48323Setan Lucu.jpg.jpg
Agama · 6 menit baca

Merayu Setan

Aku adalah penawar dahaga. Melumpuhkan haus yang menggelegak di setiap tenggorokan manusia. Aku dipuja. Diletakkan di puncak tertinggi menuju arah langit. Setiap kata yang kulontarkan menjadi senjata kepedihan. Setiap gerak yang kujejak adalah tuntun yang bergelora dalam asa mereka. Ya, aku. Aku adalah kamu.

Cukup lama aku jumawa, dan sekarang aku bosan. Manusia sudah terlalu mudah untuk ditaklukkan. Benteng-benteng yang telah kurekat telah menjadi alur labirin yang menyesatkan mereka. Ada yang menjadikannya tameng, citra diri, tabungan raga hingga tahta yang tak berjendela. Biarlah. Satu hal yang jelas, aku bosan.

Dengan pakaian yang masih rapi dalam gempita iman, aku melangkah menjauhi manusia-manusia yang sedang tertawa terbahak menyusuri benteng. Mereka tak terlalu mempedulikanku. Biarlah, mungkin mereka telah merasa benar.

Aku terus berjalan. Kadang merangkak, terkadang melesat. Tinggi dan tinggi menuju dimensi. Aku menatap ke tanah. Aku saksikan mereka kebingungan dalam balutan rayuan. Biarlah, biar mereka lupa hingga jejaknya terjebak di ujung jalan yang tak berujung.

Aku menembus kulit bumi. Langkah mulai pelan menjejak. Aku sendirian. Hanya ada hawa dingin yang berteman deru angin berpacu bergema. Apa nama tempat ini? Aku mulai mencari tahu dan mencari siapa saja yang bisa kurayu menuju semu.

Akhirnya, ada.

“Hai, kenapa murung?” sapaku pada sosok besar, hitam nan sendu.

Ia menoleh, tapi tiada jawaban.

“Perkenalkan, namaku Elga.” Aku mengulurkan tangan ke arahnya, tapi tiada dijawat.

Tatapannya bagai menembus mataku. Sepertinya ia mencari jalan pikiranku untuk diputar berbelok membentuk sesuatu.

“Bicaralah..” kataku.

Dia tak juga membuka suara. Aku membalas tatapannya yang tajam. Sepertinya ada kesedihan yang teramat dalam yang sedang ia rasakan. Sungguh, aku ingin tahu. Sekiranya bisa mencipta rayu.

Aku duduk di sampingnya. Aku memberanikan diri merengkuh pundaknya, dan kemudian menggenggamnya erat. Sebuah tanda keprihatinanku atas kondisi pilu yang sedang bergelayut di dadanya.

Ternyata berhasil. Ia tersenyum dan berkata, “Aku lelah dengan tugas yang diperintahkan-Nya. Entah sampai kapan hal ini akan terus kulakukan.”

“Hah? Tugas dari-Nya?” aku mengernyitkan dahi, “memangnya tugasmu apa?”

Dia tertawa. "Aku setan, kawan. Jadi tak perlulah aku jelaskan secara rinci.”

Aku mengangguk. Sangat paham. Ya, tugasnya adalah menggoda manusia. “Tapi kenapa lelah?”

“Aku lelah bukan karena terlalu banyak manusia di peradaban ini yang mesti aku sesatkan. Aku lelah karena sebagian manusia telah ikut serta menjalankan tugasku. Aku lelah!”

“Bukannya itu bagus karena pekerjaanmu telah banyak berkurang?”

“Mungkin dengan jalan pikiran kaum-mu memang demikian adanya. Tapi tidak dengan kami yang konsisten dan taat dengan segala tugas yang diperintahkan-Nya. Kami menjalankan tugas bukan untuk hasil. Kami bergerak sesuai dengan hakikat. Kami lelah saat hakikat berkurang apalagi ditiadakan.”

Begitukah? Lama aku terdiam. Aku menatap matanya, dalam dan teramat dalam. Aku ingin mencari setitik celah menuju niatnya, tapi tak berjumpa. Tanya sepertinya bisa membawaku ke dalam arah yang lebih cerah tentang ceritanya.

“Lalu sekarang apa rencanamu?”

“Tidak ada kata menyerah. Aku dan teman-teman lain akan mencari cara untuk tetap bertahan. Kalau bisa kami akan rumuskan cara terbaru yang lebih hebat untuk menjerumuskan manusia.”

“Berarti cara-cara yang kamu lakukan selama ini kurang berhasil?”

Dia tertawa terbahak. "Gagal total! Kamu tahu karena apa? Sejumlah manusia sudah semakin hebat. Ada yang menciptakan ini, membuat itu, menjalankan ini dan segala hal lainnya untuk membuat manusia lupa akan hakikatnya.”

“Lalu?” aku mulai penasaran.

“Ya. Pastinya keadaan ini telah menurunkan eksistensi kami sebagai mahkluk yang bertugas menyesatkan kalian. Kami malu, kami lelah, kami marah!”

Mataku sepertinya bingung memaparkan ekspresi jiwa. Entah harus tertawa atau ikut menyampaikan bela sungkawa atas kegagalannya.

Ia kembali melanjutkan keluh kesah, “Kamu tahu. Sejak dulu, kami senang menjalankan tugas dari-Nya. Tinggal berbisik saja, manusia bakal berzina, manusia korupsi dan manusia menurut saja untuk melakukan perbuatan tercela. Tapi sekarang? Kami nyaris tak bertaji! Lihat sekarang, ada manusia yang membuat film-film biru, penampilan yang kian seronok dan bermacam hal lainnya yang memancing birahi lalu kemudian terjadilah zina. Ini jelas membuat kami terlihat lemah sebagai setan.”

