73688.jpg
Foto: commons.wikimedia.org
Perempuan · 5 menit baca

Mendudukkan Ulang Emansipasi Wanita


Ibu Kartini atau lebih tepatnya Raden Ajeng Kartini merupakan seorang pahlawan yang dijuluki Pahlawan Emansipasi Wanita. Emansipasi wanita sendiri secara sederhana diartikan sebagai proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju, serta usaha untuk mendapatkan hak politik, pendidikan maupun persamaan derajat.

Perjuangan Kartini dilatarbelakangi kehidupan para wanita pada zamannya yang pada umumnya hanya menjalankan kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Apa yang dikerjakan ibu rumah tangga pada waktu itu juga terbatas pada tugas menjalankan fungsi sebagai istri, mengasuh anak, mengurus dapur, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Kartini melihat para wanita pada waktu itu tidak memiliki hak dan kebebasan sama dengan kaum lelaki mengenyam pendidikan tinggi.

Dalam kondisi seperti itu Kartini juga melihat adanya kesenjangan intelektual di antara suami istri dalam hal pendidikan. Padahal untuk bisa membentuk keluarga yang baik, terutama dalam mendidik anak, selain diperlukan seorang ayah yang berpendidikan tinggi, juga diperlukan seorang  ibu yang  juga berpendidikan tinggi.

Berkat kerja kerasnya  Sekolah Wanita yang dinamai Sekolah Kartini akhirnya didirikan  di Semarang pada 1912 oleh Yayasan Kartini.Lalu menyebar ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Berkat jasanya maka setiap 21 April diperingati sebagai “Hari Kartini”.

Kartini Masa Kini

Berkat perjuangan Ibu Kartini wanita di era sekarang bisa merasakan dampak yang sangat signifikan. Wanita masa kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Wanita telah mampu mensejajarkan diri dengan laki-laki. Bahkan tak jarang kedudukan wanita justru lebih tinggi dari laki-laki, semisal dalam bidang pekerjaan.

Seperti yang kita lihat kemajuan di berbagai bidang telah dialami kaum wanita. Para wanita mulai eksis di berbagai bidang pekerjaan atau jabatan yang dulu hanya diduduki oleh kaum lelaki sudah banyak yang diduduki oleh kaum wanita. Berbagai pekerjaan atau jabatan mulai dari pegawai negeri / swasta, pilot, pengacara, notaris, dokter, direktur, menteri, olahragawan, polisi, pengusaha, bahkan sampai jabatan presiden sudah banyak diperankan oleh wanita Indonesia.

Lalu di bidang politik kaum wanita juga sudah diakui eksistensinya. Bukti nyata dari hal tersebut dapat kita lihat dari sudah dilibatkannya wanita dalam Pemilu/Pilkada. Bahkan kini telah muncul Pasal 65 ayat 1 UU (Undang-Undang)  Nomor 12 Tahun 18 Februari 2003 yang berbunyi:

“Setiap partai politik peserta pemilu dapat mengajukan calon anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) provinsi dan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) kabupaten/kota untuk setiap daerah pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30%.”

Keberadaan undang-undang ini telah membuka peluang bagi perempuan untuk berkiprah di bidang politik.

Di bidang ekonomi, tidak sedikit perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga atau membantu suami bekerja. Bahkan, ada beberapa perempuan yang mengerjakan pekerjaan yang biasanya diidentikkan dengan laki-laki seperti sebagai supir bus, tukang becak, tukang ojek, maupun tukang parkir. Hal ini terlihat pada Perusahaan Transjakarta Busway yang memiliki banyak pengemudi perempuan maupun tukang ojek di salah satu pangkalan becak di Kampus USU.

Dalam bidang sosial, perempuan yang dulu lekat dengan stigma kasur, sumur, dan dapur sekarang telah mampu bangkit dan menggeser stigma kasar tersebut. Bahkan, dalam bidang sosial ini kaum perempuan telah mendapat perhatian dan jaminan khusus dari negara dari berbagai eksploitasi dan pelecehan. Kaum perempuan telah dilindungi oleh UU (Undang-Undang) pornografi dan pornoaksi yang sempat menyita perhatian khalayak. Telah dibentuk pula Kementerian Pemberdayaan Perempuan.

