91639.jpg
Hukum · 6 menit baca

Meminimalisir Tindakan Main Hakim Sendiri

Ada banyak perilaku-perilaku yang seyogiyanya tidak pantas dilakukan oleh kemanusiaan kita. Seperti tindakan main hakim sendiri. Seakan-akan rasa kemanusiaan kita sudah digilas oleh rasa ketidakpedulian akan sesama. Seakan-akan punya prinsip lakukan dulu baru pikir kemudian. Bertindak dulu, akibatnya nanti kemudian.

Seperti kasus penganiayaan plus pembakaran korban tuduhan pencurian ampli mesjid baru-baru ini di Bekasi. Sekarang sudah ditetapkan lima tersangka, dan satu yang paling sadis tindakannya. Entah direncanakan sebelumnya atau tidak, yang pasti dia sudah bawa bensin dalam kantungan, kemudian langsung diguyur ke korban tersebut. Dan langsung disulut dengan api.

Mengakibatkan si bapak tersebut mati dengan meninggalkan istri dan anaknya yang ada di dalam kandungan. Si istri tidak rela, kok tega-teganya melakukan perbuatan tersebut. Seandainyapun terbukti bersalah mencuri, kan tidak perlu bakar-membakar.

Terus kalau kita perhatikan, tidak sebanding hukuman yang ditimpakan ke si korban. Antara ampli mesjid dengan  jiwa manusia. Tapi karena sudah disulut emosi yang sangat berlebihan, akhirnya bertindak diluar skenario kemanusian yang sebenarnya. Sepertinya kita sudah kehilangan kasih dan cinta diantara sesama kita.

Merasa menjadi hakim yang benar, ketika bertindak dengan memukuli, meninju, menendang, meludahi, hingga membakar. Seakan-akan merasa terpuaskan jiwa ganas yang sudah lama mendekam di dalam batin. Padahal itu bukan ranahnya untuk bisa memberikan hukuman yang setimpal.

Disamping kejadian tersebut, ternyata sudah banyak kejahatan yang terjadi diluar nalar kemanusiaan kita. Memang sih kalau masih dalam ranah kemanusiaan kita, kejahatan tidak akan pernah muncul. Sebab masih bisa dikelola oleh jiwa manusia itu sendiri.

Seperti beberapa kasus berikut, yakni kasus pembunuhan yang terjadi kepada Tukang Pajak di Nias yang dilakukan oleh si wajib pajak, yang sebenarnya sudah menjadi kewajibannya dalam membayar pajak. Kemudian juga seperti kasus pembunuhan oleh si pemilik sapi, dimana sapinya hilang dan menuduh orang yang sedang memotong sapi waktu itu, dimana kejadiannya terjadi di NTT setahun yang lalu. Yang seharusnya si bapak tanya dulu sapi siapa itu, bukan langsung main hajar saja.  Dan banyak kasus-kasus lainnya.

Yang juga mungkin sepele, tapi perlu diperhatikan dengan seksama. Yakni kasus yang  baru terjadi dan viral. Pemukulan oleh oknum TNI kepada seorang polantas di Riau. Memang si Oknum tersebut sudah diproses dan diamankan oleh pihak TNI. Tapi aneh, ketika sudah didalam penjara, tangan dan kakipun masih diborgol. Pengamanan berlapis dilakukan. Kok sampai sebegitunya yah tindakan untuk pengamanannya.

Teman-temannya mengakui bahwa dia akhir-akhir ini melakukan tindakan-tindakan aneh. Ketika rekan-rekannya memakai baju dinas TNI, eh dianya malah memakai baju preman datang ke kantor. Kemudian ucapan-ucapannya selalu kasar, dan wajahnya tampak tegang terus, seperti mau memakan orang saja.

Tapi kalau aku melihat video aksinya, sebenarnya tidaklah sebegitu parahnya perlakuannya kepada Bapak Polantas tersebut. Memukul helm kemudian menendang motor dan adu mulut terus melanjutkan perjalanan. Tapi untungnya si Bapak Polisi tersebut tidak melakukan aksi yang sama, sehingga tidak terjadi perkelahian lebih lanjut. Si bapak polisi tampak begitu bisa menguasai dirinya untuk tidak termakan oleh perbuatan si oknum TNI tersebut.

Aku tidak berani beropini macam-macam mengapa dan apa penyebab terjadinya perilaku tersebut. Mari kita serahkan semuanya kepada pihak TNI maupun Polri dalam penyelesaiannya.

Untuk memberikan hukuman yang sepadan kepadanya, dibutuhkan olah TKP yang lebih lengkap dan matang, serta menanyakan saksi-saksi yang sedang hadir pada saat itu. Juga pasti membutuhkan analisa kedokteran yang lebih sahih untuk menentukan bahwa dia sedang sakit jiwa atau tidak. Memang itu semua membutuhkan waktu dan proses yang lumayan lama, kemudian baru bisa memutuskan konsekuensi hukum yang akan diterimanya kelak.

Pertanyaannya yang muncul kemudian, apakah main hakim langsung memang diperlukan? Melihat semakin banyaknya kejahatan yang sedang marak terjadi.  Apakah memang benar tindakan main hakim sendiri bisa memberikan rasa ’kapok’ kepada si pelaku kejahatan.

Atau sebaliknya, yang penting si pelaku kejahatan tersebut tertangkap dulu, kemudian menyerahkannya kepada yang berwajib. Manakah tindakan yang lebih mulia untuk kita kerjakan. Hajar dulu si pelaku sampai babak belur, kemudian menyerahkannya kepada aparat, atau tangkap saja kemudian serahkan kepada yang berwajib.

Saya kira yang lebih elok dan manusiawi yang bisa kita kerjakan sebenarnya adalah yang kedua. Tangkap saja sipelaku kemudian menyerahkannya kepada yang berwajib.

