi damai bahkan super damai". Pesan dari komunikator disambut oleh berbagai media. Media menampung dan membawa pesan tersebut kepada publik (khalayak, penonton, konsumen media) kemudian membentuk sebuah opini publik.

Mengenai bahasa opini menyebut “aksi damai bahkan super damai” yang disuarakan pihak-pihak terkait itu dipakai oleh berbagai jenis media; televisi, radio, surat kabar, dan internet, bahkan juga dipakai dalam percakapan diluar media. Bahwa aksi 212 adalah "aksi damai bahkan super damai."

Bahasa “aksi damai bahkan super damai” yang digunakan untuk menanggapi aksi 212 digiring media menjadi opini publik. Lalu, apakah itu opini publik? Bagaimana perannya dalam media?

Follow Qureta Now!

Opini publik menurut Dan Nimmo adalah opini personal atau pribadi yang terdiri atas kegiatan verbal dan nonverbal yang menyajikan citra dan interpretasi individual tentang objek tertentu, biasanya dalam bentuk isu yang diperdebatkan orang.

Opini publik yang disampaikan oleh pihak berkepentingan tersebut punya peran dalam sebuah media untuk mewartakan objek informasinya kepada publik (audiens, khalayak, penonton sebagai konsumen media). Ini supaya publik bisa menerima maksud atau pesan dari objek yang diinformasikan.

Bagaimanakah mengetahui bahwa itu merupakan opini publik? Untuk memahami opini seseorang dan publik menurut R.P. Abelson, ini berkaitan dengan:

  1. Kepercayaan mengenai sesuatu (belief)
  2. Apa yang sebenarnya dirasakan atau menjadi sikapnya (attitude)
  3. Persepsi. Suatu pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi serta menafsirkan pesan dan persepsi merupakan pemberian makna pada stimuli inderawi.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam karyanya The Elements of Journalism (2001) menjelaskan bahwa dalam jurnalisme, kejujuran, fakta, dan verifikasi merupakan prinsip-prinsip dalam forum publik.

Forum publik dalam aksi ini adalah mereka yang membangun opini aksi tersebut sebagai pengirim pesan: "aksi damai bahkan super damai," yang ini paling banyak disuarakan oleh pemerintah, aparat keamanan dan penegak hukum (Kapolri dan TNI) serta para peserta aksi.

Opini publik yang digiring media sebagai “aksi damai bahkan super damai” ini tentu tidak lepas dari kritikan. Karena ketika melihat dilapangan secara objektif antara opini dan fakta tidak selaras, tidak seimbang.

Media menggiring opini publik dengan membawa pesan "damai" dan ini “positif”, tapi fakta dilapangan diitemukan yang berbeda dari makna opini yang diangkat. Opini yang diangkat bermakna positif tapi disalahgunakan bahkan jauh dari pesan positifnya.

Khalayak atau audiens media sebagai penonton dan menyimak media pun kelompoknya terbagi-bagi ketika menyikapinya. Ada mereka yang dapat melihat dan ada yang tidak bahkan acuh apakah itu sesuai atau tidak sesuai, antara opini yang diangkat dengan fakta di lapangan. Khalayak media pun bersikap ada yang aktif dan ada yang pasif menilai maksud dan makna yang diangkat dibalik opini tersebut. 

Tidak seimbangnya antara opini yang diangkat dengan fakta di lapangan misalnya dapat dilihat pada kasus salah satu media beserta para awak medianya yang ketika itu sedang bekerja dilapangan meliput seputar aksi 212. Awak media yang sedang bekerja diintimidasi oleh beberapa peserta aksi dengan bahasa-bahasa dan perilaku yang tidak beretika. Padahal para awak media yang sedang meliput itu dilindungi undang-undang dalam profesi kerjanya.

Komentar pun bermunculan dan beragam dari berbagai khalayak media, terutama media sosial, karena video tindakan intimidasi tersebut cepat tersebar. Cepat juga para khalayak media memberi respon dengan komentar yang bervariasi bahasa.   

Terlepas dari berbagai jenis media yang digunakan, keberpihakannya, dan juga kelompok-kelompok khalayak media, aksi 212 tetap tidak lepas dari berbagai kritikan. Ini merupakan hal yang wajar karena wacana yang diopinikan dengan fakta yang terjadi dilapangan tidak sepenuhnya sesuai 100% dengan opini yang diangkat "aksi damai bahkan super damai". Siapa pun bisa berkomentar, menilainya, dan dengan beranekaragam sudut pandang.  

Pro dan kontra dari aksi 212 menjadi menarik. Terutama dalam mengangkat opini kepada publik bahwa aksi 212 sebagai "aksi damai bahkan super damai" tetapi berbeda dengan fakta seperti kasus di atas.

Sehingga pertanyaan seperti ini mungkin bisa dipertanyakan, apakah opini publik itu telah sukses bekerja di lapangan dengan cara mengintimidasi para pekerja di salah satu media? Apakah opini publik yang dikumandangkan “aksi damai bahkan super damai” itu telah mencerminkan aksi yang sungguh damai bahkan super damai?

Silvayanti

Minat pada studi komunikasi massa, art, ilmu pengetahuan, keberagaman, dan kemanusiaan. | twitter.com/Silvayanti | instagram.com/seinsdenken

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016