Ketik untuk memulai pencarian

Menggadaikan Ayat Demi Konstitusi, Benarkah?

Menggadaikan Ayat Demi Konstitusi, Benarkah?

Foto: Flickr

Konstitusi negara kali ini dipertentangkan dengan Al-Quran bahkan mengemuka pada satu pernyataan sentimentil, "Ayat suci lebih tinggi dari pada kostitusi.” Ini memang merupakan akidah yang tak terbantahkan sebagai jargon kebenaran agama, namun apakah kebenaran ini legal syar’i untuk konteks negara Indonesia? Bisa jadi jargon kebenaran ini malah justru tendensius dengan orientasi kebatilan?

Mempertentangkan Al-Quran dengan yang selainnya merupakan kesalahan logika karena keduanya tidak sebanding untuk dipertentangkan. Jelas produk hukum Tuhan tak sebanding dengan produk konstitusi manusia dan kriteria yang sangat eksklusif yang dimiliki oleh hukum ilahi ini adalah “salihun likulli makanin wa zaman” universal dan up to date serta relevan.

Follow Qureta Now!

Dengan demikian, ketika hukum suci ini harus membumi maka tidaklah ia kaku dan kolot dalam mengakomodir dan menjawab kebutuhan-kebutuhan umat manusia demi menjaga kedamaian dan keamanan hidup mereka.

Hukum Islam memiliki ruang lingkup yang cukup luas baik individu, sosial, negara (politik) bahkan lintas negara (peradaban), masing-masing ruang lingkup ini berlaku sesuai pada porsinya dan tidak mungkin saling bertentangan, meskipun ia berada pada keragaman produk ijtihad tafsir manusia.

Sebagai muslim di wilayah individu kalau saya harus berkomitmen dengan hasil ijtihad ahli fikih, taat dengan nilai hukum syariat sesuai dengan mazhab Syafi’i misalkan dan yang lainnya berpegang teguh dengan mazhab lain meski kontradiktif nilai hukumnya, tentunya dipersilahkan mengamalkannya tanpa masing-masing harus mempersoal hak ideologi individual.

Namun bila sudah pada ruang lingkup hukum sosial di mana saya harus bersosialisasi menjaga harmoni hubungan komunal dan demi persatuan dan kesatuan umat, maka fikih individual selayaknya untuk digadaikan terlebih dahulu demi hidup berjamaah yg damai dan aman, tidak membaca basmalah di surat alfatihah oleh imam yang bermazhab Hanafiyah atau Hambali maka bukan soal dalam sah sholat berjamaah bagi saya yang bermazhab Syafi’i.

Bahkan lebih luas ruang lingkup berpolitik dalam sebuah negara yang berbineka yang terdiri dari berbagai komponen suku, agama dan ras yang berkonsesus bersama dalam satu kesatuan negara Indonesia. Maka, demi keutuhan dan kedaulatannya semuanya tidak lagi dibenarkan fanatik berbicara di wilayah eksklusif hak ideologis individu maupun sosial kelompoknya tapi wajib atas nama kepentingan NKRI (negara kesatuan republik Indonesia).

Islam tidak boleh dominan, atau Kristen, Buddha dan Hindu juga tidak boleh dominan. Jawa tidak boleh dominan, Madura, Batak, Mandar, Bugis dan lain-lain juga tidak boleh dominan dalam menentukan hak politiknya. Semua berhak atas hak politiknya yang sama secara konstitusional sebagai hasil kesepakatan bersama atas nama bangsa Indonesia.

Konstitusi negara lebih diutamakan untuk mengakomodir hak politik semua anak bangsa dari pada wilayah fikih Individu atau sosial karena Indonesia bukan Negara Islam yang diklaim hanya milik umat Islam. Mengotot atas hak individu dan sosial, maka yang terjadi adalah benturan antarwarga yang berujung pada kegagalan bernegara atau bahkan ancaman serius bagi wujud individu dan sosial yang mengatasnamakan perorangan dan kelompok tertentu itu.

Begitu juga dalam ruang lingkup fikih peradaban yang lebih mengakomodir semua umat manusia yang berbangsa-bangsa. Misalnya, Saudi Arabia harus menghormati kedaulatan Suriah, Irak dan Yaman yang merdeka dalam menentukan arah politiknya. Begitu juga negara-negara yang lainnya demi kedamaian keamanan regional dan dunia, maka wilayah hukum fikih induvidual sosial dan negara yang sempit harus tergadaikan terlebih dahulu demi keamanan global.

Muhammad Shodiq

Mahasiswa Doktoral Ilmu Tafsir Al Quran di Institut Ilmu Al Quran Jakarta, aktif mengajar di salah satu perguruan tinggi filsafat Islam, hobi membaca, menulis dan berdiskusi teologi agama-agama, sosio politik.

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016