Ketik untuk memulai pencarian

Menghukum Media-Media Penyebar Fitnah dan Hoax

Menghukum Media-Media Penyebar Fitnah dan Hoax

Foto: memeburn.com

Sungguh, membuat media online itu gampang. Dan satu lagi, murah. Siapkan uang sebesar Rp 2 Juta untuk membeli domain, hosting, dan template wordpress. Pilih nama yang meyakinkan, misalnya CBS Indonesia dan abrakadabra, anda sudah menjadi pemilik sebuah media online.

Anda tak perlu merekrut banyak tenaga. Sediakan 1-2 orang admin untuk mencari berita. Tak perlu turun ke lapangan, tapi cukup memakai Google untuk mencari berita apa yang paling populer. Kemudian kopas dan modifikasi dengan memberi judul-judul bombastis. Jangan lupa membuat Fan Page (FP) dan akun Twitter untuk menyebar berita.

Sebenarnya, menurut aturan perundang-undangan, setiap media online wajib mempunyai badan hukum. Bisa PT, CV, maupun koperasi. Tujuannya agar jika ada tuntutan dari masyarakat yang dirugikan akibat pemberitaan, media tersebut bisa memberikan hak jawab sesuai UU Pers. Jika tak punya, masyarakat bisa melaporkannya menggunakan UU ITE.

Namun, anda bisa mengabaikannya. Karena toh banyak media online muncul tapi tidak punya badan hukum. Dan selama ini masih aman-aman saja. Kesadaran hukum masyarakat masih rendah. Jika dirugikan, masyarakat memilih tidak menempuh jalur hukum dan cenderung membiarkan. Akibatnya, banyak pemberitaan media yang dianggap merugikan namun tetap aman. Penegak hukum sepertinya tak peduli dengan kondisi ini. Jadinya klop.

Sejak kran kebebasan pers di Indonesia dibuka, ditambah dengan semakin mudahnya akses internet, media online banyak bermunculan. Heru Catur, aktivis Internet Sehat, pernah menyatakan jika media online di Indonesia jumlahnya mencapai 300-an.

Namun hanya 20 yang kredibel. Hal ini tentu mengkhawatirkan. Media diharapkan mencerdaskan bangsa karena termasuk dalam pilar demokrasi. Jika pilarnya saja mayoritas tidak kredibel, kapan media bisa mencerdaskan?

Dan ini yang ironis. Saat ini, makin banyak media yang membuat berita-berita fitnah dan hoax. Dan anehnya masyarakat kita banyak yang suka. Apa buktinya? Berita-berita seperti itu sering dibagikan lewat media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Cara orang mengonsumsi berita sudah banyak berubah. Media sosial menjadi jembatan bagi para netizen untuk menikmati pemberitaan. Menurut Reuters Institute Digital News Report 2016, mayoritas orang menggunakan media sosial untuk mendapatkan berita. Di AS, angkanya mencapai 46 persen.

Namun, penelitian yang diadakan ilmuwan komputer di Universitas Colombia dan French National Institute menunjukkan fakta jika 59 persen link berita yang ada di media sosial tidak diklik. Dengan kata lain, kebanyakan orang hanya membagikan berita tanpa pernah membacanya.

Kebiasaan ini rupanya ditangkap para pemilik media online. Mereka ramai-ramai membuat berita dengan judul-judul yang memancing klik. Judul yang menarik perhatian akan dibagikan dengan sukarela. Sehingga penyebaran berita itu akan semakin luas. Luasnya jangkauan akan membuat peluang sebuah berita dibaca semakin besar.

Di sinilah, monetize sebuah media terjadi. Saya pernah menulis bagaimana cara media mendulang uang. (Baca: Ketika Traffic Menjadi Tuhan Bagi Media Online). Google AdSense menjadi alat bagi media online mendapatkan pundi-pundi uang.

Sebagai pemilik media, anda cukup mendaftar sebagai publisher Google AdSense. Setelah disetujui, pasang kode dari Google di setiap halaman di media anda. Untuk mendapatkan pageview yang banyak, anda bisa memecah satu berita menjadi banyak halaman.

Follow Qureta Now!

Apa tujuannya? Semakin banyak pageview, semakin tinggi peluang iklan yang anda pasang diklik. Semakin banyak klik, semakin tinggi pendapatan. Tentu uang akan mengalir ke rekening anda setiap bulannya jika memenuhi batas yang ditetapkan Google.

Tak bisa dipungkiri, uang masih menjadi tujuan utama para pemilik media online. Mereka tak merasa harus mencerdaskan bangsa atau wajib menggunakan kode etik jurnalistik. Comot sana, comot sini, buat judul bombastis, yang penting jadi uang.

