28584Anak Anak.jpg.jpg
https://goo.gl/ee42vw
Pendidikan · 6 menit baca

Mendidik Anak-Anak Pembawa Damai
Cara Memerangi Konflik

Dua puluh empat tahun yang lalu,kami sekeluarga pindah ke sebuah desa. Kami menjadi kaum minoritas di sana, karena kamilah satu-satunya keluarga yang beragama Kristen.

Selama lima belas tahun kami tinggal di sana, banyak hal yang terjadi bahkan beberapa hal tidak mengenakkan dan menyedihkan dialami oleh keluarga kami. Ketika anda membaca ‘hal tidak mengenakan dan menyedihkan’, apa yang muncul di benak anda? 

Apakah anda membayangkan diskriminasi dan konflik yang dialami oleh kami sekeluarga? Jika itu yang anda bayangkan, maka anda salah.

Hal-hal yang tidak mengenakkan dan menyedihkan adalah saat ketika orangtua saya mengalami patah tangan dan kakak saya harus menjalani operasi usus buntu. Keluarga kami memang hidup dengan bahagia di sana. Kami juga memiliki banyak teman di sana.

Akan tetapi, konflik dan diskriminasi itu bukan hanya isapan jempol. Konflik nyata dan terjadi di negara kita. Berbagai macam konflik terjadi mulai dari orang tua dengan anak, antartetangga, antardesa, antarsuku,antar pemeluk agama, dan antar warga negara Indonesia.

Konflik ini terjadi karena kita mengabaikan hal-hal yang semestinya bisa kita selesaikan atau mempermasalahkan hal-hal yang tidak seharusnya kita permasalahkan.

Pilihan gubernur, agama, ras, suku, golongan, kepentingan politik, dan berbagai hal lainnya menjadi sumber pertentangan di antara kita.Masih segar dalam ingatan kita ketika Pilkada DKI.

Begitu banyak konflik yang terjadi karena perbedaan pilihan gubernur. Hal sederhana yang berkembang menjadi konflik atas nama agama. Kakak adik yang semula akrab menjadi bertengkar dan tidak lagi berhubungan hanya karena berbeda pilihan. 

Pada saat ini situasi memang mendorong banyak orang untuk bereaksi spontan tanpa logika. Kita lihat sendiri bagaimana orang yang dituduh mencuri speaker tewas dihakimi masa. Hal miris dari konflik yang terjadi adalah sebagian besar dari pelaku konflik kurang atau bahkan tidak tahu duduk permasalahan yang terjadi.

Hal ini diperparah dengan banyaknya berita atau informasi palsu yang dengan mudahnya menyulut emosi dan memancing reaksi orang secara spontan. Sederhananya insting manusia purba kita terpancing keluar.

Manusia purba yang menggunakan kekuatan untuk menyelesaikan semua masalah. Logika dan akal budi kita sebagai manusia modern mendadak hilang dan tidak bisa digunakan.

Hal ini dapat dilihat dengan ditetapkannya kata “post-truth” yang ditetapkan oleh kamus Oxford sebagai kata internasional tahun 2016. kata “post-truth” dipilih sebagai kata yang menggambarkan keadaan pada tahun 2016. “post-truth” sendiri berarti keadaan dimana pendapat publik lebih banyak dibentuk oleh emosi dan pendapat pribadi dibandingkan dengan fakta objektif (Foster 2016).

Beberapa dari anda juga mungkin pernah mengalaminya. Contoh sederhananya adalah ketika anda membaca paragraf awal tulisan ini. Anda mungkin sudah mempunyai gambaran negatif tentang bagaimana kehidupan keluarga saya sebagai kaum minoritas atau anda pernah membaca berbagai cerita hoax dan sempat mempercayainya sebagai kebenaran.

Memang konflik itu normal dan kita tidak bisa menentukan konflik apa yang akan muncul dalam hidup kita. Akan tetapi, kita bisa menentukan reaksi kita terhadap konflik.

Reaksi kita menentukan apakah mereka akan menciptakan hubungan baru atau alienasi, apakah kita akan bergerak kepada keadilan dan hubungan baik atau kepada penindasan,apakah mereka akan membawa kita kepada penemuan akan kebenaran baru atau kekakuan dan kesempitan berpikir (Schrock-Shenk dan Ressler 1999).

Penyelesaian konflik membutuhkan lebih dari sekedar komitmen individual untuk mencari kedamaian dengan pihak lain. Hal ini juga membutuhkan kelompok yang menghormati kelompok lain dan bersedia menyesuaikan aturan, pola, dan organisasi mereka untuk menciptakan ruang bagi yang lain. Kedamaian tidak dapat dicapai tanpa transformasi budaya yang ada di sekeliling kita (Schrock-Shenk dan Ressler 1999).

Mengapa keluarga kami dapat hidup berdampingan dengan damai bersama para penduduk desa? Sedangkan di banyak tempat terjadi konflik berbasiskan agama? Hal ini dimungkinkan karena kami saling mau menerima dan yang paling penting adalah pendidikan mengenai toleransi sejak dini dari orang tua saya. Beliau selalu mengajarkan untuk siap membantu, menolong, dan berteman dengan siapa saja.

Saya ingat dengan jelas ketika saya baru berumur sekitar enam atau tujuh tahun, Bapak saya sering kali mengundang Kang Usep seorang penghuni pesantren yang senang sekali mendebat kepercayaan kami.

Pada mulanya saya tidak mengerti apa maksud dari orang tua saya mengundangnya kerumah, mengajak berdiskusi, bahkan makan bersama. Setiap kali ia datang, saya selalu berkata “Suruh dia cepat pulang Pa!”.

