Ketik untuk memulai pencarian

Nasr Hamid dan Otoritarianisme Tafsir

Nasr Hamid dan Otoritarianisme Tafsir

Al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Umat Islam yang mejalani  realitas kehidupan, tentu harus mendapatkan arahan dari sang Khalik supaya tidak terjerumus dalam nafsu keduniawian dan menghilangkan sisi spiritualitasnya. Untuk itulah, al-Qur’an diperlukan dalam mengarungi dinamika zaman dan menjawab persoalan-persoalan umat Islam yang terjadi.

Namun al-Qur’an itu sendiri hanya turun kepada Nabi Muhammad saw sebagai Rasul, dan setelah beliau wafat maka tidak ada lagi wahyu-wahyu yang disampaikan kepada umat. Dengan demikian, apakah al-Qur’an bisa berkompirasi dengan perkembangan zaman, yang secara historis berbeda dari zaman rasul hidup, sampai pada konteks kekinian?

Mampukah teks al-Qur’an menjawab berbagai macam persoalan yang terjadi di setiap zaman yang tentu persoalan itu berbeda-beda? Teks dalam  kitab suci al-Qur’an, terkadang maknanya tidak dapat disimpulkan dari satu prespektif, tapi bisa dari berbagai prespektif yang lain. Inilah mengapa ajaran al-Qur’an tidak selalu bersifat absolut dalam kesimpulan penafsirannya.

Namun hal inilah terkadang yang membuat al-Qur’an tidak terlepas dari berbagai macam persoalan, seperti monopoli kebenaran dari penafsir, sehingga tidak boleh ada penafsiran lain kecuali dari si penafsir tersebut, sehingga terjadilah otoritarianisme pemaknaan al-Qur’an. Pemahaman dan penafsiran nash, seharusnya tidak boleh hanya ditentukan secara sepihak baik oleh individu, kelompok, maupun institusi tertentu.

Tidak perlu seseorang atau sekelompok orang merasa menjadi satu-satunya “juru bicara Tuhan” yang terpilih untuk menjelaskan kehendak Tuhan seperti yang tertuang dalam kitab suci (al-Qur’an). Jika hal ini dilakukan maka penafsiran serta pemahamannya cenderung bersifat despotik (Amin Abdullah, 2004). Hal ini aka mengakibatkan stagnasi nilai-nilai al-Qur’an yang tidak mampu bergerak sesuai sosio-historisnya.

Konservativisme ini akan mengakibatkan terjadinya fenomena “polisi kebenaran” dalam kehidupan beragama. Para penafsir yang tidak sesuai dengan dia atau kelompok yang telah menafsirkan sebelumnya akan diangap sesat, dipandang sebagai pelaku bid’ah, dituduh murtad, atau bahkan divonis kafir sehingga halal darahnya.

Merebaknya sikap monopoli kebenaran inilah yang cenderung mengabaikan maqhasid asy-syari’ah dan terkadang antirasional sehingga bersifat apolegetik terhadap zaman yang dihadapi. Untuk itu para pemikir Muslim zaman sekarang mencoba menghilangkan sifat yang demikian, sehingga umat Islam bisa saling menghargai dalam kemajemukan pemikiran.

Banyaknya fatwa-fatwa keagamaan yang dinilai tidak relevan pada zaman sekarang terkadang membuat resah umat Islam. Tidak sedikit pula yang menganggap Islam sebagai agama yang over eksklusif dan menarik diri dari realitas zaman.

Hal ini disinggung oleh Khaleed Abou El-Fahdl dalam bukunya, Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women yang melakukan sejumlah kritik dan keberatan terhadap fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh CRLO (Council For Scientific Research and Legal Opinion), sebuah lembaga pengkajian ilmiah dan fatwa yang merupakan lembaga resmi di Arab Saudi, yang fatwa-fatwanya ia nilai sering bias gender dan merendahkan wanita.

Untuk itu dalam penafsiran al-Qur’an, bagaimana wacana (discourse) al-Qur’an yang disampaikan melalui Muhammad saw. dapat dipahami berdasarkan sang pemberi wahyu (author) bukan terbatas pada sang pembaca wahyu (read). Kerangka epistem dapat dipetik tanpa hanya terfokus pada aksio teks saja. Dalam frame hermeneutis, tanda atau teks ditelusuri secara komprehensif sehingga wacana tanda atau teks itu bisa dipahami secara medalam (deep discourse).