Kemudian muncul lagi pertanyaan, kenapa kejahatan kriminal kok bisa ada dan semakin massif terjadi akhir-akhir ini. Kejahatan yang bahkan sampai mau menghilangkan nyawa sesama kita.  

Tidak bisa kita pungkiri, kita hidup dan tinggal dikeadaan yang serba sulit dan menyakitkan. Dan kalau kita teliti lebih dalam, selain faktor dendam, benci, dan iri hati, serta tamak, ternyata faktor ekonomi juga menjadi penunjang semakin suburnya tindak kejahatan yang dilakukan. Alih-alih untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, akhirnya dia rela untuk mencuri. Hanya untuk bisa mendapatkan sesuap makanan, akhirnya jalan pintas dilaluinya supaya bisa menenangkan perut yang sejengkal ini yang terus menerus meronta.

Bagaimana kita bisa menyikapi tindak kejahatan yang ternyata sedang terjadi dimuka kita sendiri. Ketika ada orang berteriak, “maling..maling!!!”, atau “tolong...tolong..!!” Memang dengan kondisi tersebut kita akan bereaksi dengan cepat untuk segera menolong orang yang minta tolong tersebut. Kita berusaha untuk secepatnya menangkap si pelaku tersebut bersama-sama dengan seluruh masyarakat yang kebetulan sedang ada disitu.

Dan ketika si pelaku tertangkap, bagaimana reaksi kita yang muncul pertama. Apakah memukul, menghajar ataupun menganiya si pelaku merupakan naluri pertama kita yang muncul. Kemudian ketika orang yang disamping kita sudah mulai bertindak menghajar dan main hakim sendiri, apakah  kitapun akhirnya terimbas untuk meniru gerakannya dan melakukan hal yang sama. Bahkan  kemungkinan bisa melakukan tindakan yang lebih sadis lagi, yaitu dengan membakar ataupun yang sejenisnya.

Hal-hal itupun pasti akan terjadi dan sebagian besar akan dilakukan oleh masyarakat secara bersama-sama dan spontan. Bagaimana kita mengubah paradigma kita yang mungkin bisa dimasukkan dalam kategori barbar dan sadis tersebut.

Mungkin hal yang bisa kita lakukan adalah dengan memunculkan rasa kasih yang lebih kepada sesama kita manusia. Seperti ungkapan yang berikut, Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Pernah suatu peristiwa terjadi dikehidupan sejarah manusia. Yakni ketika ada seorang yang tertangkap tangan melakukan perbuatan zinah dan akhirnnya diarak-arak dan dihadapkan ke Yesus. Para  imam melakukan itu, untuk bisa menguji dan menyalahkannya. Tapi Yesus tidak begitu menggubris hal itu dan malah mengeluarkan statement, “Barangsiapa yang tidak pernah melakukan dosa hendaklah dia yang pertama melempari si perempuan itu.” Kemudian tidak ada satu orangpun yang berani untuk melemparinya dengan batu dan malah meninggalkan si perempuan zinah itu.

Perlunya tindakan kolektif tersebut untuk dievaluasi secara bersama-sama. Perbuatan main hakim sendiri, dan bahkan bertindak diluar kewajaran kita sebagai manusia, sebenarnya tidak perlu terjadi. Asal kita sudah bisa memiliki rasa kasih yang dalam kepada sesama. Ketika kita sudah bisa memiliki kasih yang murni, niscaya pemikiran jahat sekalipun mungkin tidak akan terlintas dikepala kita. Sebab bahasa kasih itu universal, bukan hanya dimiliki oleh golongan tertentu.

Mempelajari agama kita dengan baik dan benar itu juga perlu untuk dilakukan. Tidak mudah terprovokasi dengan ajaran-ajaran kebencian, permusuhan, bahkan sampai bunuh membunuh, dengan orang yang berbeda paham atau agama dengan kita. Mari kita pelajari kitab suci kita masing-masing, dan coba merenungkan kekayaan yang ada didalamnya serta kebenaran yang mungkin bisa kita terapkan dalam kehidupan kita masing-masing.

Memperhatikan hidup orang-orang yang mengajarkan kebenaran kitab suci itu juga penting. Apabila hidupnya sehari-hari berbarengan sama dengan apa yang diajarkannya, untuk berbuat baik, itulah yang patut kita dengar, dan menghidupi pola kehidupannya. Sebab itu menjadi contoh teladan yang baik untuk bisa kita tiru dalam kehidupan kita sehari-hari.

Oleh karena itu, diakhir tulisan saya ini, mari kita bersedia untuk mengelola emosi kita yang berlebihan. Tidak terlalu reaktif terhadap segala kejadian yang ada disekeliling kita. Mari memberikan sikap dan tindakan porsi yang wajar, meskipun tindak kejahatan tersebut sedang terjadi di depan mata kita.  Ketika kita berusaha untuk melumpuhkan si pelaku, bukan berarti kita berhak untuk lebih dari itu. Melainkan dengan sigap dan tenang untuk membawanya ke pihak yang berwajib.

Alangkah indahnya negeri kita, bila rasa  kemanusiaan itu yang lebih dominan kita miliki. Apalagi rasa tersebut ditambah dengan sikap saling mengasihi, dipastikan kejahatan tidak akan terjadi lagi dibumi Indonesia ini. Penjara-penjara kita semakin berkurang penghuninya dan tidak perlu penambahan sel-sel penjara. Dan kejadian yang pernah terjadi di Belanda, akan terjadi di Indonesia. Dimana Pemerintah Belanda akhirnya menutup banyak penjara-penjara di negerinya karena sudah tidak ada lagi penjahat yang perlu dimasukkan ke tahanan.