43998.jpg
Toko Bunga Sabana
Politik · 1 menit baca

My Condolence for Jakarta

Jakarta baru saja melewatkan kesempatan untuk dipimpin oleh birokrat terbaik saat ini, kemarin di Pilkada 19 April 2017.

Saya bukan penduduk DKI, tetapi saya mengamati. Begitu tahu yang memenangi pilkada bukan Ahok-Djarot, saya merasa gelo (bahasa Jawa)Entah apa padanan katanya dalam bahasa Indonesia; perpaduan antara kecewa, sedih, menyayangkan, heran, dan tidak percaya.

Saya kecewa pada mayoritas penduduk Jakarta. Saya yakin, Ahok tidak sepenuhnya bersih–sekali lagi, mana ada politikus yang bersih? Namun, Jakarta tidak memilih yang terbaik dari yang paling buruk.

Keadaan Jakarta berangsur membaik dalam waktu relatif singkat, menjadi kota yang lebih tertata, tetapi mayoritas penduduknya tidak mau memilih pemimpin yang sudah nyata pekerjaannya.

Saya sedih, karena Jakarta yang notabene menjadi kiblat kota-kota lain di Indonesia masih hidup dengan budaya masa lalu. Reformasi yang tercetus di Jakarta tahun 1998 dan menjadi obor bagi kota-kota lain untuk melakukan hal yang sama, hanyalah tahi ayam; hangat di awal, bau di belakang.

Nyatanya, mereka masih nyaman dengan budaya ‘gampang’. Bagi orang berduit, urusan bisnis lancar tanpa ikut aturan–hanya modal sogok. Bagi orang melarat, asal mereka bisa numpang tidur di stren kali dan berjualan di trotoar, persetan dengan banjir dan tata kota.

Saya menyayangkan Jakarta yang tidak rasional, mencampurkan urusan politik dengan sentimen SARA, menelan semua informasi tanpa menimbang dan mengeceknya terlebih dahulu. Berlomba mencari keburukan masing-masing calon pemimpin dan memamerkannya ke media untuk mencari suara.

Saya heran dan tidak percaya. Jakarta, kota megapolitan, katanya, ternyata tak lebih dari kota terbelakang. Mayoritas berisi manusia-manusia primitif yang susah diajak maju. Ibarat menghidupkan kembali manusia purba pada peradaban masa kini, mereka akan tetap memilih menggunakan batu daripada pemantik api, menggunakan cawat daripada sutra, atau mengejar ayam tetangga daripada KFC.

Pilkada hanyalah remah dari politik busuk Indonesia. Saya sempat membaca artikel Allan Nairn, ada gambar lebih mengerikan dari sekadar pilkada. Saya, sampai kapan pun tidak akan bisa memahami apa yang sedang terjadi. Sepak terjang dan jaring penuh lendir dan darah dari manusia-manusia busuk berprofesi sebagai politikus dan penguasa membuat saya bergidik.

Pesan saya bagi minoritas orang waras di Jakarta yang jumlahnya 42% (hasil quick count hingga tulisan ini dibuat), rangkul gubernur baru kalian. Jangan pernah berhenti, tetaplah maju walaupun kota kalian akan mandeg dalam kurun waktu lima tahun ke depan.