stop-95477_960_720.jpg
Foto: https://cdn.pixabay.com/
Media · 2 menit baca

Menyoal Opini Publik yang Itu-Itu Saja
Surat Terbuka untuk Para Komentator dan Pembuat Opini


Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banyak juga yang pura-pura setuju dengan aksi bela Islam itu. Parahnya lagi banyak opini yang dibuat berbeda dan terkesan vulgar hanya untuk mendapatkan perhatian yang berlebih.

Awalnya memang menggairahkan dan menggugah hati untuk memberikan komentar, tapi lama-lama bosan juga. Kita seolah melupakan ratusan masalah lain yang medera negara kita ini, coba lihat kembali koran atau portal berita yang berkualitas, di dalamnya masih banyak berita peristiwa lain yang perlu juga mendapatkan perhatian.

Baru kemarin Rabu Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh terkena musibah gempa bumi banyak korban berjatuhan, alangkah baiknya jika opini dan berita publik lebih mengalihkan dahulu perhatiannya ke sana.

Perhatian pemberitaan dan opini dialihkan separuhnya ke sana. Biarkan saja kasus “Ahok” terlebih dahulu, karena kita harus sama-sama percaya kalau dia memang sedang diproses oleh pihak yang berwenang.

Selain itu peristiwa-peristiwa lain juga kerap memenuhi kolom berita, kasus korupsi masih setia setiap hari menempati salah satu kolom berita, upaya peningkatan kedaulatan pangan juga hampir setiap hari bercokol teguh di surat kabar dan hubungan internasional antara Indonesia dengan negara lain pasti diberitakan setiap hari.

Wahai para komentator dan para penulis opini, perbaruilah tema-tema komentar dan tulisannya masih banyak hal yang perlu kita amati, perlu kita kritisi. Opinion war atau dialektika opini yang kita bangun bersama akan mengkonstruksi sebuah bangunan yang tinggi, dan wujud dari bangunan itu tergantung dengan opini yang kita buat, buatlah bangunan yang bermanfaat dan tidak mendatangkan mudarat.

Tema “Aksi Bela Islam” bersama para aktornya bukan sebuah agenda wajib yang mengharuskan semuanya untuk terlibat meluncurkan komentar, karena semakin banyak komentar dan atau komunikasi yang terbangun tidak akan menjadi “situasi perbincangan ideal” jika komunikasi dan komentar yang kita bangun salah dalam menggarapnya, begitu yang dikatakan oleh Jurgen Habermas.

Dengan adanya tema “Aksi Bela Islam” dan hal-hal lain yang mengikutinya seolah telah berhasil membatasi kreativitas kita sebagai manusia yang mempunyai potensi kreatifitas yang tinggi. Komentar kita dengan tema yang sama maka menyamakan kita dengan manusia berkacamata kuda, hal-hal lain yang juga penting tidak dilihat sebagai hal yang penting.

Jika memang kita mengakui bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling kreatif, maka kita harus keluar dari zona kaku yang sepertinya akan segera kadaluarsa ini. Angkatlah tema-tema lain yang lebih segar, lebih seksi dan masih perawan.

Luasnya negara Indonesia dan beragamnya manusia Indonesia menjadi sumber inspirasi untuk kita berkomentar atau sekedar memberikan opini kecil dan jauhilah kepura-puraan dalam berkomentar dan beropini karena kepura-puraan hanya membawa kita kepada kesadaran palsu!