Dan kini berkat jasa Ibu Kartini banyak tokoh wanita nan berprestasi bermunculan mulai dari Susi Susanti (mantan juara bulutangkis dunia), Megawati Soekarnoputri ( Presiden Ke-5 RI), Tri Risma (wali kota Surabaya) dan kini yang paling diidolakan dan dielukan masyarakat yaitu Menteri KKP, Susi Pudjiastuti.

Mereka adalah orang-orang yang telah mampu memaknai perjuangan Ibu Kartini dengan membekali diri dengan keahlian, pengetahuan, dan wawasan berfikir yang luas sehingga mereka mendapat posisi atau peran dan hak yang sama dengan laki-laki di bidang yang digelutinya.

Emansipasi Negatif

Emansipasi ada dua, pertama emansipasi positif seperti yang telah saya paparkan diatas dan kedua emansipasi negatif. Emansipasi negatif muncul akibat kesalahpahaman atau akibat sesat pikir dalam memaknai emansipasi yang digagas Kartini. Emansipasi yang notabene digagas untuk menciptakan kesetaraan gender dalam artian kesetaraan hak dalam berbagai aspek kehidupan kini banyak disalahartikan bahkan disalahgunakan.

Banyak wanita di era modern ini memaknai emansipasi sebagai pemberontakan, perlawanan, persaingan, kebebasan tanpa batas bahkan menghilangkang kodratnya sebagai wanita dan menyamakan diri secara gamblang dengan laki-laki. Bahkan dimaknai sebagai peniadaan peran laki-laki.

Cara berpikir demikian tentunya sangatlah keliru. Emansipasi memang adalah bentuk kebebasan kaum wanita namun kebebasan juga ada batasnya.Ibarat demokrasi dan sistem liberalisme yang bebas namun terbatas, begitu pula dengan emansipasi.

Akibat sesat pikir ini berbagai fenomena yang sangat mencoreng spirit emansipasi Kartini bermunculan dalam masyarakat. Banyak kaum wanita yang terjabak dalam seks bebas, penyalahgunaan narkoba, pelacuran, merokok, terlibat dalam geng motor, premanisme, mabuk-mabukan, dan perbuatan lainnya yang harusnya tidak dilakukan. Ada pula wanita yang demi mendapatkan suatu jabatan atau pekerjaan tertentu menggunakan tubuhnya.

Fenomena tersebut tentunya sama sekali tidak mencerminkan adanya upaya mengangkat martabat wanita dan sebaliknya malah merendahkan harkat dan martabat para wanita.

Menjadi Subjek Pembangunan

Emansipasi yang Kartini maksud adalah adanya upaya oleh wanita untuk mengambil peran dalam pembangunan bangsa dan negara. Wanita harus meningkatkan partisipasinya dalam pembangunan ekonomi, sosial, politik dan bidang lainnya yang bersifat membangun bangsa ini. Sudah saatnya wanita menjadi pelaku pembangunan bukan penonton.

Wanita harus menjadi subjek pembangunan baik secara mikro yaitu dalam keluarga maupun secara mikro yaitu dalam tanggung jawabnya memajukan kehidupan bangsa dan negara, lewat profesi yang diembannya. Sudah saatnya wanita “Sang Kartini Masa Kini” menjalankan perannya sebagai pelaku emansipasi dengan memberikan sumbangsihnya demi menciptakan bangsa yang maju dan bermartabat.

Namun dalam implementasinya bukan berarti wanita harus melupakan tanggungjawabnya sebagai wanita. Kartini tidak pernah mengajarkan bahwa dalam kebebasannya wanita meninggalkan kewajibannya. Karena beliau adalah pengagum keseimbangan (kesetaraan).

Oleh karena itu wanita harus tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu dalam keluarganya. Karena sebagai penerus emansipasi, wanita harus pula menanamkan nilai-nilai emansipasi kapada anak-anaknya sehingga eksistensi emansipasi terus berlanjut.

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa output dari emansipasi adalah untuk menghadirkan rasa saling menghormati antara laki-laki dan perempuan di mana perempuan dan laki-laki bisa menjalin hubungan yang bersifat partnership, bukan saling menguasai. Mari kita mendudukkan kembali semangat emansipasi Kartini dalam kehidupan kita untuk membangun bangsa yang lebih baik.

Selamat Hari Penyetaraan Gender.