download_25_0.jpg
Media · 2 menit baca

Memberantas Kebahlulan di Era Digital
Resolusi 2017

Banyak peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2016. Saya yakin dimana-mana sudah membuat rekap peristiwa yang terjadi selama tahun 2016. Karena sudah banyak, saya jadi malas untuk melakukan hal serupa. Begitu banyaknya peristiwa yang terjadi sehingga kita bisa mengkelompokannya sendiri.

Di Indonesia sendiri juga ada dan beragam. Mulai dari Berburu Pokemon, Artis Youtube dipanggil KPAI, Aksi Doa Bersama di Monas hingga yang belum lama terjadi adalah "Om Telolet Om" serta duit baru yang dikeluarkan BI. Dari beberapa contoh yang saya sebutkan tadi, ternyata masih ada hal yang dari dulu sampai sekarang masih saja dibahas. Seperti sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang gak tau kapan selesainya. 

Semua orang pasti sudah tahu, jika kasus yang berkaitan atau sengaja diserempet dengan agama sampai sekarang belum selesai. Mulai dari beberapa tahun lalu, orang meributkan perayaan Valentine. Setelah itu beberapa kelompok meributkan mengucapkan Selamat Natal dan pemakaian atribut natal. Meniup terompet pada malam tahun baru yang ditafsir adalah kegiatan kaum Yahudi. Dan yang gak kalah menterang adalah pernyataan dari kader PKS yang menyebutkan pahlawan 'kafir' dalam uang keluaran terbaru. 

Hal itu sontah membuat penduduk sosial media mengeluarkan berbagai reaksi. Ada yang setuju, tidak setuju bahkan ada yang dengan sengaja membuat sensasi agar diperhatikan banyak orang. Itulah resiko dari negara yang menganut demokrasi. Semua orang bebas menyatakan pendapat.

Demokrasi boleh saja dianut. Namun ya kita juga harus mengupgrade diri terus-terusan. Jangan menjadi orang yang garis keras pada sesuatu. Dikit-dikit teriak kafir, haram, musrik dan tetek bengeknya.Memang kamu siapa kok bisa mgomong seenak jidatmu. Apa karena demokrasi kamu ngomong seenak jidatmu itu? Jika benar itu alasannya mungkin kamu termasuk golongan orang bahlul.

Saya memakai istilah bahlul lantaran saya berhadapan dengan manusia. Kalo saya bilang idiot, nanti jatuhnya penghinaan. Makanya saya memakai kata bahlul. Bahlul sendiri artinya sesat yang diambil dari kata bahlala yang berasal dari bahasa Arab. Mudahnya bahlul menggambarkan orang yang kurang berpikir panjang sehingga sering blunder. Blundernya itu yang membuat dia bahlul.

Bagaimana nggak bahlul kalau dikit-dikit main serempet. Ketika Om Telolet Om muncul di permukaan linimasa dunia. Spekulasi bermunculan.dan bahkan dibuat meme. Di Facebook sendiri ada-ada aja orang yang sengaja mencari terjemanhan dalam bahasa lain. Silahkan saja searching di google kata "Arti Kata Om Telolet Om" 

Wikipedia sendiri yang menajdi sumber jutaan orang juga dipakai menyebarkan kebahlulan. Om Telolet Om sendiri sengaja diplintir ke bahasa yang memiliki arti Saya Yahudi. Saya nggak tau berepa orang yang terkena ilmu sesat ini, apakah jumlahnya sedikit atau banyak. Tetapi yang pasti sudah membuat masyarakat resah, khususnya aktivis-sktivis diluar sana yang ingin memberantas Indonesia dari kebahlulan.

Masa iya istilah yang dipopulerkan anak kecil dari Jawa Tengah bisa-bisanya diplintir ke arah Yahudi. Anak-anak yang pengen mencari bunyi telolet dijalanan mau disamakan dengan Dimas Kanjeng yang menyesatkan orang dengan memakai ayat kitab suci. Bakal beda cerita lagi kalau yang mempopulerkan Om Telolet Om itu Ahok. 

Jika kita pikir orang bahlul hanya orang yang kita pandang sebelah mata. Anggapa itu salah, karena pelaku bahlul terbit hanyalah korban dari provokasi-provokasi orang-orang golongan bahlul. Salah satunya adalah pemuka agama yang sering kita jumpai saat ibadah dan di sosial media. Umumnya orang akan mendengarkan dan melaksanakan apa yang disampaikan oleh pengkotbah.

Tanpa memandang benar salahnya. Bahkan orang yang berpendidikan tinggi bisa saja ngelakuin kok. Mereka bisa saja ngeles karena punya pengetahuan dunia. Namun karena pengetahuan religinya cetek, mereka gampang dibodohi ditambah dengan lingkungan budaya yang kuat. Kalau sudah begitu, kelar hidup lu.

Maka dari itu saya mau membantu Wan Abud yang sudah memulai memberantas kebahlulan lewat layar kaca. Semoga Wan Abud merestui gerakan ini.