1893-square-earth-map-525.jpg
Sumber gambar: National Geographic
Pendidikan · 8 menit baca

Mereka yang Cerdas tapi Ekstrem

Saya sudah beberapa kali mengungkapkan keheranan saya pada banyak teman saya yang berpendidikan tinggi –termasuk gelar pasca sarjana dari luar negeri – dan mempunyai profesi bergengsi yang menuntut logika yang matang; tetapi berpandangan ekstrem, rasis, diskriminatif, dan bahkan percaya teori konspirasi: dari Cinaisasi sampai Illuminati, dari bahaya vaksinasi sampai bumi datar.

Ya, memang miris melihat kenyataan bahwa orang seperti Prof. Dr. Marwah Daud Ibrahim atau Buni Yani (keduanya lulusan AS) hanyalah puncak gunung es. Sesungguhnya banyak sekali dokter, doktor, profesor, insinyur, direktur, enterpreneur dan kelompok “rasional kelas menengah atas” lainnya yang seolah menyerah pada keterbelakangan logika, atau menurut istilah gaul sekarang: kaum 2D.

Mereka terang-terangan mendukung kelompok preman religius seperti FPI, mentah-mentah mengikuti apa kata MUI dan ulama selebritis, sambil mengkafirkan ulama moderat yang jauh lebih terpercaya rekam jejaknya. Anehnya mereka masih juga percaya hal-hal yang sebetulnya musyrik, dari ketik “amin” untuk jaminan surga sampai tiga angka keramat untuk hari rusuh berjamaah.

Mereka juga sangat sensitif terhadap kritik: teguran halus dianggap penistaan, teguran keras dicap Islamofobia. Tetapi sebaliknya ketika mereka terang-terangan menyerang secara verbal dan frontal tanpa ada sebab awal, mereka menuduh orang mengkriminalisasi mereka. Orang lain selalu salah dan mereka selalu benar. Persis seperti tokoh-tokoh panutan mereka.

Saya selalu terusik untuk mencari tahu mengapa orang-orang yang seharusnya cerdas ini jatuh dalam kedangkalan pola pikir yang menyedihkan. Saya pikir ada beberapa hal yang bisa menjelaskan fenomena ini. Mohon bagi yang mempunyai latar belakang psikologi, sosiologi atau antropologi dapat meluruskan.

Sang guru

Saya sebelumnya sudah pernah menulis tentang peran hierarki sosial dan tokoh panutan dalam budaya kita. Betapapun canggihnya kehidupan bangsa kita pada era postmodern ini, pola pikir kita (dan juga berbagai bangsa di dunia) tidak banyak berubah: hanya menyesuaikan diri.

Jika kita dulu manggut-manggut mendengar ajaran guru mengaji di kampung atau menuruti petuah leluhur dari harum dupa di tengah bulan purnama, sekarang kita dengan cepat membagikan meme kata mutiara ustadz dadakan dan menerima sertifikat kesuksesan dari motivator kondang. Caranya saja yang berubah, tetapi polanya tidak: ada seorang tokoh panutan yang ditinggikan dan diikuti.

Layaknya ABG yang marah kalau boyband favoritnya ditertawakan, mereka pun marah kalau tokoh-tokoh panutannya dikritik. Anehnya, semakin logis kritikan tersebut, semakin marahlah mereka. Apalagi jika tokoh-tokoh ini terlibat skandal atau kejahatan yang konyol dan memalukan. Bagi mereka, tokoh panutan ini infallible, tidak dapat salah.

Bahkan teks-teks religius sudah memperingatkan bahaya agamawan palsu dan oportunis, tetapi mereka keburu terbuai dengan status ketokohan sang ulama. Herannya, mereka justru lebih cepat menghina tokoh agama yang – walaupun seagama dan lebih kompeten – berseberangan dengan pandangan panutan mereka, apalagi jika sang ulama ‘musuh’ itu mengritik pandangan mereka.

Jadi ternyata tokoh panutan pun bisa dipilih-pilih sesuka hati. Tetapi pertanyaannya, mengapa mereka memilih ulama, dan bahkan pengkotbah dadakan, yang ekstrem? Mengapa yang bijak dan kenyang ilmu malah dilecehkan dan dianggap musuh? Penyebabnya mungkin ada di dalam tempurung kepala mereka.

Insting bertahan

Psikolog Daniel Goleman menggagas istilah “pembajakan amygdala”: Ketika organ thalamus di otak anda menerima rangsang yang begitu hebat, informasi akan langsung ditembak ke amygdala tanpa melewati pengolahan informasi di otak besar (neocortex). Anda nyaris tidak berpikir sama sekali dan langsung bertindak.

Dalam keadaan darurat seperti kebakaran atau bencana alam, hal ini bisa sangat bermanfaat. Anda dapat menyelamatkan diri dari ancaman yang membahayakan diri anda. Tetapi celakanya seringkali pembajakan amygdala ini terjadi pada hal-hal yang justru sangat membutuhkan rasio; seperti kehidupan sosial, ekonomi, politik dan spiritual.