Untuk itu kita harus memahami sistem kata, bahasa atau tanda terhadap peristiwa dan realitas ekternal kehidupan manusia terutama dalam teks kitab suci (al-Qur’an). Salah satu tokoh yang kiritis terhadap penafsiran al-Quran yang bersifat otodoks adalah Nasr Hamid Abu Zayd. Pria kelahiran Kairo, Mesir ini sejak di bangku kuliah sudah menggeluti dunia analisis wacana.

Dirinya pun mencoba memahami al-Quran dengan pendekatan hermeneutika. Menurut Nasr Hamid, para pemikir Muslim merumuskan bahasa sebagai sistem tanda yang kedudukannya sama dengan sistem-sistem tanda yang lain, seperti gerakan-gerakan dan isyarat. Abdul Qohir al-Jurjani, master sastra Arab Muslim, berpendapat bahwa kata tidak menunjuk makna dengan sendirinya melainkan melalui konvensi.

Follow Qureta Now!

Ia mencontohkan, bahwa tidak ada hubungan natural antara kata “pukul” dengan peristiwa yang ditunjukinya di dunia luar, yaitu kejadian pemukulan yang aktual. Sebaliknya kata itu merupakan yang menunjuk pada suatu peristiwa yang dapat digantikan dengan tanda-tanda lain untuk menunjukkannya jika memang ada kesepakatan untuk itu.

Dalam hubungan tersebut, Nasr Hamid meminjam teori semiotika yang dikemukakan oleh ahli bahasa Ferdinand De Saussure  dalam karya cours de linguistique generale. Ia memandang Saussure telah memunculkan sisi revolusioner dalam konsepsi tentang tanda. Saussure menghindari penggunaan istilah penanda (kata) dan pertanda (arti), karena lebih mampu mengekspresikan kompleksitas unit bahasa.

Penanda dan pertanda merupakan dua aspek dari tanda bahasa atau unit bahasa yang tidak mengacu secara langsung kepada benda, melainkan kepada konsep mental yang serupa dengan makna dan bukan bendanya (Nasr Hamid Abu Zaid, Teks, otoritas, kebenaran). Menurut Nasr Hamid, formulasi Saussure itu mengakhiri untuk selama-lamanya konsepsi klasik tentang hubungan bahasa dengan dunia  sebagai ungkapan langsung tentang dunia tersebut.

Hubungan antara bahasa dan dunia ditentukan oleh horizon konsepsi dan pandangan mental kultural. Bahasa tidak mengungkapkan dunia eksternal yang objektif pada dirinya sendiri sebab dunia seperti itu jika ada, akan direduksi dalam bentuk konsep-konsep dan pandangan-pandangan budaya.

Karena tanda-tanda bahasa tidak mengarah secara langsung pada realitas eksternal, tetapi pada gambaran mental yang berdiam dalam kesadaran mental dan bawah sadar masyarakat, berarti bahasa berada pada inti kebudayaan. Nasr Hamid meminjam pembedaan yang dilakukan Saussure antara struktur lingusitik teks (parole), khususnya teks-teks monumental, dengan sistem linguistik kultural yang memproduksinya (languae).

Languae dalam universalitasnya dan pluralitas tingkatan-tingkatannya, fenologi, morfologi, sintaksis, dan semantik merupakan sistem semantik bagi kelompok masyarakat. Parole dalam kaitannya dengan languae bersifat partikular dan riil, mencerminkan sebuah sistem partikular atau kode khusus, dalam sistem universal yang tersimpan dalam memori masyarakat (Nasr Hamid Abu Zaid. Naqd al-Khitab al-Diniy).

Atas dasar itu, Nasr Hamid membagi makna teks menjadi dua, yaitu makna yang khusus (khashsh) dan makna yang umum (amm). Makna yang umum merupakan sisi semantik yang secara langsung mengacu kepada realitas kultural-historis untuk memproduksi makna teks, sementara yang khusus merupakan sisi dinamis yang kontinu dan dapat berubah-ubah seiring dengan setiap pembacaan.

Singkatnya, perbedaan tersebut merupakan perbedaan antara makna parsial (partikular) yang temproral dengan makna umum yang universal, yang partikular (khashsh) dapat berubah menjadi universal (amm) melalui interpretasi metaforis.