Kang Usep ini memiliki seekor monyet peliharaan yang selalu ia bawa kemana-mana. Pernah satu kali ketika ia berkunjung adik perempuan saya dicakar oleh monyet itu.

Saya mengambil pisau dapur untuk memotong monyet itu. Saya tidak ingat dengan jelas apa yang dikatakan oleh ayah saya, tetapi ia mencegah saya dan kemudian mengajak Kang Usep makan siang seperti tidak terjadi apa-apa. Hal ini tidak dapat saya pahami.

Saya juga mengingat dengan jelas ketika saya berumur empat atau lima tahun bapak saya beberapa kali memberi makanan, minuman, dan pakaian kepada orang gila yang lewat di depan rumah kami. Hal ini tidak bisa masuk di akal saya yang masih kecil. Saya pun hanya berkata “Jangan dikasih makan lagi Pa, kalau nanti malam dia minta tidur di rumah, gimana?”.

Hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang tua saya sangat membekas dan terus saya ingat. Sekarang saya memiliki begitu banyak teman dari berbagai tempat, suku, agama, dan ras. Saya memiliki teman yang merupakan seorang mantan HTI, ada juga anggota NU dan Banser, ada juga teman-teman yang penganut kepercayaan Sunda Wiwitan dan Bahai. 

Saya menyadari bahwa saya bukan siapa-siapa. Saya hanya salah seorang dari dua ratus lima puluh juta warga negara Indonesia. Saya hanya seorang yang memimpikan perdamaian dan hubungan yang baik dengan semua orang.

Negara ini terlalu besar untuk saya tangani, tetapi jika semua orang sadar akan perannya sebagai warga Indonesia dan mulai mendidik generasi muda dari sekarang serta memperbaiki dirinya sendiri maka perdamaian bukan hanya sekedar angan-angan.

Dalam mencegah dan menghilangkan konflik dibutuhkan peran dari warga negara, para pemimpin negara, dan bahkan ketika keadaan sudah parah kita akan membutuhkan bantuan internasional. Hal paling realistis yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi saat ini adalah menjadi pembawa damai dan menjadikan generasi penerus kita juga menjadi pembawa damai.

Pendidikan anak sejak dini sangat penting kita lakukan untuk mencegah konflik di negara ini. Karena hal ini yang bisa kita lakukan secara realistis mengingat peran kita sebagai warga negara Indonesia dan mungkin sebagai orangtua, paman, tante, kakak, atau senior.

Mendidik anak sehingga mereka menjadi orang dewasa yang mempedulikan kesejahteraan orang lain, yang merasakan empati dan tanggung jawab akan kesejahteraan orang lain, dan yang peduli untuk menjangkau orang di luar kelompok mereka akan membuat konflik antar kelompok berkurang (Staub 2011).

Anak-anak bisa disosialisasikan untuk menjadi orang yang mengembangkan respons konstruktif terhadap kondisi sosial yang sulit atau konflik, dan tidak mengikuti evolusi yang mengarah kepada kekerasan.

Pengalaman Pendidikan di sekolah dan rumah bisa mengembangkan nilai moral dan kepedulian. Nilai moral merupakan prinsip yang ia pegang, seperti pentingnya nyawa manusia dan keadilan, atau kebaikan untuk semua orang. Peduli merupakan perasaan terhubung dan empati atau simpati kepada orang lain.

Kemampuan untuk menggunakan penilaiannya sendiri dan untuk memikirkan masalah hidup yang rumit dengan cara yang beragam merupakan salah satu aspek sosial penting untuk diajarkan kepada anak-anak. Begitu juga dengan moralitas.

Pendidikan untuk membantu mengembangkan anak dengan kepribadian ini harus bersifat emosional dan langsung, bukan hanya teori. Pendidikan ini harus mengikutsertakan pengalaman pribadi dalam mendapatkan perhatian dan arahan yang mengembangkan kepedulian terhadap orang lain (Staub 2011).

Saya mungkin sudah lupa dengan berbagai teori yang diajarkan di sekolah dan di rumah, tapi satu hal yang tertanam lekat di hati saya, yaitu kepedulian dan toleransi yang ditunjukan oleh orang tua saya.

Hampir dua puluh tahun sudah berlalu dan saya masih ingat dengan jelas kejadiannya seperti baru kemarin. Bagaimana mereka dalam kekurangannya selalu berusaha membantu orang lain dan juga membangun hubungan dengan orang sekitar.

Beberapa kali kedua orangtua saya membawa tetangga yang sakit kepada dokter kenalan mereka. Mereka membawa orang sakit itu seperti hal yang biasa saja, padahal kami berbeda agama, suku, dan agama. Bahkan pada saat itu kami dalam keadaan yang tidak berlebihan, tetapi orangtua saya tetap membantu orang-orang sakit.

Tindakan-tindakan nyata seperti inilah yang bisa menyentuh hati orang-orang. Tindakan nyata seperti inilah yang perlu kita tunjukan dan ajarkan kepada anak-anak generasi penerus bangsa kita,sehingga mereka pada suatu hari nanti bisa melakukan hal-hal yang lebih lagi.

Menghilangkan konflik dan membawa perdamaian di tengah perbedaan yang banyak merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai keadaan dimana suku, agama, dan ras bukan lagi menjadi masalah di antara kita. Akan tetapi semua itu harus dimulai dari sekarang dan oleh kita bersama dengan anak-anak muda penerus bangsa.

 #LombaEsaiKonflik