Seringkali kita menganggap agama itu seperti makanan. Kalau tidak makan, anda mati. Kalau diambil, anda terancam kelaparan (lalu mati). Walaupun anda mengerti teori lubang hitam atau nanoteknologi, kalau anda tidak makan ya mati. Demikianlah yang dilakukan para tokoh itu. Mereka membajak amygdala pengikutnya sehingga selalu merasa terancam akan kehilangan kebutuhan pokoknya: uang, cinta, karir, agama, atau gabungan seluruhnya.

Sekali lagi, hal ini bertentangan dengan banyak teks religius yang menganjurkan – bahkan memerintahkan – umat beragama untuk berpikir baik-baik saat menerima informasi. Tetapi mereka tidak peduli. Kalau ulama sudah bilang A ya harus A: itu jaminan hidup saya. Kalau kamu bilang mungkin masih bisa B, berarti kamu mengancam keberlangsungan hidup saya.

Hubungan antara penokohan ulama dengan pembajakan amygdala ini seperti lingkaran setan. Orang mencari tokoh panutan yang mengenyangkan kelaparan spiritual mereka. Sang tokoh pun datang membawa makanan spiritual itu, sambil menakut-nakuti mereka dengan ancaman dari orang-orang di luar sana yang akan merebutnya. Jadi mereka akan senantiasa bergantung pada makanan yang dicekoki sang ulama.

Inilah yang menyebabkan kecerdasan mereka yang sudah diasah bertahun-tahun seolah mendadak tumpul. Kecerdasan mereka tak ubahnya simpanse yang pandai bersosialisasi dan menciptakan alat sendiri; tetapi ketika lapar atau birahi, mereka tak ubahnya reptil atau bahkan invertebrata. Bukankah aksi mereka di jalanan atau di dunia maya tak ubahnya praktek mengumbar nafsu?

Tetapi sebagai “hewan cerdas”, mereka juga punya kemampuan sosial. Mereka butuh bersosialisasi. Dengan siapa? Tentu dengan yang sepaham-sealiran dengan mereka. Hal ini menjelaskan mengapa begitu sulit mereka keluar dari lingkaran setan yang diciptakan mereka dan guru mereka.

Mentalitas kawanan

Orang-orang di dunia Barat heran mengapa rakyat AS yang sangat maju bisa (banyak yang) memilih Donald Trump sebagai presiden, atau tidak percaya pada perubahan iklim dan pemanasan global, bahkan menolak vaksinasi. Mereka ini bukan hanya orang-orang udik di selatan atau midwest yang mendapat stereotip rasis dan kolot (redneck), tetapi banyak juga kelas menengah atas di kota-kota besar tempat kampus Ivy League bercokol.

National Geographic mencoba mengulas fenomena aneh ini (yang juga terjadi di negara Barat lainnya). Beberapa ilmuwan yang melakukan survei terkejut mendapati bahwa semakin melek sains, semakin besar kemungkinan seseorang menolak atau percaya pada fakta ilmiah atau hoax. Orang yang melek sains cenderung mencari rasionalisasi terhadap hal-hal yang mereka percayai, fakta atau bukan.

Tetapi mengapa mereka tidak mau mendengarkan uraian rasional tentang fakta yang berlawan dengan apa yang mereka percayai? Masalahnya bukan terletak pada fakta atau logika, tetapi keterikatan orang tersebut dengan kepercayaan mereka, yang biasanya diinisiasi oleh kelompok di mana mereka tergabung. Orang seperti saya percaya dengan hal ini, orang seperti mereka percaya dengan yang itu.

Teman saya yang menulis penjelasan logis tentang Sari Roti pun kena getahnya. Ia sebenarnya tidak ambil pusing dengan aksi 212, tetapi ia gemas dengan ‘rasionalisasi’ juniornya di ITB yang memprovokasi boikot merek tersebut. Tebak apa yang ia dapatkan? Beberapa alumni senior berusaha menyelidiki keanggotaannya dan mempertanyakan di mana ia berpihak. Ia juga dituduh bodoh, gagal paham, kalah cerdas dengan juniornya dan... (jrenggg!) Islamofobia.

Mereka menganggap adalah rasional untuk percaya pada angka 7,5 juta manusia yang sholat Jumat di Monas atau 10 juta pekerja China yang masuk ke Indonesia, terlepas dari kemustahilan statistik dan demografi di baliknya. Mengapa? Karena sebagai sesama umat Islam, tindakan yang logis adalah berpihak pada kubu yang mengatasnamakan umat, membela agama dan ulamanya.

Artikel National Geographic tadi juga menerangkan konsekuensi seseorang yang ‘berpindah keyakinan’. Jika seorang pekerja biasa di selatan AS ikut mendukung usaha penyelamatan lingkungan dari perubahan iklim, ia bisa saja kehilangan pekerjaannya. Jika teman-teman kita bersikap rasional terhadap pandangan yang menolak ekstremisme, mereka bisa dituduh kafir. (“Situ waras?”, “Agama ente apa?”, “Semoga kamu dapat hidayah.”)

