ferrata_2.jpg
Mendaki di Ketinggian 200 Meter
Wisata · 2 menit baca

Menikmati Keindahan Gunung Parang


Sebelum libur panjang di weekend kemarin, seorang kawan ingin mendaki Gunung Parang via Ferrata. Gunung Parang terletak di Kecamatan Tegalwaru, Desa Pesanggrahan, Purwakarta. Apabila berangkat dari Bandung atau Jakarta, cukup keluar di pintu tol Jatiluhur. Akses ke sana bisa dilalui oleh mobil hinga ke camp pendakian, tidak sulit.

Awalnya saya belum tahu gunung parang sudah memiliki penyangga besi untuk para pendaki. Bahasa kerennya, mendaki via ferrata. Ferrata sendiri berasal dari bahasa Italia yakni pendakian melalui jalur penyangga besi yang ditancapkan pada batu. Asal-usul via ferrata diperkirakan tercipta pada abad ke 19, sangat berkaitan dengan Perang Dunia Pertama. Awalnya via ferrata digunakan di wilayah Pegunungan Dolomite, Italia, untuk membantu pergerakan pasukan. 

Mendaki via ferrata merupakan hal baru bagi saya dan teman-teman. Mendaki gunung parang via Ferrata sangat unik. Sebelum kami mendaki, rasanya seperti mudah melakukannya.

Dalam wisata kali ini, setiap rombongan yang akan mendaki diberikan alat pengaman yang biasa dipakai untuk climbing dan akan ditemani seorang guide. Setiap rombongan yang ingin mendaki dikenakan biaya antara 225 ribu hingga 600 ribu per orang, tergantung tujuan rombongan, apakah ingin mendaki sampai ke ketinggian minimal, yakni  250 meter, atau  hingga ke puncak ketinggian, yakni 900 meter.

Menurut pengalaman kami, untuk perbekala mendaki, setiap orang cukup membawa minuman dan cemilan saja. Sebab, selain pendakian ini tidak memakan waktu lama, juga untuk mempermudah proses pendakian rombongan. Jangan lupa memakai sarung tangan, dan cukup gunakan sendal gunung saja.

Kondisi pada siang itu cuaca sudah agak mendung, tapi kami berlima sudah sepakat tetap akan mendaki meskipun kemungkinan akan terjadi hujan.

Pukul 14.00 WIB, kami berlima mulai mendaki dengan ditemani seorang guide. Baru 50 meter mendaki, hujan deras pun turun. Dan benar saja, berhubung jalur via ferrata ini menggunakan penyangga besi, kami terkena petir. Kamishock, rasanya seperti tersetrum listrik. Kami memutuskan untuk turun dan kembali mendaki ketika hujan reda. Setelah memutuskan turun beberapa meter, hujan deras pun reda.

Melihat waktu yang semakin sore, kami bersama guide sepakat untuk langsung melanjutkan pendakian. Kami tidak ingin masih di atas ketika hari sudah malam. Setelah pendakian mencapai ketinggian 100 meter, mulai terlihat pemandangan eksotis Purwakarta di Kecamatan Tegal Waru. Pemandangan persawahan, bukit-bukit dan waduk Jatiluhur yang disertai kabut menjadi penyegar kelelahan kami.

Mendaki gunung batu via Ferrata memang menyenangkan sekaligus sangat memacu adrenalin, tebing curam benar-benar berada di bawah kaki kita. Konsentrasi harus terus terjaga, terpeleset sedikit nyawa kita taruhannya. Memang benar yang teman saya bilang, bahwa mendaki via ferrata seperti kita telah menyerahkan nyawa kita sepenuhnya pada penyangga besi. Berlebihan memang, tapi benar adanya!

Ketika kami mencapai di ketinggian 300 meter, pemandangan indah nan eksotis telah menghilangkan rasa lelah kam. Kami banyak mendapatkan spot foto bagus di sana. Dengan ditemani cemilan dan sebungkus rokok, banyak foto terbaik yang bisa kami dapatkan.

Tidak terasa hari semakin petang, saya dan teman-teman pun sudah mulai kelelahan, akhirnya kami memutuskan untuk langsung turun. Kesempatan untuk sampai puncak di ketinggian 900 meter pun gagal terwujud.

Sebagai informasi, di ketinggian 900 meter tersedia wahana penyebrangan yang memacu adrenalin. Dengan menyebrang menggunakan tali antara tower 1 2 dan 3. Bagi yang bernyali, bisa mendapatkan foto terbaik di ketinggian 900 meter tanpa pijakan, kita hanya diikat oleh sebuah tali. Sepertinya mengasyikan, tapi kami belum beruntung untuk bisa mencobanya. Bagi kalian yang penasaran, selamat mencoba dan rasakan sensasinya.