82738.jpg
Foto karya Eka Apriliyani
Lingkungan · 3 menit baca

Ekowisata Batu Ampar
Upaya Memanusiakan Semesta

Siang belum mencapai puncaknya di Sungai Kapuas. Perahu motor kami, para peserta Workshop Konservasi Hutan dan Pelestarian Lingkungan di Kalimantan Barat melaju mendekati daratan. Kami bersiap diri.

Daratan yang sedang kami dekati adalah Desa Batu Ampar yang secara administratif terletak di Kabupaten Kubu Raya. Perahu motor mulai mengarah langsung pada deretan rumah panggung kayu di pesisir. Rumah-rumah yang seperti berkaki itu berwarna coklat muda senada. Kaki-kakinya menancap di lahan lumpur. Perahu motor menepi di tangga kayu sederhana.

Pengemudi perahu motor menambatkan tali pada salah satu kaki rumah panggung. Satu persatu, kami melompat ke luar perahu, mendaki tangga, dan menjejakkan kaki di lantai kayu yang lembab.

Desa Batu Ampar adalah sebuah kawasan seluas 57.600 ha. Daerahnya berbukit. Belakangan saya tahu bahwa Batu Ampar menyimpan banyak potensi alam. Masyarakat Batu Ampar—didampingi Komunitas Sampan—mendekati dan mengelola alam di sana sejak empat tahun terakhir. Sejak saat itu pula konsep kelola yang diusung adalah konsep ekowisata.

Ekowisata merupakan pengelolaan ekonomi jangka panjang yang memungkinkan penduduk lokal tidak tergantung pada investor dan perusahaan asing. Tak hanya itu, ekowisata juga sebuah upaya merawat penghidupan berkelanjutan untuk masyarakat lokal, sekaligus konservasi lingkungan. Di Batu Ampar, ketiga hal tersebut berada dalam satu lanskap alam.

Siang itu, di Batu Ampar, kami tak punya waktu banyak dengan kepala desa dan warga untuk bicara mengenai seluruh potensi alam di Batu Ampar. Namun, kami sempat membahas secara detil mengenai potensi madu. Memang, hutan pesisir merupakan ladang subur madu dari berbagai jenis lebah madu—apis, trigona, dan kluluk.

Usai bincang tentang madu, kami mendatangi sebuah pulau di Batu Ampar. Pulau itu adalah tarikan nafas pertama pembangunan rangkaian ekowisata. Ketika perahu motor menepi di pulau itu, kami menginjakkan kaki di sebuah dermaga panjang berkelok.

Di sekitar dermaga, terhampar hutan bakau dan nipah. Kepala Desa Batu Ampar dengan bangga menyatakan bahwa dermaga itu masih akan disempurnakan panjangnya. Tujuannya tak lain supaya dapat mempersembahkan lanskap hutan mangrove dan nipah dengan sempurna.

Beberapa tahun lagi, orang-orang akan berbondong-bondong menjejakkan kaki di atas dermaga itu. Jika kelak tambahan dermaga sudah ada, pengunjung akan silih berganti datang untuk menyaksikan beragam flora dan fauna khas di habitat aslinya. Bekantan, misalnya, oleh masyarakat awam selama ini hanya dikenal melalui selebaran dan billboard Taman Impian Jaya Ancol, bisa dikenal secara langsung. Ekowisata Batu Ampar menjadikan akses mengenalnya jadi lebih mudah.

Selintas kesan, ekowisata hanyalah sejenis tontonan. Seolah masyarakat Batu Ampar adalah sekadar pemandu pengunjung yang datang dan ingin tahu tentang hasil bumi yang dikelola di desa mereka. Dalam kesan yang demikian, masyarakat lokal pun kembali jadi terbelakang. Mereka teralienasi dari lingkungannya sendiri dengan hanya sekadar jadi “pembantu” para pengunjung.

Sesungguhnya yang terjadi, ekowisata adalah jenis pendidikan yang sempurna menurut Prof. Nicolaus Driyarkara dalam filsafat pendidikannya. Pendidikan menurut Prof. Driyarkara merupakan kegiatan sadar untuk memanusiakan manusia muda. Pendidikan adalah aktivitas yang menyentuh akar kehidupan sehingga dapat mengubah dan menentukan hidup manusia.

Dalam strategi ekowisata, warga lokal sesungguhnya berperan sebagai pendidik sekaligus pula anak didik. Niscaya, mereka akan mendapat pengetahuan lebih eksistensial tentang dirinya. Anak-anak yang kami saksikan sedang asik bermain layangan di pinggir laut ketika itu, adalah salah satunya.

Sejak dini, anak-anak sudah terbiasa belajar sikap terbuka para orang tua pada pengunjung yang beragam. Kelamaan, mereka akan paham bahwa pemanusiaan tidak hanya dapat berlangsung pada lanskap alam—flora dan fauna, tetapi juga semesta secara menyeluruh.

Memanusiakan semesta berarti memberi spirit pada mereka yang selama ini sering dijadikan objek. Bentuk konservasi eks-situ seperti kebun binatang, misalnya, seringkali terbukti mengabaikan hak asasi hewan. Seolah, hewan bukan makhluk hidup seperti pula manusia. Mereka dikandangi, dipertontonkan sesuai keinginan manusia. Manusia mengobjekkan dan meniadakan spirit mereka sebagai makhluk hidup.

Berbeda halnya dengan perlakuan para peternak lebah di Batu Ampar. Mereka mulai menggunakan sistem panen lestari. Dalam sistem panen itu, sarang lebah hanya diambil sebagian saja. Tujuannya supaya prosesnya tidak dengan serta merta merusak seluruh ekosistem lebah dalam satu kali panen.

Dengan panen lestari, manusia bisa melihat dirinya dalam kawanan lebah. Sebab manusia tahu betapa pentingnya proses reproduksi makhluk hidup. Hasilnya, dalam setahun, panen madu Apis dapat dilakukan dua kali.

Ekowisata adalah salah satu konsep pendidikan ideal. Di dalamnya terdapat proses humanisasi—tak hanya hominisasi. Humanisasi adalah proses yang membuat manusia bisa meraih perkembangan yang lebih tinggi, seperti tampak dalam kemajuan-kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan. Manusia mulai turun tangan dalam mengangkat alam menjadi alam manusiawi, atau kebudayaan dalam arti luas.

Kalau tak datang ke Desa Batu Ampar, mungkin saya tak akan tergugah. Saya akan menganggap bahwa ekowisata adalah sekadar wisata tontonan belaka. Indonesia butuh banyak tempat seperti Batu Ampar, juga kesadaran mumpuni para penduduknya.

Batu Ampar di tepian Kapuas itu bagai bibit berkualitas. Upaya konservasi lingkungan dengan pendekatan lanskap di Indonesia, adalah tunas pertamanya. Tunas kedua tumbuh dalam kedirian manusia. Kita patut beharap banyak pada Kapuas, pada peradabannya yang makin bermartabat. Semoga.