Dalam kaitannya terhadap teks al-Qur’an yang pada dasarnya adalah firman Allah, Nasr Hamid mengatakan bahwa teks al-Qur’an termasuk parole, bukan teks langue, meskipun ia mendasarkan kemampuan pengujarannya pada langue. Yang dimaksud dengan kemampuan pengujaran disini adalah kemampuannya dari segi keberadaannya sebagai teks yang ditujukkan pada manusia dalam sebuah konteks kebudayaan itu, bukan dari segi pihak yang mengujarkan (Allah).

Teks al-Qur’an memang mendasarkan diri pada langue, tetapi ia merupakan parole dalam sistem kebahasaan dan mampu untuk mengubah langue. Atas dasar posisinya dalam sistem budaya, yaitu pertanda dan bahasa, Nasr Hamid menyimpulkan bahwa al-Qur’an adalah “produk budaya” tetapi produk yang juga mampu untuk melakukan produksi ulang.

Hal itu terjadi karena ia merupakan produk yang tercipta dalam kebudayaan, yang pada saat yang sama, ia juga menghasilkan perubahan dan penciptaan yang pada kawasan sistem budaya dan bahasa sekaligus. Terkait dengan interpretasi teks keagamaan (al-Qur’an), problem yang sering muncul adalah bagaimana seorang penafsir bisa menangkap makna objektif dari al-Qur’an dan mampu memahami “maksud absolut” Tuhan.

Untuk itu khazanah Islam klasik biasanya membagi menjadi dua model dalam menginterpretasikan al-Qur’an, yaitu tafsir bil al-ma’tsur dan tafsir bil al-ra’y atau ta’wil. Tafsir bil al-ma’tsur bertujuan mencapai makna teks melalui sejumlah dalil historis dan kebahasaan yang membantu pemahaman teks secara objektif.

Tafsir bil al-ra’y biasanya jauh dari makna objektif karena biasanya penafsir tidak memulai dari dalil-dalil historis dan gejala kebahasaan, tapi mulai dari sikap aslinya, lalu berupaya mencoba menemukan sandaran sikapnya dalam al-Qur’an.

Dua kecenderungan itu masing-masing  merepresentasikan sudut pandang atas hubungan penafsir dengan teks, yang pertama mengabaikan dan memarjinalkan eksistensi penafsir dalam fakta-fakta historis, demi teks, sementara yang kedua tidak melupakan hubungan tersebut tetapi menegasikannya dengan tingkat penegasian dan aktivitas yang berlainan antar berbagai kelompok yang memformulasikan sudut pandang itu.

Menurut Nasr Hamid, hubungan penafsir dengan teks adalah pangkal persoalan serius dalam filsafat hermeneuitika. Hermeneutika berbeda dengan tafsir yang disebut dengan istilah eksegesis. Tafsir (exegesis) itu menunjuk penafsiran itu sendiri dengan detail-detail aplikasinya.

Sementara hermeneutika mengacu pada teori penafsiran. Hermeneutika bukan persoalan spesifik pemikiran Barat, melainkan persoalan yang eksistensinya ada dalam khazanah (turats) Arab klasik dan modern. Arab tidak mesti harus selalu mengadopsi dan mengadaptasi Barat, tetapi ia harus bertitik tolak dari angan-angannya sendiri dalam berinteraksi dengan realitas kultural dalam sisi historis maupun sisi kontemporernya.

Menurut Nasr, penafsir harus mempersatukan antara penafsirnya dengan teksnya sendiri dan antara teks dengan segala tandanya serta formulasi linguistik dan estetikanya dengan tujuan pengarang. Trilogi pengarang-teks-penafsir atau tujuan-teks-tafsir sesungguhnya tidak bisa dipersatukan secara mekanis diantara unsur-unsurnya. Dalam konteks ini Nasr ingin mengatakan bahwa, seorang penafsir harus memerlukan gerak “mental intelektual” (ta’wil).

Melakukan pembacaan interpretatif, bagaimana pembaca harus tenggelam secara total dalam dunia teks, tidak bersifat dangkal dan harus komprehensif. Al-Zakasyi sendiri mengatakan dasar memahami makna-makna al-Qur’an adalah  dengan tadabrur dan tafakur. Ta’wil merupakan suatu cara yang objektif untuk memahami teks agama, tetapi obyektifitsnya bersifat kultural, bukan obyektifitas mutlak.

Muhammad Firmansyah

Bekerja di salah satu perusahaan properti. Pernah menjadi mahasiswa sampai smester 5. Tidak pernah lepas dari membaca, menulis, dan berdiskusi...

Comments

Febri Edo's picture
Muhammad Firmansyah's picture
Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016