***

Saya merasa sedih ketika melihat teman-teman yang cerdas itu bukan hanya terperangkap dalam lingkaran setan ignorant extremism, tetapi juga menyulut permusuhan. Teman saya tidak sendiri: beberapa alumni ITB yang mengritik surat terbuka Keluarga Mahasiswa ITB karena kecacatan logikanya juga mendapat bullying serupa.

Lalu bagaimana? Artikel tersebut sedikit banyak memberikan petunjuk: orang-orang itu setidaknya mau mendengar dari orang yang terdekat. Atau dengan kata lain, orang yang mereka percaya. Keluarga, misalnya. Sangat mungkin bahwa dalam satu keluarga ada perbedaan pandangan, tetapi hubungan yang sehat dalam keluarga bisa membangun komunikasi ide-ide yang rasional.

Saya tidak tahu cerita ini benar atau tidak. Ada seorang pemuda yang menyerapahi seorang ulama di media sosial karena terlalu mentoleransi orang Kristen. Beberapa Banser NU dengan hati-hati menasehatinya untuk menghapus statusnya karena berpotensi menimbulkan perpecahan. Tetapi ia berkeras dan bahkan menantang.

Saking pongahnya, ia menantang mereka untuk bertemu. Memang akhirnya Banser NU menemuinya dan berbicara baik-baik, tetapi ia tidak berubah: menurutnya ia sedang membela agama. Ketika akhirnya Banser mengingatkan bahwa kata-katanya bisa dilaporkan ke polisi, ia malah tambah jumawa. Akhirnya dengan sedih para Banser meninggalkannya dan pergi... ke polisi.

Surat panggilan pemeriksaan polisi pun datang ke rumah si pemuda. Istrinya menangis tersedu-sedu karena akan kehilangan suami dan ayah anak mereka. Akhirnya ia membawa istri dan anaknya menemui Banser dan sambil menangis memohon maaf supaya kasusnya dicabut. Banser pun luluh.

Memang sikap ignorant yang demikian umumnya bersifat emosional. Dan seringkali hal tersebut baru dapat diredakan (meskipun tidak hilang sama sekali) oleh orang-orang yang punya kedekatan emosional. Jika mereka merasionalisasi sentimen emosi mereka, maka keluarga dan kerabat mereka yang masih rasional dapat menggiring logika mereka menuju kewajaran.

Saya tidak bilang ini mudah. Saya mengalami sendiri dalam keluarga besar kami. Anak-anak seorang pengusaha di Makasar juga sudah bersusah payah menerangkan kepalsuan Dimas Kanjeng pada ibu mereka, tetapi tanpa hasil. Itu kalau keluarganya waras. Bagaimana jika pengaruh buruk itu justru datang dari istri atau suami mereka? Saya dengan ngeri melihat banyak anak kecil dalam pawai FPI. Mereka mendengarkan – bahkan mengikuti – kata-kata rohani yang dipadu kebun binatang.

Yang paling baik memang adalah kita yang rasional ini harus keluar dari kubu kita sendiri dan menyambangi mereka yang irasional ini. Sekali lagi, ini tidak mudah. Lebih mudah mem-bully kaum 2D dengan meme di media sosial sekaligus menunjukkan bahwa kita berada di kubu yang rasional. Hal itu menunjukkan bahwa kita tidak lebih baik dari mereka, hanya kebetulan berada pada posisi yang benar. Tetapi hal itu bukannya mustahil.

Daryl Davis, seorang musisi R&B Afrika-Amerika, melakukan sesuatu yang kelihatannya sangat mustahil. Ia menyambangi pentolan-pentolan Ku Klux Klan (KKK), dan berbicara baik-baik dengan mereka. Perlu diketahui, KKK adalah ormas supremasi kulit putih berhaluan Kristen. Davis mendengarkan pandangan Kristen mereka dan dengan logis dan rasional mengutarakan pemahaman Kristen yang benar. Tidak sedikit KKK yang menyadari kekeliruan mereka dan meninggalkan ormas tersebut.

Banyak kelompok Afrika-Amerika yang tidak setuju dengan Davis. Menurut mereka, seharusnya ia bersikap frontal; bukan hanya pada KKK, tetapi juga kepada sistem privilege rasial yang dinikmati kulit putih atas kulit berwarna. Ia tidak bergeming. Ia memilih jalan yang sepi, panjang dan sulit; tetapi hasilnya nyata. Puluhan jubah dan topeng di lemarinya yang diserahkan para mantan KKK adalah buktinya.

Mau tak mau, menjadi tanggung jawab kita yang waras inilah untuk mengembalikan orang-orang ini ke jalan yang logis dan rasional. Belum lagi anak-anak kita. Jadi kita punya dua beban: mendidik anak-anak kita dan mendidik ulang orang-orang yang terlanjur merasionalisasi kebodohan mereka. Ini tidak mudah, tidak sebentar dan tidak nyaman.

Masalahnya, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat konstitusi, yang dalam negara demokrasi berarti tanggung jawab rakyat. Anda mau berleha-leha sambil menghina mereka, sementara kebodohan mereka semakin menyebar; atau mau keluar dari zona nyaman untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini?