irena_handono.jpg
Irena Handono (kerudung coklat) setelah memberikan kesaksian pada kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok/Sumber: Twitter @UlinYusron
Agama · 3 menit baca

Mualaf Jadi Ustazah
Berkaca pada Sosok Irena Handono

Ketika saya SMA, seingat saya di kelas 2 (XI), guru agama Islam saya mengisi jam pelajaran dengan mendengarkan rekaman. Saya ingat betul rekaman itu berisi pengakuan seorang "Mantan Biarawati Katholik" yang mendapat hidayah masuk Islam hanya dengan satu surat Quran: Al-Ikhlas.

Sebagai prolog, guru agama saya memberikan alasan dan tujuan jam pelajaran ini diganti dengan mendengarkan rekaman:

Agar kalian mantap mengimani Allah dengan mendengarkan kisah nyata seorang perempuan yang berpindah agama lantaran agama lamanya terbukti salah/tidak benar.

Selain mengaku merasakan mukjizat Al-Quran--hanya dengan satu surat saja bisa langsung pindah agama--rekaman itu membeberkan upaya konspiratif agama selain Islam yang secara masif dan struktural berupaya sampai kiamat untuk merobohkan umat Muslim melalui tiga cara: Food, Fashion, dan Festival.

Lebih mantap lagi rekaman ini menegaskan, seolah-olah upaya konspiratif itu dilakukan sendiri secara organisatoris dan sistematis oleh gereja. Dan dia, "Mantan Biarawati Katholik" itu, melihat sendiri bagaimana ia diajarkan cara teknis dan strategis dari upaya memporak-porandakan Islam melalui tiga cara tadi.

Seperti kisah pertobatan seorang mantan agen CIA yang membeberkan kebobrokan agensi intelijen itu di media massa, di satu sisi rekaman pengakuan mantan biarawati itu sungguh menarik untuk disimak.

Dalam beberapa hari kemudian, saya mampir ke tetangga kelas, sekadar menanyakan respons mereka tentang rekaman itu. Informasi yang saya dapat, teman-teman sebaya saya jamak yang dari kecil sudah gentar menyentuh injil (dalam arti harafiah: benar-benar menyentuh secara fisik) karena cemas imannya dikotori.

Rekaman yang diputar guru agama saya dirasakan mereka sebagai hidayah tiada terkira, karena memantapkan hati untuk berpegang teguh kepada Islam. Tidak lain karena ada pengakuan "orang dalam" dari agama lain bahwa agamanya itu salah/tidak benar, dan hanya Islam yang benar-benar benar.

Setelah dari itu, tidak jelas siapa yang membawa, ada sebuah buku yang dibaca bergantian oleh teman-teman sekelas saya: "Membantah Kristen" (kalau judulnya bukan itu, paling tidak misinya samalah). Sejak itu, teman sebaya saya sudah mulai akrab dengan nama Ahmad Deedat dan Harun Yahya.

Teman saya pun berkomentar: "Ini buku penting agar iman kita terjaga dari keragu-raguan dalam memercayai Islam sebagai jalan kebenaran."

Sewaktu pulang sekolah, saya ngobrol dengan abah saya:

"Bah, baca Injil itu dosa gak, sih?"

"Memangnya ada apa, kok tanya seperti itu?"

"Di sekolah lagi ngetren membantah argumen ketuhanan agama lain. Guru agama saya malah memutarkan rekaman mantan biarawati yang masuk Islam."

Abah saya tertawa. Geli, mungkin.

"Tidak apa-apa. Kalau kamu suka membaca cerita, seperti cerita-cerita dalam Al-Quran (dan kamu kurang paham karena belum mengerti bahasa Arab), nah, injil itu bacaan yang bagus."

Sampai sekarang saya lupa siapa nama "Mantan Biarawati Katholik" tersebut.

Sampai akhirnya dalam sidang dugaan penistaan agama oleh Ahok tadi pagi, barulah ingat bahwa "Mantan Biarawati Katholik" yang rekaman pengakuannya diputar guru agama saya sewaktu SMA (12 tahun silam) adalah: Ibu Hj. Irena Handono (HIH).

Di beberapa laman yang saya cari di Google, atribusi HIH ternyata tidak hanya ustazah, namun sampai di tingkat Kristolog; Orang muslim/ah yang disebut pakar yang bertugas menangkal akidah-akidah Kristen yang diniatkan untuk misi kristenisasi.

Saya tidak pernah tahu dari siapa HIH mendapat pelajaran keislaman. Siapa guru ngajinya. Dari mana sanad Al-Qurannya. Dari ijazah siapa ngaji hadisnya.

Seperti saya tidak pernah tahu bahwa Felix Shiauw (FS) akhirnya menjadi ustaz, entah siapa guru ngajinya. Dari mana sanad Al-Qurannya. Dari ijazah siapa ngaji hadisnya.

Anda tahu, kenapa HIH dan FS sampai jadi "semulia" itu di mata umat Muslim?

Anak-anak di Eropa rata-rata membaca 25 buku dalam setahun. Ini artinya, dalam sebulan bocah-bocah di Eropa mengkhatamkan dua buah buku secara tuntas.

Sedangkan perbandingannya di Indonesia: dari 1.000 anak, hanya ada 1 bocah yang membaca 1 buku dalam 1 tahun.

Padahal ayat pertama yang diturunkan kepada Kanjeng Nabi, baik diterjemahkan secara harafiah maupun tersirat, pengertiannya mudah dan sangat jelas: iqra' (bacalah!).

Sampai di sini, dapat dimengerti?