42213.jpg
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Prambanan_Ramayana_ballet_(6807460364).jpg
Cerpen · 3 menit baca

Revisi Naskah Takdir


Aku ingat malam itu. Duduk aku bersamamu di antara stupa indah pada candi yang megah. Di bawah terang rembulan aku berjalan di sampingmu. Mendengar angin bernyanyi desirnya begitu indah. Tak lebih dari hitungan jam engkau bersamaku. Ahh.. persetan, begitu singkat pertemuan daripada penantian. Aku jadi mengerti bahwa waktu itu fana dan yang abadi itu kenangannya. Pada kenyataannya sampai sekarang aku masih ingat wajahmu saat itu.

Bukan cuma foto, Prambanan dan bulan juga menjadi saksi bahwa kita pernah sedekat itu, dibalik cerita sendratari Ramayana yang buat mukamu merah cemburu karena pacarmu berperan sebagai Sri Rama yang mempesona setiap wanita. Sebenarnya aku juga mau ikut ambil peran, tapi tinggi badanku tidak cukup untuk memerankan Rahwana. 

Beberapa menit setelah adegan pertemuan Rama dan Sinta aku lihat kamu senyum-senyum. Aku jadi menerka-nerka apa yang lagi kamu pikirkan. Mungkin kamu merindukanku? Ah, tidak mungkin. Mungkin kamu bayangkan kamu jadi Sinta? Hm, mungkin juga. Tapi pradugaku yang paling kuat, kamu cemburu karena posisimu diambil orang lain.

Ini sendratari paling berkesan dibanding dua tahun lalu. Iya, karena kini kamu berada di sampingku. Setiap gerakan yang dipentaskan jadi lebih bermakna dari biasanya. 

Adegan itu benar-benar berhasil menghipnotisku, aku jadi tidak bisa membedakan yang mana imajinasi dan yang mana realita. Mereka begitu membaur, seperti sudah tidak ada lagi narasi, tidak pula adegan yang disutradarai. 

Mungkin jika kita bisa mendengar bahasa mereka, bintang dan malam. Barangkali kita bisa tersenyum bersama. Menyaksikan kegembiraan mereka berjumpa. Mereka sepertinya juga bahagia akan kebagianku walaupun tidak tahu kamu juga bahagia atau tidak.

“Kamu belum ngantuk?” aku menawarimu kopi.

Kamu cuma diam dan melotot melihat Rama bersama pasukan keranya datang menjemput sang permaisuri. Sepertinya kamu juga pengen dijemput seperti itu.

“Ehh, mereka romantis ya?”

“Iya, sepertinya semua wanita juga pengen,”

“aku tidak akan terlalu peduli dengan wanita yang pengen dijemput Rama” jawabmu sambil mengerutkan dahi.

               

***

Tiba-tiba saat Rahwana akan berangkat perang melawan Rama, Sinta memegang pundak Rahwana.

Rahwana bertanya, “Apakah kau sudah mencintaiku?” Sinta hanya diam tertunduk, kemudian dia bernyanyi:

“Engkaulah terindah, dari segala yang indah, engkaulah penanti, penanti yang tabah.. maafkan aku tak mencintaimu, bukan aku tak mau, aku hanya wanita yang dipeluk lelaki sebelum kau menjemputku”

Nahh..loh, Sinta jatuh cinta kepada Rahwana Apa ini kebetulan?

Ah, kurasa tidak juga. Sepertinya Tuhan merancang penulis hingga menuliskan naskah seperti ini untuk kita nikmati bersama. Kamu sepertinya juga setuju kalau ceritanya jadi begini.

Jadi ingat waktu pertamakali kenal kamu. Aku hanya butuh dua hari saja untuk jatuh cinta. Waktu itu kamu sudah berkekasih, kalau tidak salah kekasihmu itu seorang pemain rebana yang pernah tampil sampai ke London, sayang dia tidak terlalu bernyali untuk mencintaimu, sampai akhirnya dia kena tikung pacarmu yang sekarang. Lelaki pemain drama.

Ngomong-ngomong saat ini usia cintaku padamu sudah masuk sembilan bulan, tapi entah mengapa  cinta tidak lahir-lahir juga. Semoga saja dengan lamanya cinta dikandung dia akan lahir tanpa melalui fase kekanak-kanakan karena sudah belajar dalam kandungan ibunya.

“Za, menurutmu kenapa Sinta bisa jatuh cinta sama Raksasa jelek?” kamu bertanya polos.

“Jelas, sudah tiga kali Sinta reinkarnasi dan Rahwana selalu mendambanya.”

“Ohh, jadi umur Rahwana itu panjang?”

“Iya, sangat panjang. Tapi bagi Rahwana hidup panjang tanpa Sinta adalah kutukan.”

“Mmm, gitu ya. Rahwana memang menawan dengan penantiannya.” Entah apa yang ada di pikiranmu saat itu.

“Kukira banyak juga surat Rahwana yang belum terbalas selama ini.”

“Ehh, kamu ndak lagi ngomongin chatmu yang nggak 'tak balas toh?”

“Engg.. enggak kok.”

     ***

Jam sudah menunjukkan pukul 00.00, kekasih. Waktu berjalan begitu cepat, sedikit yang bisa kita bicarakan dan lebih banyak lamunan yang penuh pertanyaan. Sebagai wanita yang lempeng-lempeng sudah saatnya kamu pulang, tidak perlu kamu menunggu Rahwana mati di tangan pacarmu, biar aku saja yang menjadi saksinya.

Langkahmu pulang memperlihatkan kalau kamu wanita yang susah menaruh cinta. Apalagi pergimu yang tanpa sapa, hanya meninggalkan bekas senyuman dan cap bokong di kursi ini. Jalan pulangmu diiringi nyanyian kera-kera yang sedang gladi bersih melepas gugurnya Rahwana, sambil bersyair: 

“gugur bunga, gugur ke samudera, gugur cinta di lautan rindu.” Ahhh hampir saja aku menangis dibuatnya.

Terima kasih sudah menemaniku malam ini, kekasih. Semoga di lain waktu kita akan duduk bersama kembali, dengan lakon dan naskah semesta yang telah direvisi pula.