28253Anti-Tank08.jpg.jpg
Ilustrasi
Agama · 4 menit baca

Meletakkan Agama pada Posisi yang Benar

Konflik dan krisis kemanusiaan tampak tidak pernah mereda sepanjang sejarah peradaban manusia. Hanya intensitasnya saja yang naik turun, dan titik konflik yang bergeser dari satu negara ke negara yang lain.

Setelah bertahun - tahun krisis kemanusiaan menimpa Eropa dan Amerika sepanjang perang dunia pertama dan kedua, titik konflik  bergeser ke negara-negara timur tengah, dan sekarang angin konflik bertiup ke selatan menerpa Rohingya dan negara-negara Asia lainnya.

Penyebab konflik dapat bermacam-macam. Tapi sejatinya tidak jauh dari urusan politik kekuasaan yang memainkan unsur suku, ras, agama dan antar golongan. Kita dapat memulainya dari perang dunia pertama dan kedua yang merupakan konflik yang sarat pertentangan ideologi dan politik ras, hingga kasus-kasus teranyar seperti terorisme, konflik timur tengah, dan tragedi kemanusiaan di Rohingya yang sarat akan isu-isu agama.

Dari keempat unsur yang seringkali menjadi isu krusial di atas, agama adalah unsur yang paling memungkinkan untuk dikelola. Tidak lain karena agama memiliki nilai-nilai dan ajaran yang luhur dan universal.

Agama Islam, misalnya, sangat menjunjung tinggi perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan baik sesama muslim maupun sesama manusia. Begitu pun agama-agama lain, terutama agama-agama besar seperti Kristen, Budha, Hindhu, Yahudi, memiliki ajaran-ajaran yang juga senantiasa menjunjung tinggi perdamaian dan kemanusiaan.

Lalu mengapa di antara umat-umat beragama yang sama-sama mencintai perdamaian itu justru saling bertikai dan menumpahkan darah? Palestina contohnya. Satu kota dengan tiga agama seperti dikatakan oleh Karen Amstrong itu, telah menjadi tempat pertikaian tidak berujung antara tiga agama monotheis : Islam, Kristen, dan Yahudi.

Permasalahan mengapa kemudian perbedaan agama seringkali menjadi pemicu konflik, tidak lain karena pemeluk-pemeluknya tidak menjunjung tinggi keterbukaan, sikap saling menghargai, dan juga toleransi. Tiga hal tersebut yang oleh Nurcholis Madjid disebutkan sebagai kunci utama dalam memelihara kemajemukan antar umat beragama.

Menurut penulis, ada empat hal yang perlu dilakukan oleh para pemeluk agama di seluruh dunia agar ketiga sikap tersebut dapat dikembangkan dengan baik, sehingga agama benar-benar dapat menjadi pereda konflik dan krisis kemanusiaan.

Pertama, kita perlu berhenti menganalisis segala isu semata-mata dari kaca mata agama. Sekalipun dua kelompok yang berkonflik memeluk dua agama yang berbeda, bukan berarti bahwa satu agama mengajarkan permusuhan pada agama yang lain.

Krisis kemanusiaan yang terjadi di Rohingya misalnya,  menuntut kita untuk benar-benar jeli dan bijak. Serangan yang dilakukan oleh militer Myanmar di Rakhine State, dan mendapat dukungan dari  Aksin Wirathu yang memprovokasi ummat Budha untuk menyerang umat Muslim Rohingya, bukan serta merta berarti bahwa semua orang Budha memusuhi Islam.

Jika kita berpikir demikian, maka kita sama sekali tidak ada bedanya dengan mengaggap bahwa semua Muslim yang berjenggot adalah teroris. Beruntung, umat Budha di Indonesia tidak benar-benar menjadi korban kemarahan umat Islam pasca rencana pengepungan Borobudur beberapa waktu yang lalu.

Kedua, perlunya digalakkan dialog antar umat beragama. Di tengah banyaknya kelompok-kelompok yang membangkitkan sentimen agama pada kasus Rohingya, beruntung masih ada orang-orang yang secara sadar justru menggalakkan dialog lintas agama.

Pemecahan masalah melalui dialog, tidak hanya dapat membuat kita memandang suatu permasalahan secara holistik, namun juga dapat meredam egosime keagamaan kita yang seringkali menjadi akar permasalahan dalam merawawat kebhinekaan.

Dalam melakukan dialog lintas agama, tentu kita perlu menghindari pembahasaan-pembahasan teologis yang memicu perdebatan. Dialog lebih baik diarahkan kepada tema-tema sentral kemanusiaan, seperti bagaimana memberikan solusi yang terbaik bagi pemecahan konflik dan krisis kemanusiaan yang sedang marak terjadi.

Ketiga, perlunya memahami agama lain secara obyektif dan ilmiah. Di tengah merajalelanya hoax dan ujaran kebencian, pemahaman kita mengenai suatu agama dapat dibelokkan ke arah yang salah. Banyak pihak yang tidak henti-hentinya membangkitkan sentimen dan permusuhan terhadap suatu kelompok agama tertentu.

Hal tersebut harus dilawan dengan mempelajari agama-agama lain secara lebih obyektif sehingga kita tidak tepengaruh oleh justifikasi keagamaan yang dapat mengarah pada konflik dan permusuhan.

Keempat, memperluas pergaulan. Kita sering dengan sangat bangga menyebut bangsa kita sebagai bangsa yang beragam (plural), tidak lain karena hampir seluruh agama-agama besar dunia memiliki pemeluk di Indonesia.

Namun, masing-masing kelompok agama tersebut cenderung hidup di lingkungan yang cukup tersilolir dari kelompok keagamaan lainnya. Kalaupun ada perkampungan yang heterogen, hanya terbatas di daerah-daerah perkotaan dan sebagian kecil pedesaan.

Minimnya interaksi dan pergaulan kita dengan orang yang berbeda agama, dapat memicu berbagai macam fitnah dan ujaran kebencian yang tidak seharusnya. Nahasnya, sekarang justru malah tidak sedikit orang-orang yang gemar membangkitkan sentimen keagamaan dan membatasi diri untuk bergaul dengan orang yang berbeda agama.

Misalkan dengan cara membangun perumahan yang dikhususkan untuk pemeluk agama tertentu, melarang anak-anak bergaul dengan temannya yang berbeda agama, atau batal membaca sebuah buku hanya karena penulisnya menganut agama yang berlainan dengan kita.

Kita perlu menyadari, bahwa tanpa bergaul dalam lingkungan yang beragam, kita sebagai sesama pemeluk agama akan sulit untuk saling mengenal, saling menghargai dan saling bekerja sama. Akhirnya, toleransi dan keberagaman hanya akan menjadi jargon-jargon sosial-politik belaka.

Terakhir, dalam upaya untuk mengatasi konflik dan krisis kemanusiaan yang marak ini, kita perlu selalu merenungkan apakah kita telah benar-benar meletakkan agama kita pada posisi yang benar.

Meletakkan agama pada posisi yng benar artinya adalah beragama dengan sebenar-benarnya dengan memahami dan megamalkan dengan baik nilai-nilai substansial dari agama yang kita anut. Bukan malah menjadikan agama sebagai kedok untuk meraih kedudukan politik kekuasaan, hingga kita lupa akan nilai-nilai substansial yang ada di dalamnya.

Jika agama kita masing-masing memiliki ajaran pokok untuk mencintai keberagaman, persaudaraan, kemanusiaan, dan saling mengasihi, maka apakah kita yang gemar menebar kebencian, permusuhan, dan merendahkan derajat kemanusiaan masih layak disebut sebagai manusia yang beragama?