54671.jpg
Youtube.com/AXJS
Saintek · 3 menit baca

Memaknai Kembali Internet untuk Rakyat

Beberapa waktu yang lalu, sejenak saya bernostalgia dengan memutar iklan sebuah operator selular di Indonesia (sebagai klu, operator ini kini sudah merger dengan salah satu dari top 3 operator selular besar di Indonesia) yang pernah menggaungkan "Internet Untuk Rakyat" sebagai slogan buat memperkenalkan layanan internet mereka yang kebetulan pernah saya coba saat itu. 

Kira-kira sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu.

"Internet untuk Rakyat", mereka definisikan dengan pemakaian internet Rp 2/Kb hingga Rp 3.500, akan diberikan akses internet gratis kemanapun selama seharian. Memang, hanya seharian. Namun, buat saya yang saat itu masih pelajar, tentu akses semacam ini lebih enak daripada berlangganan kuota yang kadang-kadang tak selamanya digunakan akses internetnya.

Namun, mungkin karena satu dan lain hal, saya akhirnya pindah ke operator selular, yang pada saatnya nanti akan menjadi penerima merger dari operator "kerakyatan" ini.

Bisa kebetulan?

Dengan mekanisme akses internet secara gratis ini, sebenarnya tak sepenuhnya benar-benar gratis. Kenapa? Dengan ketentuan hingga Rp 3.500 untuk penggunaan internet, itu berarti operator ini menganggap biaya ini adalah biaya "pengganti". Anggap saja biaya pengganti kuota, di mana rata-rata dengan harga segitu, biasanya masih dihitung kuota harian.

Namun, apakah ini sudah menguntungkan? Rasa-rasanya bisa dikatakan belum. Operator "kerakyatan" ini akhirnya memilih merger, karena berdasarkan informasi dari media massa, operator ini mengalami kerugian finansial.

Harap maklum sih, operator ini pada massanya sering mengeluarkan promo-promo yang sama gencarnya seperti operator lain. Yang paling inovatif, tentu "Internet untuk Rakyat". Namun, mungkin ada alasan lain yang bisa menggambarkan kenapa bisa terjadi.

Sebenarnya apa sih indikator yang mampu menggambarkan definisi sebenarnya dari "Internet untuk Rakyat"? Apakah hanya soal faktor murah dan mahal seperti kasusnya operator selular berwarna merah?  

Internet itu terdiri dari 3 komponen utama, di mana ketiganya harus ada untuk mendukung si internet ini. Pertama, ada perangkat. Kedua, ada jaringan. Ketiga, ada konten. "Internet untuk Rakyat" ini sebenarnya harus juga menyesuaikan diri dengan ketiga komponen ini.  

Pada sisi perangkat, selain mudah digunakan, juga mesti memiliki kualitas yang baik. Jaringan, semestinya bukan hanya soal kewajiban memperluas jaringan, namun juga soal kestabilan dan ketersediaan berbagai jenis dan paket jaringan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tempat penggunanya. 

Konten, bukan hanya menjamin kemudahan aksesibilitas layanan, namun juga user experience yang baik serta menjaga standar etika, persaingan, keamanan dan kualitas.

Wajar kalau harga yang murah itu artinya “merakyat”. Termasuk juga soal internet, dimana “merakyat” dengan harga murah inilah yang justru menghidupi kehidupan perinternetan. 

Tetapi, “merakyat” tentu sebenarnya bisa tanpa mengorbankan kualitas dan persaingan yang sehat. Baik kepada pengguna layanan, pesaing sesama di dunia internet, maupun kepada yang bukan sesamanya di dunia “nyata”.  

Kasus taksi dan ojek online, bukan hanya soal karena keterlambatan melihat perubahan dari taksi, angkot ataupun ojek eksisting (alasan klasik yang sering diulang pengamat marketing), namun juga soal menerabas aturan yang dicoba oleh transportasi jenis ini, dengan berbagai pembelaan termasuk dengan menyalahkan pemerintah. 

Oke, memang pemerintah juga sayangnya terlambat juga memahami perubahan. Seperti kata Pak Rhenald Kasali, "Mereka lebih memilih mengurus Pansus daripada bikin undang-undang. Lebih senang membicarakan threshold daripada masa depan anak-anak muda". Namun, dengan sibuk melakukan pembelaan semacam ini, sebenarnya jangka panjangnya akan berpengaruh kepada kualitas pelayanannya mereka sendiri. 

Menerabas aturan dengan alasan “kekinian”, tanpa menetapkan standar operasional yang baku dan training yang terus menerus serta perbaikan cara-cara komunikasi kepada para mitra pengemudi jika ada masalah, bisa saja menimbulkan ketidakpuasan tersendiri yang akhirnya berpengaruh kepada layanan mereka ke penumpang, yang akhirnya justru menimbulkan keluhan-keluhan tiada akhir.  

Untuk mewujudkan slogan ini, tentu ekosistem dunia internet yang sehat dan regulasi yang luwes serta berkeadilan menjadi kuncinya. Banyak hal yang mesti didobrak oleh birokrasi yang ada sekarang. 

Banyak catatan yang mesti diperbaiki, meskipun bukan berarti semua aturan juga mesti direvisi. Apalagi berusaha "dilabrak" seperti pada kasus taksi dan ojek ini. Maaf pak Rhenald, saya mesti beda pandangan sama bapak kalau soal yang ini, meskipun bapak memuji banyak hal terhadap generasi saya ini.  

Maka, “Internet Untuk Rakyat” sebenarnya justru malah lebih dalam daripada maknanya yang digunakan oleh si operator selular tersebut.