Cukup banyak media yang membuat berita fitnah dan hoax. Mereka bahkan memasang iklan di Facebook agar jangkauan beritanya semakin luas. Beriklan di Facebook memang murah dan efektif. Target audience seperti jenis kelamin, maupun tempat tinggalnya bisa diatur. Tak usah khawatir Facebook menolak iklan yang berisi berita hoax. Asal ada duit, iklan berita anda akan cepat beredar.

Fatin Shidqia Lubis, pemenang X-Factor, pernah dikabarkan meninggal oleh beberapa media. Kabar itu cepat menyebar melalui media sosial. Namun, kabar itu ternyata bohong. Meski begitu, kabar bohong itu masih memberi manfaat bagi media online. Berita bantahannya laris karena banyak orang kemudian mencari kebenaran berita itu. Sampai saat ini, berita bohong artis meninggal masih sering dijumpai.

Sementara, berita-berita fitnah yang menyerang pejabat dan tokoh masyarakat juga makin digemari. Jokowi dan Ahok adalah pejabat yang sering menjadi korban fitnah media. Berita-berita fitnah biasanya dibagikan oleh orang-orang yang benci mereka. Namun, sejauh ini, media-media penyebar fitnah masih aman-aman saja. 

Ada dua alasan mengapa berita fitnah semakin banyak. Pertama, memang ada pemilik yang membuat media untuk melancarkan fitnah kepada seseorang. Kedua, potensi pendapatan yang didapat dari iklan Google AdSense yang berasal dari banyaknya klik.

Kini anda tahu tujuan utama media-media membuat berita fitnah dan hoax. Tentu harus ada tindakan untuk menghentikannya. Kita harus menghukum media-media seperti itu. Apa yang bisa anda lakukan?

1. Kenali pemilik medianya

Untuk mengetahui apakah sebuah media kredibel sebenarnya mudah. Anda cukup melihat apakah media itu mempunyai badan hukum atau tidak. Jika tidak punya, bisa dipastikan media tersebut tidak kredibel. Selain itu, lihat apakah media mencantumkan alamat dan susunan keredaksian. Jika ini juga tidak ada, maka media tersebut adalah media abal-abal.

2. Jangan share berita fitnah dan hoax

Anda harus bisa mendeteksi apakah sebuah berita mengandung fitnah dan hoax. Jangan hanya terkecoh judul yang bombastis dan kemudian buru-buru membagikannya via media sosial. Jika teman anda membagikannya, anda bisa mengingatkan teman anda atau bisa meng-unfollow status-statusnya jika dia tidak bisa diingatkan. Mata rantai penyebaran berita-berita fitnah dan hoax harus diputus.

Selain peran masyarakat, peran pemerintah dibutuhkan untuk menghentikan sepak terjang media-media penyebar fitnah dan hoax. Penegakan hukum harus dijalankan tanpa mengancam kebebasan pers. Pemerintah bisa bekerjasama dengan Google sebagai pihak yang sering bekerjasama dengan media-media di Indonesia. Apalagi, ada perwakilan Google di Indonesia.

Financial Times pernah membuat pemberitaan sebuah media online di Indonesia yang mendapatkan ratusan juta per bulannya dari Google AdSense. Padahal media tersebut masuk dalam daftar media-media yang pro terorisme. Akibat pemberitaan itu, Google kemudian mencabut akun Google AdSense media tersebut.

Pemerintah bisa membuat daftar media-media penyebar fitnah dan hoax yang memasang iklan Google dan kemudian melaporkannya ke Google untuk ditindak. Tujuannya agar media tersebut tidak mendapat pemasukan dari Google AdSense karena akunnya dicabut. Pemerintah bisa juga memblokir media-media yang tidak mempunyai badan hukum dan tidak mencantumkan alamat dan susunan keredaksian.

Dewan Pers harus juga serius menyikapi hal ini. Mereka harus concern mengatasi permasalahan ini karena berita-berita fitnah dan hoax sudah semakin meresahkan. Untuk memudahkan masyarakat mengenali apakah sebuah media kredibel atau abal-abal, Dewan Pers bisa membuat sertifikasi media.

Sertifikasi ini hanya diberikan kepada media-media kredibel yang memenuhi syarat yang ditetapkan seperti pencantuman badan hukum, alamat dan susunan keredaksian. Media yang lolos sertifikasi dilarang membuat berita finah dan hoax serta mematuhi kode etik jurnalistik.

***

Langkah-langkah di atas memang tak serta merta menghilangkan berita-berita fitnah dan hoax. Tapi setidaknya, ada usaha untuk memberantasnya.

Iwan Iwe

Suka mengamati media dan menginginkan media di Indonesia benar-benar mencerdaskan pembaca. Saat ini menjadi editor di emosijiwaku.com. Bisa di-follow di @iwaniwe.

Comments

Gita Diani Astari's picture
Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016