Setan juga berkata, surga buatan di dunia juga melaju kian pesat. Surga yang membuat manusia lupa dan kemudian terpicu bin terpacu untuk meraih satu per satu hiasan semu. Ada beribu teknologi yang menawarkan kecanggihan dan pesona juara. Bisikan mereka pun nyaris tak terdengar lagi akibat raungan peradaban yang tersekat dalam pertarungan citra.

“Aku lelah melawan peradaban ini,” setan tertunduk lesu bagai penderita kurang darah.

“Lalu apa rencanamu?” tanyaku.

Lagi-lagi dia tertawa. "Kamu gila! Kamu kira aku bodoh? Kamu itu manusia. Mahkluk yang menjadi target penyesatan. Jika aku memberi bocoran tentang rencana terbaru ini, kamu akan berkoar-koar di bumi itu. No! No! No!” setan menggerak-gerakkan telunjuknya ke arahku.

“Percayalah padaku. Katakan saja,” aku mencoba merayu.

“Percaya?! Sujud dan percayaku hanya untuk Sang Pencipta.” Setan berdiri dan kembali bicara, “aku rasa, rencana-rencana kami sebelumnya juga telah bocor kepada manusia. Makanya segala hal yang nyatanya adalah tugas kami, malah kaum kamu yang menggerakkannya.”

“Tak usah takut. Sekarang anggaplah aku sahabatmu. Aku tak akan membicarakan hal ini ketika nanti sampai di bumi.” Aku berdiri dan kembali merangkul pundaknya.

Lama si Setan terdiam. Ia mengolah-olah pikiran, meramu-ramu kata dan menimbang-nimbang segala kemungkinan. Sesekali ia menekur, kemudian menengadah, menekur lagi dan sesekali menggeleng-gelengkan kepala.

“Aku akan membuat sebuah ramuan panjang umur untuk manusia,” kata Setan.

“Oh, begitu. Mempan?” Aku tertawa sinis.

“Pasti. Manusia yang telah punya segala surga dunia pasti butuh umur yang panjang, bukan?”

“Umur telah ditentukan Tuhan. Kamu tak akan bisa mengacak-acaknya sekehendak hati.”

Setan meletakkan jari telunjuknya di bibir. Ia tersenyum menyeringai. “Tuhan pasti bisa memaklumi. Hal ini akan kusampaikan pada-Nya. Jadi, walau umur mereka panjang, tapi percuma jika langkahnya telah masuk ke dalam lingkaranku,”

“Aku rasa kamu terlambat.”

Setan terkejut mendengar kata-kataku. “Maksudmu??!”

“Telah banyak cara agar manusia panjang umur. Sudah banyak ramuan dan segala macam teknologi untuk itu.”

“Benarkah?” Setan bertanya dengan tampang bodoh.

“Ckckck… Kasihan melihatmu, Setan.”

Setan menunduk. Matanya mendadak pilu.

“Apa yang harus kulakukan agar tugas ini kutamatkan?”

“Tamat?”

“Ya, menjalankan perintah-Nya itu hingga waktu yang telah ditentukan.”

“Hebat sekali kamu. Manusia saja sering mangkir.”

“Dulu manusia sering lupa pada Penciptanya karena aku. Sekarang, aku nyaris tak berdaya.”

“Atau apakah segala bisikan yang kamu berikan telah menciptakan kekuatan bagi manusia untuk mampu melawan-Nya?”

Setan mengangguk-angguk pelan, “Ya, bisa jadi…”

“Makanya. Manusia adalah mahkluk mulia. Hati-hati. Baik dan buruk begitu mudah diserap oleh mereka. Ajaran kaum terdahulu lebih mampu berpeluang menjadi pakem hidup daripada hasil penggalian diri mereka. Makanya, sedikit demi sedikit, bisikanmu telah menjadi bukit. Bukit yang menindihmu, Setan!”

Setan termenung. Aku memukulnya telak.

“Sekarang aku pasrah. Jika memang kau peduli padaku, apakah rencana selanjutnya yang harus aku lakukan?”

Aku tak bisa menahan tawa. Ada ya setan minta saran pada manusia? Lucu! "Tapi tenang, aku akan memberikanmu cara yang tepat.”

“Apa?” Setan tak sabar menunggu kata.

“Pensiunlah.”

“Apa? Pensiun? Aku mengajukan pensiun pada Tuhan? Pensiun dini?” Setan ternganga.

“Yap!” Aku mengacungkan dua jempol ke arah mukanya yang buruk rupa.

“Aku takut. Tuhan pasti marah besar.”

“Tuhan pasti bisa memaklumi. Setidaknya jika kamu tidak lagi menyesatkan manusia, maka tak akan ada lagi alasan untuk sebuah perbuatan yang tercela.”

“Lalu jika tugasku untuk menyesatkan telah usai, lalu apa lagi rutinitasku?”

“Jangan biarkan bodoh itu bersarang di otakmu, Setan! Jangan seperti manusia, disuruh berpikir, tapi malah sibuk berlalu kikir. Disuruh mencipta, malah sibuk menikmati. Sekarang begini saja, kamu tinggalkan tugas sesat menyesatkan ini, ajukan surat pensiun pada Tuhan.”

“Jika Tuhan menolak surat itu?” Setan bertanya dengan ekspresi yang begitu percaya dengan kata-kataku.

"Gampang! Berontaklah! Tinggalkan tugas dari-Nya, dan jalani hari-hari di bumi untuk membisikkan kata-kata suci pada manusia. Bawa para manusia untuk dapat kembali ke hakikatnya. Bagaimana?” aku melempar tanya dan senyum pada Setan yang mengangguk-angguk pelan.